Apa yang seringkali dibahas oleh umat Kristiani umumnya tidak jauh dari kata dosa dan pertobatan. Pada Roma 3:23 tertulis: "Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah." Selama ini kita selalu diajar untuk menjauhi dosa. Pada saat kita jatuh dalam dosa kita pun diajarkan untuk segera bangkit dan bertobat. Namun, apakah kita sesungguhnya mengerti, apa makna dari dosa?
Ada sebagian dari kita yang seringkali mengidentikkan dosa dengan pelanggaran, khususnya pelanggaran akan perintah Allah. Bahkan ada yang berpatokan kepada 10 hukum taurat yang tertulis pada kitab Keluaran 20. Secara umum tentu hal ini bukanlah sesuatu yang salah, namun sejujurnya hal ini adalah kurang tepat. Dalam Alkitab, pada bagian perjanjian lama ada 8 kata dalam bahasa Ibrani yang diterjemahkan sebagai dosa dalam bahasa Indonesia. Pada perjanjian baru, ada 12 kata dalam bahasa Yunani yang diterjemahkan sebagai dosa. Menariknya, setiap kata ini memiliki definisi yang berbeda walaupun semuanya merujuk kepada dosa.
Pada kesempatan ini saya ingin berbagi tentang sebuah kata dosa yang Tuhan jadikan peringatan dan teguran buat saya pribadi. Dalam perjanjian lama ada sebuah kata yang mewakili dosa, yaitu חֲטָאָה [KHATA'AH] yang berarti menuju sasaran yang tidak tepat (misfire) dan pada bagian perjanjian baru menggunakan kata ἁμαρτία [hamartía] yang memiliki padanan arti yang sama.
Saya seringkali beranggapan bahwa menghindari dosa adalah tidak melakukan dosa tersebut. Sebagai contoh, ketika saya membaca Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku (Keluaran 20:3), maka saya tahu bahwa saya tidak boleh menempatkan apapun lebih tinggi daripada Tuhan sebagai prioritas dalam hidup saya. Selama saya berpikir bahwa jika saya menjalankan perintah ini dengan benar, maka saya tidak berdosa. Hari ini saya tahu bahwa saya jauh dari kebenaran yang sesungguhnya saat saya berpikir seperti itu. Mengapa?
Saya membayangkan bahwa setiap keputusan dan tindakan yang saya ambil merupakan anak panah yang terlontar dari hidup saya. Saya dulu berpikir bahwa Tuhan sudah memberi perintah, jangan menembak ke arah tertentu, dan selama saya tidak menembak ke arah tersebut, I'm doing a good job. Namun saya melupakan fakta bahwa perintah Tuhan yang ini sesungguhnya comes in pair! Betul Tuhan melarang kita menembak ke arah tertentu, namun Tuhan juga memerintahkan kita untuk menembak ke arah yang sudah Ia tentukan sebelumnya! Jadi, tidak menembak ke arah yang Tuhan larang tidaklah cukup, kita juga harus menembak ke arah yang Tuhan tentukan dengan tepat sasaran. Jika kita menembak tidak pada sasarannya atau bahkan tidak menembak sama sekali (saya akhirnya sadar bahwa hal inilah yang selama ini seringkali saya lakukan), kita tetaplah melakukan dosa di hadapan Tuhan.
Kembali kepada perintah Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku (Keluaran 20:3), tidak cukup bagi saya untuk menjalani hal ini tanpa menjalani pasangan dari perintah: Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu (Matius 22:37). Saya tetaplah seorang manusia yang terus menerus melakukan dosa jika saya hanya menjalani bagian pertama dari perintah tersebut.
Kita juga perlu sadar bahwa perintah Allah tidak hanya terbatas pada sepuluh perintah Allah dalam perjanjian baru. Banyak sekali perintah Allah yang tertuang dalam Alkitab, mulai dari yang mudah dimengerti seperti: Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu (1 Tesalonika 5:18) atau perintah yang lebih kompleks seperti: Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang (Matius 24:42). Konsep ini juga berlaku atas amanat agung yang Yesus berikan sebelum Ia terangkat ke Sorga: Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman (Matius 28:19-20)
Menyadari hal ini pun tidak membuat segalanya menjadi lebih mudah, namun saya menjadi jauh lebih sadar bahwa saya masih jauh sekali dari apa yang Tuhan harapkan. Manusia cenderung berfokus akan apa yang telah dilakukan/dicapai dan seringkali mengesampingkan fokus akan hal-hal yang belum atau seharusnya sudah dilakukan. Sekalipun kita sudah berhasil melakukan semua perintah Allah, namun jika kita tidak atau belum mengajarkan kepada orang-orang di sekitar kita untuk melakukannya juga dengan sepenuh kasih (Matius 22:39), maka kita belum mencapai sasaran yang Tuhan inginkan. Dalam hal ini kita pun berdosa (misfire). Tidak mudah bukan? Inilah sebabnya, Rasul Paulus mengingatkan kepada jemaat di kota Filipi: Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar... (Filipi 2:12a)
Terkadang tanpa kita sadari, menaati perintah Tuhan menjadi perbuatan selektif. Saya seringkali punya berbagai alasan untuk menunda melakukan perintah-perintah tertentu dari Tuhan, apalagi yang menimbulkan inconvenience dalam keseharian saya. Saat ada sesuatu yang Tuhan taruh dalam hati untuk saya kerjakan, saya seringkali takut atau enggan untuk melangkah dan secara spontan menyertakan berbagai alasan kepada Tuhan untuk tidak melakukannya -- dan kemudian menyesalinya sendiri saat kesempatan untuk melakukannya sudah hilang. Terkadang pula saya menganggap perintah-perintah itu adalah sebuah saran yang baik untuk orang lain, bukan untuk saya sendiri, padahal saya tahu bahwa Tuhan bekerja secara pribadi lepas pribadi, Ia tidak meminta kita untuk menjadi hakim atas sesama kita (Lukas 6:42).
Teguran Tuhan kali ini menjadi sebuah wake up call bagi saya, apalagi kita sudah berada di penghujung zaman ini. Sekalipun hari-hari kelihatannya masih panjang, saya pun tidak pernah tahu sampai kapan Tuhan memberi saya kesempatan untuk ada di dunia ini, sehingga saya harus mulai mengevaluasi pribadi dan hidup saya supaya saya tidak terjebak dalam dosa ini -- dosa yang seringkali tidak terlihat. Semoga apa yang menjadi perenungan saya bisa menjadi inspirasi yang baik. Tuhan Yesus memberkati! (CBA)
Comments