Skip to main content

Perumpamaan Tentang Talenta

Kalian tentu pernah mendengar perumpamaan tentang talenta yang Yesus ceritakan di injil Matius atau perumpamaan tentang uang mina yang diceritakan pada injil Lukas? Talenta atau uang mina ini banyak dianalogikan menjadi bakat atau kemampuan yang Tuhan berikan dalam diri kita. Rasanya perenungan tentang kedua hal ini sudah banyak sekali kita dengar atau baca, namun kali ini saya melihat perumpamaan ini dari sisi yang lain.

Matius 25:14-15
Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat.

Kalau kebanyakan orang melihat talenta sebagai kemampuan, saya melihat talenta dari sisi resources yang Tuhan berikan. Apakah yang mendapatkan tiga dan lima talenta artinya memiliki resources tiga dan lima kali lipat dari yang pertama? Tentu tidak. Dalam pandangan saya satu, tiga, atau lima talenta menggambarkan beberapa jenis resources yang berbeda. Talenta pertama bagi saya dapat menggambarkan resources yang dimiliki oleh ketiga orang dalam perumpamaan tersebut termasuk kita, yaitu adalah waktu. Semua orang diberikan waktu yang sama oleh Tuhan. Sedangkan yang diberikan tiga talenta mungkin memiliki tambahan resources dana dan pendidikan tinggi, dan yang memiliki lima talenta memiliki tambahan resources relasi yang luas dan penampilan fisik yang diatas rata-rata.

Matius 25:16-18
Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta. Hamba yang menerima dua talenta itupun berbuat demikian juga dan berlaba dua talenta. Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lobang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya.

Ada sebagian orang yang tidak mau berusaha lebih keras karena merasa tidak percaya diri atas "kekurangan" dirinya. Orang ini merasa apapun yang dikerjakannya sia-sia dibandingkan dengan orang lain yang lebih diberkati. Sedangkan kelompok orang yang lain mengusahakan dengan semaksimal mungkin apa yang dimilikinya sekecil apapun jumlahnya itu.

Matius 25:19-23
Lama sesudah itu pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka. Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, katanya: Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta. Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. Lalu datanglah hamba yang menerima dua talenta itu, katanya: Tuan, dua talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba dua talenta. Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.

Ada sebuah kenyataan yang kita perlu sadari. Apakah kedua orang yang memanfaatkan dengan baik setiap resources yang diberikan oleh tuannya tahu bahwa mereka akan turut dalam kebahagiaan tuannya? Bukankah ketika tuan hamba-hamba itu mempercayakan hartanya ia tidak menjanjikan apapun juga kepada mereka? Belum lagi kita memperhitungkan resiko bahwa ketika mereka mengelola harta tuannya mereka bisa mengalami kerugian bahkan kehilangan semua talenta yang dipercayakan?

Matius 25:24-25
Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam. Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan!

Sayangnya hamba yang "hanya" menerima satu talenta memiliki pola pikir seperti ini. Bisa saja ia merasa cemburu kepada kedua rekan-rekannya yang menerima bagian lebih besar, bisa juga ia tidak mau dipersalahkan jika ia malah kehilangan apa yang sudah dipercayakan tersebut, bisa juga ia tidak mau mengerjakan apapun tanpa dijanjikan keuntungan yang pasti ia terima. Para pembaca yang memiliki latar belakang ilmu keuangan tentu tahu bahwa resources yang tidak dikelola dengan baik sama dengan menyia-nyiakan (membuang) resources tersebut. Logika yang sama memang bahwa tuannya tidak mengancam apapun ketika memberikan satu talenta kepadanya, sayangnya kisah akhir dari si hamba ini berbeda jauh dengan kedua rekannya.

Matius 25:26-30
Maka jawab tuannya itu: Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam? Karena itu sudahlah seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya sekembaliku aku menerimanya serta dengan bunganya. Sebab itu ambillah talenta itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu. Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya. Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi."

Sisi lain dari cerita ini yang kadang kita lewatkan adalah, ada sebuah kemungkinan bahwa jika hamba yang hanya dipercayakan satu talenta bisa menemukan kreatifitas yang tepat dan berusaha jauh lebih keras dari kedua rekannya, sangat mungkin bahwa ketika tuannya kembali ia bisa memberikan hasil yang sama atau bahkan lebih dari rekannya yang diberikan lima talenta. Banyak sekali tokoh-tokoh sukses di dunia ini yang telah mencontohkan bahwa hal tersebut sangat mungkin untuk dilakukan. Di sisi lain, Firman Tuhan juga berkata bersukacitalah senantiasa (1 Tesalonika 5:16). Maka sebenarnya ada tiga rute yang kita bisa pilih, terlepas dari berapa banyak resources yang Tuhan percayakan di awal kepada kita, yaitu:
  • Waste it - You did not enjoy anything at all
  • Spend it - Just enjoy it
  • Invest it - You enjoy it and get everything out of it!
Jadi, saat ini kita bisa sama-sama merenungkan apa yang bisa kita lakukan selanjutnya dengan talenta yang sudah dipercayakan kepada kita sebelum Tuhan datang kedua kalinya, supaya saat kita berhadapan dengan waktu pertanggungan jawab, kita bisa dengan bangga menjawab layaknya hamba yang pertama dan kedua. Semoga memberkati! (CBA)

Comments