Skip to main content

Pengertian akan Proses yang Benar

Saya rasa banyak orang akan setuju mendengar bahwa mengikuti Tuhan Yesus adalah kehidupan yang penuh dengan proses. Kalimat ini sebenarnya kurang lengkap. Mengikuti Tuhan Yesus adalah kehidupan yang penuh dengan proses yang SULIT. Bohong jika ada yang mengatakan bahwa menjadi seorang pengikut Kristus akan membuat hidup kita menjadi lebih mudah. Kenyataannya selalu berkebalikan.

Mau buktinya? Saat Tuhan Yesus mengajar tentang dua macam dasar dalam Matius 7:24-27, bukankah jelas bahwa orang yang mendengar dan melakukan Firman Tuhan maupun orang yang lalai dalam hal tersebut sama-sama terkena hujan, banjir, dan angin? Mendengar dan melakukan Firman tidak meluputkan kita akan hal tersebut. Bahkan sekalipun kita tidak membandingkan hidup kita dengan orang lain, apa yang diperintahkan Yesus pun jelas: Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya (Matius 7:13-14).

Dalam pengajarannya, Yesus juga berkata bahwa Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku (Matius 16:24). Manusia adalah makhluk yang selalu ingin membuktikan dirinya, bahkan kebutuhan tertinggi yang dimiliki oleh seorang manusia menurut Abraham Maslow adalah self-actualization. Bertentangan dengan sifat ini, Yesus mengajar kita untuk menyangkal diri kita. Yesus tidak hanya mengajar, namun memberi teladan seperti yang tercatat pada Lukas 22:42, "Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi." Setelahnya? Memikul salib, yang notabene bukanlah sesuatu yang diinginkan siapapun juga. Semua manusia mengejar kebebasan, memikul salib jelas membuat kita menjadi tidak bebas dan perlu menyeret beban salib tersebut kemanapun kita melangkah. Jelas sekali dalam Alkitab bahwa dari sekian banyak janji Tuhan, Ia tidak pernah menjanjikan hidup yang penuh kemudahan, bahkan Rasul Paulus pun jelas menyatakan bahwa Tuhan mengijinkan kita untuk mengalami pencobaan-pencobaan (1 Korintus 10:13). 

Saya percaya bahwa setiap pribadi yang mencari Tuhan untuk mendapatkan kemudahan hidup, pasti akan menjadi kecewa. Menaati apa yang Tuhan inginkan artinya membiarkan diri kita untuk diproses. Bahkan saat kita berhasil berbuah pun proses itu tidak berhenti. Yesus berkata: Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah (Yohanes 15:2). Kata dibersihkan ini dalam bahasa inggris adalah "prune" yaitu kegiatan memotong bagian tertentu pada tanaman untuk menstimulasi peningkatan kualitas buah yang akan dihasilkan selanjutnya. Jika kita adalah ranting tersebut, tentu proses pemotongan ini jauh dari kata nikmat atau nyaman.

Tentu semua ini ada tujuannya. Tuhan tidak pernah melakukan sesuatu tanpa alasan yang tepat. Setiap proses yang kita berhasil lalui membuat valuasi diri kita naik. Prinsip yang sama terjadi pada zat karbon, zat yang paling banyak ada di dunia ini dan nilainya paling rendah diantara mineral lainnya. Jika karbon terekspos dalam tekanan dan suhu panas yang tinggi dalam jangka waktu yang sangat panjang valuasinya akan meningkat berkali-kali lipat sebagai berlian. Sayangnya tidak semua karbon yang ada di lapisan bumi terdalam mampu bertahan melalui proses tersebut, sehingga tidak banyak batu berlian yang bisa ditambang hingga saat ini.

Jadi, jika saat ini kita ada dalam sebuah proses yang panjang, penuh tekanan dan "panas" ada baiknya kita mengalihkan fokus kita untuk dapat bertahan selama mungkin. Semakin lama prosesnya, artinya semakin tinggi valuasi yang kita dapatkan saat proses tersebut selesai nantinya. Tuhan berjanji bahwa proses ini tidak akan mengecewakan! Rasul Paulus berkata dalam Roma 5 : 3-5, Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.

Sama seperti karbon, tidak semua manusia bisa lolos dalam proses ini. Dalam dunia sekuler, setiap proses yang dilakukan oleh manusia dalam pekerjaannya akan butuh diuji dan akhir dari ujian akan menghasilkan bukti uji yang biasanya berbentuk sertifikat atau semacamnya. Dengan prinsip yang sama, proses yang kita lalui dalam Tuhan juga memiliki bukti uji! Apa bukti uji dari proses yang kita lalui? Ayat Roma diatas sudah berkata, tahan uji menimbulkan PENGHARAPAN. Maka jelas bahwa "sertifikat" ujian kita akan proses adalah IMAN! Karena Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita HARAPKAN dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibrani 11:1).

Sekali lagi, Tuhan tidak pernah menjanjikan proses yang mulus sepanjang perjalanan kita. Yang Tuhan janjikan adalah penyertaanNya. Selama kita ada di dalam penyertaanNya, Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum (Yesaya 42:3). Dan ingat, bahwa Hukum yang terutama adalah kasih (Matius 22:37-40). Dan kasih Tuhan akan berpasangan dengan damai sejahtera yang dari Tuhan juga (Filipi 1:2). Semangat dalam setiap proses yang kita alami saat ini, perlombaan ini panjang, namun hasil akhirnya tidak akan mengecewakan. Tuhan memberkati! (CBA)

Comments