Skip to main content

Kecaplah kebaikan Tuhan!

Pemazmur berkata: Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya! (Mazmur 34:8). Ayat ini merupakan salah satu ayat yang sering dinyanyikan saat kita beribadah di gereja. Ayat ini mengajarkan kita bahwa Tuhan itu baik dan mengajak kita merasakan kebaikan Tuhan di dalam hidup kita. Tapi pernahkah kita sedikit berpikir, mengapa dari semua indera yang kita miliki, Daud mengajak kita untuk mengecap (lidah) lalu kemudian melihat (mata).

Ketika saya mencoba merenungkan ayat ini, saya baru mengerti bahwa ketika Daud menyanyikan mazmur ini, kondisi yang dialaminya jauh dari ideal. Pada saat itu Daud sedang dalam pelarian dari Saul yang hendak membunuhnya. Ia terpaksa dengan sangat sedih harus berpisah dari Yonatan (1 Samuel 20:41), dalam pelariannya ia dan para pengikutnya merasa sangat kelaparan hingga perlu berbohong kepada seorang imam dan memakan roti sajian yang seharusnya tidak boleh mereka makan (1 Samuel 21:1-6; Matius 12:3-4) tanpa perlengkapan atau senjata yang memadai, dan bahkan memasuki kota Gat, kota orang Filistin (1 Samuel 21:10).

Sebenarnya memasuki kota Gat bukanlah masalah jika Daud dalam kondisi yang baik-baik saja. Para ahli juga sempat memperdebatkan mengapa dari sekian banyak kota perbatasan yang ada di sekeliling Israel, Daud malah memilih pergi ke kota Gat. Mengapa hal ini dianggap tidak bijaksana? Perlu diketahui bahwa kota Gat adalah kota asal Goliat, apalagi ia memasuki kota tersebut dengan membawa pedang Goliat (1 Samuel 21:9). Mungkin Dadud berharap bahwa ia tidak dikenali karena ia berpakaian sederhana dan tidak membawa banyak pengikut, namun sayangnya pegawai-pegawai raja Akhis mengenalinya seketika dan membawanya ke hadapan raja Akhis - raja kota Gat.

1 Samuel 21:11
Pegawai-pegawai Akhis berkata kepada tuannya: "Bukankah ini Daud raja negeri itu? Bukankah tentang dia orang-orang menyanyi berbalas-balasan sambil menari-nari, demikian: Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa?"

Daud yang terkenal akan keberaniannya di medan perang, mengalahkan berlaksa-laksa musuh pun disebutkan merasa takut sekali (1 Samuel 21:12), saking takutnya Daud, ia harus berpura-pura menjadi orang gila, ia bahkan menggores-gores pintu gerbang dan membiarkan ludahnya meleleh ke janggutnya (1 Samuel 21:13). Bayangkan jika kalian adalah Daud yang selangkah lagi menduduki tahta kerajaan Israel dan meraih begitu banyak kemenangan demi kemenangan, berapa besar ego yang harus Daud lepaskan jauh-jauh pada saat itu?

Semakin tinggi posisi yang pernah dicapai seseorang, biasanya semakin sulit untuk melepaskan posisi tersebut dalam hati. Bahkan banyak orang malah menyalahkan Tuhan atas apa yang dialaminya. Daud mungkin punya begitu banyak alasan yang bisa menjadi argumentasi kepada Tuhan bahwa ia tidak layak mendapatkan pengalaman seperti itu, memangnya apa salah Daud? Tapi di Mazmur 34 kita melihat bahwa dalam keadaan seperti itu pun, Daud tetap mampu bersyukur kepada Tuhan atas setiap hal baik yang ia alami, bahkan imannya tidak menjadi pudar malah semakin kuat. Ia memuji bahwa Tuhan Allah begitu murah hati kepadanya.

Dari kisah ini, saya belajar mengapa Daud mengajak kita untuk mengecap sebelum melihat. Lidah kita merupakan organ tubuh yang paling unik di badan kita, yang fungsinya tidak dapat digantikan sama sekali oleh organ lainnya. Ada tiga organ tubuh yang paling sering kita pakai untuk menikmati sesuatu, yaitu mata, hidung, dan lidah. Namun hanya lidahlah yang sebenarnya bisa benar-benar menikmati sesuatu tanpa diskriminasi. Mata kita hanya tertarik kepada sesuatu yang indah dan menghindari untuk memandang kepada sesuatu yang buruk rupa, hidung kita hanya menerima sesuatu yang harum baunya dan menolak yang sebaliknya, namun hanya lidah kita yang dapat menikmati segala jenis rasa, bahkan beberapa makanan yang memiliki cita rasa rasa pahit dan asam sekalipun dapat kita sebut sedap rasanya bukan? Rasa pedas yang sering disebut nikmat pun sebenarnya adalah rasa iritasi di lidah kita bukan?

Untuk dapat bersyukur kepada Tuhan, kita perlu seperti lidah, dalam rasa apapun kita bisa mengecapnya dan merasa nikmat akan rasa tersebut. Bila kita sudah merasa nikmat di lidah, bukankah bentuk makanan tersebut tidak lagi penting buat kita? Banyak sekali makanan dengan bau dan bentuk yang tidak menggugah selera tetap diburu para pecinta kuliner karena rasanya yang nikmat?

Inilah hikmat dari Firman Tuhan tentang bersyukur atas kemurahan Tuhan, Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu. (Yesaya 55:8-9) seperti apa yang dituliskan Rasul paulus dalam Efesus 5:20: Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita.

Semoga memberkati! (CBA)

Comments