Kita seringkali melihat bahwa seorang adik ingin seperti kakaknya, bahkan banyak sekali kejadian bahwa sang adik bisa melebihi apa yang kakaknya dapat capai. Mengapa hal ini bisa terjadi? Biasanya karena sang adik banyak belajar dari apa yang kakaknya lakukan, mencontohnya dan beradaptasi dengan karakter personal yang dimiliki. Hal ini menjadi pengingat bagi kita yang merupakan anak sulung di dalam keluarga, agar kita bisa memberi contoh yang tepat bagi adik-adik kita. Namun walaupun kita merupakan anak tertua di keluarga, sadarkah kita bahwa kita sebenarnya memiliki seorang kakak sulung sebagai contoh yang nyata juga?
Rasul paulus dalam surat Roma 8:29 berkata: Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.
Dalam suratnya yang lain kepada jemaat di Galatia, pasal 4:5-7 ia berkata: Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak. Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: “ya Abba, ya Bapa!” Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah.
Karena Yesus ditetapkan sebagai yang sulung diantara kita semua, bertapa kita harus bersyukur bahwa kita memiliki teladan yang dekat dalam hidup kita. Seorang kakak tentu akan jauh lebih dekat dibanding orang-orang yang ada diluar lingkaran keluarga kita. Bahkan terkadang ada hal-hal pribadi yang sulit atau tidak dapat dibicarakan secara langsung dengan orang tua, maka pribadi terbaik yang bisa kita datangi tentu adalah seorang kakak. Apalagi kalau kita melakukan kesalahan yang fatal dan takut membuat orang tua kita marah, tentu kita berharap kakak kita bisa menjadi jembatan penengah dan pembela kita agar kita lebih mudah dimaafkan. Yesus sendiri berkata dalam Yohanes 14:6, bahwa "Tidak seorang pun dapat datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku." Bagi saya pribadi sebagai anak sulung dirumah, pengenalan akan hal ini membuat saya menyadari betapa baiknya Bapa kepada kita.
Kita sebagai manusia tentu tidak luput dari dosa, sekudus-kudusnya kita hidup, akan selalu ada celah yang muncul baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Celah-celah inilah yang dipakai Iblis untuk membuat kita merasa tidak layak dan jauh dari Bapa di Sorga. Memang kita tahu pertobatan harus terus menerus dilakukan, tapi ada masa-masanya kita merasa malu dan takut untuk datang ke hadirat Bapa dan mengaku dosa kita, disinilah peran Kristus sebagai kakak sulung kita untuk menjembatani kita kepada Bapa.
Dahulu saya hanya secara dangkal mengerti konsep Allah Bapa, Putera, dan Roh Kudus. Namun konsep Yesus sebagai kakak sulung membuat saya berpikir ulang akan hal ini. Saya menemukan bahwa beberapa teolog juga menggambarkan Roh Kudus selayaknya seorang ibu. Hal ini didasari dari dua ayat alkitab di Kejadian 2:18 bahwa Allah menjadikan seorang penolong bagi Adam dan Yohanes 14:16 dimana Yesus mengatakan bahwa Allah akan memberikan kita seorang penolong. Saya sendiri tentu tidak setuju menyamakan dua pribadi yang jelas-jelas berbeda ini, namun saya mendapat pengertian bahwa Roh Kudus diantara sekian banyak perannya, juga memiliki peranan yang menyerupai seorang ibu, yaitu sebagai penghibur dan penolong. Mengerti akan hal ini membuat cara kita berinteraksi dengan Allah (TriTunggal) menjadi berbeda. Bayangkan, Allah sudah menyediakan diriNya sebagai sebuah keluarga yang (berperan) utuh bagi kita! Tidak ada satupun peran yang terhilang atau terlupakan. Tepatlah kalimat yang menyatakan bahwa Christ is enough for me.
Seperti yang kita bahas di awal bahwa seorang adik bisa banyak belajar dari seorang kakak, sebenarnya sharing ini muncul dari sebuah pertanyaan yang tiba-tiba muncul di kepala saya, "apa bedanya saya dengan Anak Manusia?" Bagi saya pribadi, pertanyaan ini tidak dapat dijawab dengan jawaban-jawaban spontan seperti Ia adalah Allah, Ia lahir dari Allah, Ia kudus, atau Ia tidak pernah berdosa. Mengapa jawaban itu tidak cukup? Karena ketika Allah mengutus Anak-Nya yang tunggal, Yesus telah sepenuhnya menjadi manusia, Yesus dapat merasakan lapar, Ia tidur, Ia merasakan sedih dan gentar, dan dalam kitab Ibrani 2:14a dikatakan: Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka. Roma 8:23a juga menuliskan bahwa: Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus Anak-Nya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa. Jelas disini bahwa Ia hakikatnya adalah sama dengan kita, otherwise bagaimana kita bisa mengikuti teladan Kristus? (1 Petrus 2:21)
Mengapa hal ini jadi penting? Karena Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup. (1Yohanes 2:6) Tanpa mengenali perbedaan antara saya yang ada saat ini dengan Yesus, tidak mungkin saya bisa hidup sama seperti Kristus telah hidup. Dari hasil perenungan saya, saya menemukan ada dua perbedaan utama:
- Yesus mengenali Bapa lebih dari saya mengenali Bapa. Berkali-kali Yesus mengajar dengan berfokus pada apa yang Bapa di Sorga kehendaki, dan frasa Bapa-ku yang di Sorga atau Bapamu yang di Sorga bukanlah frasa yang bisa diucapkan seenak hati, sebelum Yesus hanya ada beberapa tokoh di Alkitab yang tercatat secara personal menggunakan kalimat tersebut, yaitu Musa, Daud, dan Yesaya. Semuanya mengenal Allah secara pribadi, melebihi hal-hal yang tertulis di kitab para nabi pada saat itu. Lewat pengenalannya Yesus tahu apa yang menjadi kehendak hati Allah dan apa yang dimaksudkan dari setiap Firman-Nya dengan tepat (seperti ketika Yesus dicobai di Matius 4). Yesus menghabiskan waktu banyak dengan Bapa dan mengenaliNya dengan baik, sedangkan saya masih bergumul untuk membaca Alkitab secara rutin dan mencoba mengerti apa yang hendak Allah sampaikan atau ajarkan kepada saya.
- Yesus mengasihi Bapa lebih dari saya mengasihi Bapa. Saat Yesus berdoa untuk terakhir kalinya sebelum ditangkap di taman getsemani (Matius 26:36-45) jelas sekali bahwa Yesus tidak suka/tidak mau menjalani kematian-Nya, Yesus sendiri berdoa agar cawan penderitaan itu lalu dari pada-Nya. Namun pada akhirnya Ia berdoa agar kehendak Bapa yang jadi. Jika saya ada di posisi Yesus pada saat itu, dimana saya sadar bahwa saya adalah Anak yang tunggal dari Bapa di Sorga dan memiliki segala kuasa Ilahi, belum tentu saya siap sedia seperti Yesus siap sedia menjalani apa yang harus dijalani-Nya. Yesus sendiri mengajarkan bahwa Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku (Yohanes 14:15). Standar inilah yang menjelaskan betapa Yesus mengasihi Bapa di Sorga.
Saya menjadi mengerti bahwa kalau saya mau seperti Yesus, saya harus berusaha mengenali Allah Bapa lebih dalam lagi. Lewat pengenalan saya saya belajar mengasihi Allah lebih dari saya mengasihi diri saya sendiri. Hal ini seperti ketika saya bertemu dengan isteri saya dahulu, saya mulai dengan mengenali dia, apa yang menjadi sifatnya, pikiran, dan keinginannya. Dari sana saya mulai mengasihi dia dan mau melakukan apapun untuk menyenangkan hatinya. Bukankah Allah Bapa seharusnya memiliki posisi yang jauh lebih penting dan tinggi dibandingkan pasangan kita? Jadi jika kita bisa melakukan itu untuk pasangan kita, tentu kita bisa melakukan hal yang sama untuk Allah yang mengasihi kita lebih dari siapapun di dunia ini. Tanpa memperbaiki kedua hal diatas, rasanya tidak mungkin saya bisa hidup serupa Kristus telah hidup. Semoga memberkati. (CBA)
Comments