Skip to main content

Rasionalitas dan Komitmen

Apa yang kalian pikirkan jika mendengar seseorang berkata kepada pasangannya, "Hey, mari kita mulai hidup bersama? Kita bisa berbagi dalam hari-hari kita, menikmati kebersamaan kita sepanjang yang kita mau, sepanjang rasa cinta diantara kita." Terdengar seperti sebuah hal yang baik bukan? Namun bagaimana jika kalimat tersebut disertai dengan lanjutan, "Namun tanpa komitmen apapun, sehingga jika kita sudah bosan atau lelah menjalaninya, kita bisa berjalan masing-masing tanpa beban dan mencari petualangan baru kita sendiri."

Sejujurnya, apa yang dituliskan dalam kalimat lanjutan diatas cukup rasional. Secara ilmiah, rasa cinta hanyalah sekumpulan reaksi kimia yang terjadi di dalam tubuh kita, khususnya otak kita. Rasa cinta tidak akan bertahan selamanya, jumlah hormon dopamine, norepinephrine, phenylethylamine, dan oxytocin yang dibutuhkan oleh otak kita untuk mempertahankan "rasa cinta" tidak selamanya bisa dipenuhi oleh pasangan kita. Namun, tidak selamanya hal-hal rasional itu membuat kita sepenuhnya bahagia, bukan? Mari kita baca tentang dua perumpamaan yang Yesus berikan:


"Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu. Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, iapun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu." Matius 13:44-46

Apa yang diceritakan dalam kedua perumpamaan tersebut bukanlah merupakan sebuah hal yang rasional, khususnya perumpamaan tentang seorang pedagang. Bila kita menjadi pedagang tersebut, kemungkinan besar sebagian dari kita yang benar-benar adalah seorang pedagang akan memiliki banyak cara lain untuk mendapatkan mutiara tersebut tanpa perlu menjual seluruh miliknya. Faktanya bahwa Tuhan tidak mengharapkan hal-hal rasional dari kita ketika berbicara tentang mengasihi Tuhan Allah. Disini menjadi jelas mengapa hukum yang berbunyi  "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu." (Matius 22:37) menaruh hati pada posisi pertama dan akal budi di posisi terakhir.


Namun sayangnya banyak dari kita terkadang lebih memilih menjadi rasional ketika mengasihi Tuhan, termasuk saya. Ada waktu dimana kita memilih untuk melupakan peringatan Yesus bahwa "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku." (Matius 16:24). Dalam rasionalitas kita, kita seringkali memilih untuk berdiri dalam posisi netral, tidak mau jauh dari Kristus namun tidak mau juga untuk menjadi radikal dalam mengerjakan apa yang Yesus minta dari kita. Kita cenderung punya begitu banyak alasan untuk mengabaikan beberapa permintaan dan perintah Tuhan yang terasa berat atau tidak nyaman untuk kita lakukan. Respon Tuhan kepada rasionalitas ini sama seperti apa yang Tuhan katakan kepada jemaat-Nya di Laodikia, "Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas! Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku." (Wahyu 3:15-16)


Terkadang dalam rasionalitas kita, kita hidup seakan-akan seperti orang Farisi (orang yang mempelajari kitab suci dan merasa mengerti luar dalam akan apa yang tertulis di dalamnya namun tidak melakukannya) dan orang Saduki (Orang yang terlahir dengan label Kristiani tanpa iman yang menjadi pilihan pribadi). Jika kita terus terjebak dalam kondisi ini, maka kitalah yang diceritakan Tuhan Yesus dalam Matius 7:"Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!"


Ketika kita menyatakan diri kita sebagai Pengikut Kristus, apa yang Tuhan inginkan dari kita bukanlah keinginan semata namun komitmen yang SEUTUHNYA. Bayangkan seorang mempelai yang mengucapkan janji nikahnya untuk setia sampai maut memisahkan, menjaga cintanya dalam keadaan apapun juga namun kita temukan berjalan dengan selingkuhannya beberapa minggu setelah pernikahannya. Wajarkah pasangan yang dikhianati berkata: "Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!" sekalipun pasangannya berkata: "Bukankah aku membeli rumah dalam namamu, dan menafkahi kamu dengan baik, dan mengadakan banyak perkara demi kamu juga?"


Atau bayangkan orang yang ingin menurunkan berat badannya dengan berolahraga secara rutin di pusat kebugaran namun tetap mengkonsumsi makanan cepat saji dengan kalori dan lemak berlebihan setiap hari. Apakah wajar ketika orang tersebut datang kepada pelatihnya dan berkata, "Mengapa aku telah melakukan semua latihan berat ini namun tidak ada hasil yang terlihat?" Orang itu mau mendapatkan ganjaran yang baik tanpa pengorbanan apapun.


Menjadi pengikut Kristus artinya kita ditantang untuk membuktikan komitmen kita dengan menyangkal diri kita, termasuk rasionalitas, keinginan, keamanan dan kenyamanan pribadi kita. Memberi perpuluhan (Maleakhi 3:10) adalah tidak rasional, mengutamakan Tuhan diatas segala-galanya (Matius 6:33) adalah tidak rasional, Memberikan kualitas lebih daripada yang diminta (Matius 5:41) adalah tidak rasional, Mengasihi musuh dan orang yang menganiaya kita (Matius 5:44) adalah tidak rasional, senantiasa mengampuni kesalahan orang lain (Matius 18:21-22) adalah tidak rasional, bersukacita senantiasa dan mengucap syukur akan semua hal (1 Tesalonika 5:16,18) adalah tidak rasional, dan masih banyak lagi hal-hal yang tidak rasional yang diajarkan kepada pengikut Kristus, tapi bukankah SEMUANYA itu yang diharapkan oleh Tuhan kepada kita? Perlu kita sadari bahwa Tuhan tidak membuka opsi untuk selective commitment.


Tidaklah rasional juga bagi Tuhan untuk mengirimkan Anak-Nya yang tunggal untuk turun ke dunia menebus manusia yang berkali-kali membuat Tuhan murka atas kejahatannya. Tidaklah rasional bagi Yesus untuk menyerahkan diri-Nya begitu saja untuk dipermalukan di depan umum dan disalibkan dengan cara yang kejam tanpa pengadilan yang adil dan terbuka. Tapi toh semuanya itu tetap Ia lakukan tanpa keluhan? Bukankah sudah sewajarnya Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita? (1 Yohanes 3:19)


Tuhan berkali-kali menggambarkan intimasi hubungan yang diharapkan dengan kita seumpama mempelai, bahkan saat Ia datang kelak diibaratkan sebagai perkawinan (Wahyu 19:7). Apakah kita memberi waktu khusus kepada-Nya seperti ketika kita memberi waktu khusus kepada orang yang kita cintai? Apakah kita mencari-cari (rindu) Tuhan seperti ketika kita mencari-cari orang yang kita cintai? Apakah kita memberikan hadiah terbaik kepada Tuhan sama seperti kita memberi hadiah kepada orang yang kita cintai? Apakah kita mendengarkan perkataan Tuhan secara penuh perhatian sama seperti kita mendengarkan orang yang kita cintai? Apakah Tuhan penting bagi kita sama seperti kita penting bagi-Nya sehingga Ia mengorbankan diri-Nya secara pribadi?


Mungkin ini saat yang baik bagi kita untuk mengevaluasi kembali hubungan kita dengan Kristus. Siapa kita sebenarnya di hadapan-Nya dan apakah kita mengenal pribadi-Nya yang sesungguhnya dan apakah Dia mengenal kita (lewat diri kita yang secara aktif membangun hubungan dengan-Nya)? Memang betul bahwa Tuhan mengajarkan kita untuk berhikmat dalam segala laku kita, namun jangan kita mengukur hikmat Tuhan dengan rasionalitas kita yang terbatas, sebab itulah Yakobus mengajarkan kita untuk meminta hikmat dari pada-Nya (
Yakobus 1:5). Mengasihi Tuhan dengan segala-galanya merupakan hal yang wajar bagi Tuhan, walaupun tidak terlihat masuk akal bagi ukuran manusia. Jika kita sungguh-sungguh mau menjadi pengikut-Nya, kita tahu apa yang perlu kita ubah dari hidup kita saat ini. Perubahan tidak pernah terjadi dalam sekejap, butuh proses yang makan waktu, tapi perjalanan dengan Tuhan memang sudah didesain sebagai sebuah proses yang mendewasakan kita dalam setiap langkah yang kita ambil. Semoga memberkati. (CBA)

Comments