Setuju atau tidak setuju, kita sebagai manusia adalah makhluk yang hidup dengan pola. Manusia cenderung lebih nyaman menjalani rutinitas yang sudah terpola dengan baik dalam hidupnya. Terkadang hal ini juga yang menyebabkan manusia berada dalam comfort zone. Saya sendiri berpikir bahwa terlalu lama berada dalam rutinitas tanpa kejelasan bisa membuat kita kehilangan arah dalam hidup. Yang saya maksud dengan rutinitas tanpa kejelasan adalah ketika kita menjalani kebiasaan kita tanpa mengingat atau mengetahui alasan mengapa kita melakukannya. Rutinitas tanpa alasan adalah hal yang membosankan, dan lambat laun kita justru bisa memutuskan untuk tidak lagi melakukan kebiasaan-kebiasaan yang baik karena kita tidak lagi menyadari alasan mengapa kita melakukan hal tersebut.
Lewat pengalaman ini juga saya ingin membagikan sebuah fakta bahwa jika kita membaca Firman Tuhan hanya sebagai sebuah tulisan belaka tanpa merenungkan dan bertanya mengenainya, maka sulit bagi kita untuk mengerti dan merasakan bahwa Tuhan kita itu hidup. Bukankah jelas bahwa Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah (Yohanes 1:1). Dari pengertian bawah Firman melebihi sebuah tulisan belaka juga akhirnya kita dapat bersama-sama mengerti alasan dari tindakan mengangkat tangan saat beribadah. Mengangkat tangan saat di hadapan Tuhan dilakukan bukan karena keharusan teologis berdasarkan apa yang tertulis di Alkitab, atau merupakan sebuah referensi dari apa yang Musa alami dalam peperangan antara bangsa Israel dengan Amalek (Keluaran 17:11) tapi merupakan sebuah ekspresi yang tulus dari hati seseorang yang secara natural ditunjukkan dengan mengangkat tangannya. Ada luapan sukacita atau perasaan yang kuat di hati dalam ekspresi tersebut. Pernah melihat bagaimana beberapa pemain sepakbola berlari dengan tangan terangkat setelah mencetak gol? Atau saat penonton konser mengelu-elukan idolanya yang sedang tampil di depan panggung? Pernah membayangkan saat kita mungkin perlu meminta tolong kepada seseorang untuk mengangkat kita ke tempat yang lebih tinggi?
Ini saatnya kita mendefinisikan ulang berbagai kebiasaan yang selama ini kita lakukan begitu saja. Bisa saja ada banyak alasan penting yang seiring waktu kita lupakan saat kita melakukan kebiasaan tersebut. Saat kita menemukan kembali alasan tersebut, saya percaya bahwa kita akan keluar dari rutinitas kita dan melangkah lebih jauh, lebih kreatif, dan lebih hidup dalam keseharian kita. Tuhan memberkati. (CBA)
Dalam kehidupan sebagai pengikut Kristus, hal yang sama juga berlaku. Contoh yang paling sederhana adalah ketika kita beribadah dan ketika kita berdoa. Saat dalam pujian dan penyembahan, mulai banyak orang yang tidak lagi mengerti mengapa sebagian dari jemaat mengangkat tangannya. Saat berdoa, banyak yang menutup doanya dengan frasa "dalam nama Tuhan Yesus" tanpa mengerti lagi mengapa frasa tersebut "disematkan" dalam doa. Beberapa dari kita merasa sulit membiasakan diri membaca dan merenungkan Firman Tuhan secara rutin karena tidak memiliki alasan yang jelas untuk melakukannya. Ada juga yang berdoa dengan rutinitas berupa monolog laporan dan permintaan kepada Tuhan, karena tidak mengerti alasan doa sebagai komunikasi. Hal ini jika dibiarkan terus maka secara perlahan-lahan akan mengurangi kualitas kehidupan rohani kita. Pada akhirnya roh kita akan kering dan kita tidak menemukan lagi alasan yang benar mengapa kita mencari Tuhan.
Hikmat ini baru saya sadari ketika saya sedang membaca Firman Tuhan dalam injil Yohanes 16. Pada pasal ini, Tuhan Yesus sedang berbicara mengenai kepergianNya kepada para murid-murid-Nya dalam perikop Dukacita yang mendahului kemenangan. Pada ayat 23-28 Tuhan Yesus berkata: Dan pada hari itu kamu tidak akan menanyakan apa-apa kepada-Ku. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku. Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatupun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu. Semuanya ini Kukatakan kepadamu dengan kiasan. Akan tiba saatnya Aku tidak lagi berkata-kata kepadamu dengan kiasan, tetapi terus terang memberitakan Bapa kepadamu. Pada hari itu kamu akan berdoa dalam nama-Ku. Dan tidak Aku katakan kepadamu, bahwa Aku meminta bagimu kepada Bapa, sebab Bapa sendiri mengasihi kamu, karena kamu telah mengasihi Aku dan percaya, bahwa Aku datang dari Allah.
Ayat ini mungkin lebih jelas untuk dimengerti dalam terjemahan The Message:
This is what I want you to do: Ask the Father for whatever is in keeping with the things I’ve revealed to you. Ask in my name, according to my will, and he’ll most certainly give it to you. Your joy will be a river overflowing its banks! I’ve used figures of speech in telling you these things. Soon I’ll drop the figures and tell you about the Father in plain language. Then you can make your requests directly to him in relation to this life I’ve revealed to you. I won’t continue making requests of the Father on your behalf. I won’t need to. Because you’ve gone out on a limb, committed yourselves to love and trust in me, believing I came directly from the Father, the Father loves you directly. First, I left the Father and arrived in the world; now I leave the world and travel to the Father. (John 16:23-28 MSG)Setelah membaca dan merenungkan ayat ini, barulah saya benar-benar sadar mengapa doa kita perlu diakhiri dengan frasa "dalam nama Tuhan Yesus." Bukan supaya doa kita menjadi sempurna, bukan juga supaya doa kita segera Tuhan jawab, namun sebagai sebuah ungkapan iman yang tulus dan kuat dari hati kita bahwa doa kita sudah Tuhan jawab dan sebuah pengertian yang benar bahwa kita hidup dan berkomunikasi dalam lingkaran kasih Tuhan. Dari ayat ini juga saya belajar bagaimana berdoa dengan benar, dimana Yesus mengajarkan: Ask the Father for whatever is in keeping with the things I’ve revealed to you. Maka jelas bahwa setiap kali kita hendak berdoa, kita sebenarnya sudah tahu bahwa doa kita pasti akan Tuhan jawab selama apa yang kita doakan sesuai dengan prinsip-prinsip yang Yesus telah ajarkan.
Pengertian akan doa yang benar akhirnya membawa saya mengerti mengapa saya perlu membaca dan merenungkan Firman Tuhan setiap hari. Karena jika saya tidak tahu dan tidak mengerti dengan jelas akan prinsip-prinsip yang Tuhan sudah ajarkan lewat membaca dan merenungkan Firman tersebut, bagaimana saya tahu apa yang sebenarnya harus saya doakan? Dan ketika saya berdoa tanpa tahu apa yang sebenarnya harus saya doakan, tentu saya tidak akan pernah tahu dengan jelas bagaimana Tuhan menjawab doa saya, bukan? Hal ini senada dengan apa yang disampaikan dalam surat Yakobus 4:3 "Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu."
Lewat pengalaman ini juga saya ingin membagikan sebuah fakta bahwa jika kita membaca Firman Tuhan hanya sebagai sebuah tulisan belaka tanpa merenungkan dan bertanya mengenainya, maka sulit bagi kita untuk mengerti dan merasakan bahwa Tuhan kita itu hidup. Bukankah jelas bahwa Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah (Yohanes 1:1). Dari pengertian bawah Firman melebihi sebuah tulisan belaka juga akhirnya kita dapat bersama-sama mengerti alasan dari tindakan mengangkat tangan saat beribadah. Mengangkat tangan saat di hadapan Tuhan dilakukan bukan karena keharusan teologis berdasarkan apa yang tertulis di Alkitab, atau merupakan sebuah referensi dari apa yang Musa alami dalam peperangan antara bangsa Israel dengan Amalek (Keluaran 17:11) tapi merupakan sebuah ekspresi yang tulus dari hati seseorang yang secara natural ditunjukkan dengan mengangkat tangannya. Ada luapan sukacita atau perasaan yang kuat di hati dalam ekspresi tersebut. Pernah melihat bagaimana beberapa pemain sepakbola berlari dengan tangan terangkat setelah mencetak gol? Atau saat penonton konser mengelu-elukan idolanya yang sedang tampil di depan panggung? Pernah membayangkan saat kita mungkin perlu meminta tolong kepada seseorang untuk mengangkat kita ke tempat yang lebih tinggi?
Ini saatnya kita mendefinisikan ulang berbagai kebiasaan yang selama ini kita lakukan begitu saja. Bisa saja ada banyak alasan penting yang seiring waktu kita lupakan saat kita melakukan kebiasaan tersebut. Saat kita menemukan kembali alasan tersebut, saya percaya bahwa kita akan keluar dari rutinitas kita dan melangkah lebih jauh, lebih kreatif, dan lebih hidup dalam keseharian kita. Tuhan memberkati. (CBA)
Comments