Skip to main content

Menghadapi "Gempa Bumi" Kehidupan

Tahukah anda bahwa setengah dari 10 bencana alam natural terbesar di dunia disebabkan oleh gempa bumi? Bahkan sebagian besar bencana tsunami atau banjir bandang juga disebabkan oleh gempa bumi. Gempa bumi juga merupakan salah satu bencana yang tidak mungkin dicegah selain bencana alam lainnya yang berkaitan dengan angin dan letusan gunung berapi (meskipun NASA saat ini sedang menguji coba skema untuk mencegah letusan gunung berapi). Lalu apa hubungan bencana alam dengan Firman Tuhan yang hendak kita bahas saat ini?

Saat saya mendengar Firman Tuhan yang dibagikan dalam ibadah minggu, saya mendengar akan Firman yang tertulis pada kitab Ibrani 12:26-28 yang berbunyi sebagai berikut: Waktu itu suara-Nya menggoncangkan bumi, tetapi sekarang Ia memberikan janji: "Satu kali lagi Aku akan menggoncangkan bukan hanya bumi saja, melainkan langit juga." Ungkapan "Satu kali lagi" menunjuk kepada perubahan pada apa yang dapat digoncangkan, karena ia dijadikan supaya tinggal tetap apa yang tidak tergoncangkan. Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut.

Ketika saya mendengarkan Firman ini, mendadak saya membayangkan tentang bencana gempa bumi. Saya lalu merasa bahwa apa yang dunia sedang alami saat ini pada pandemi COVID-19, dari sisi yang berbeda terasa seperti "gempa bumi" yang menggoncang kehidupan kita. Ketika gempa bumi terjadi, yang kita rasakan secara personal adalah rasa disorientasi yang membuat kita sulit bergerak dengan benar, mungkin justru sebagian dari kita malah menjadi takut dan tidak mau bergerak. Gempa bumi memberi dampak yang sama bagi orang yang ada di dataran tinggi maupun di tanah rendah, di atas gedung yang tinggi maupun jalan raya di bawahnya, semuanya memiliki resiko yang sama besarnya.

Menariknya, saya mempelajari bahwa ada beberapa cara yang harus diimplementasi untuk meminimalisir kerusakan yang timbul dari gempa bumi, yaitu dengan memiliki pondasi yang kokoh, menggunakan bahan baku bangunan yang adaptif terhadap tekanan seperti batang bambu, membuat perisai gempa di bawah tanah dan memperlengkapinya dengan berbagai mekanisme untuk mempertahankan bentuknya. Yang lebih menarik lagi, semua hal yang disebutkan tadi sangat sejalan dengan apa yang diajarkan oleh Firman Tuhan di dalam Alkitab:
  • Memiliki pondasi yang kokoh merefleksikan apa yang Tuhan Yesus katakan pada Injil Lukas 6:47-48: Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya--Aku akan menyatakan kepadamu dengan siapa ia dapat disamakan--,ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun. Meskipun Tuhan Yesus tidak menyebutkan tentang gempa, namun jelas dikatakan bahwa rumah itu tidak dapat digoyahkan (digoncangkan).
  • Bahan baku bangunan yang adaptif terhadap tekanan menyerupai batang bambu yang paling banyak digunakan saat ini adalah sejenis baja yang disebut dengan structural steel. Baja ini digunakan sebagai tulang-tulang bangunan utama untuk membuat bangunan lebih fleksibel dalam tekanan. Baja ini dibuat dengan meleburkan besi dalam panas tinggi dan dicampurkan dengan beberapa zat tambahan lainnya tanpa menghilangkan kadar karbon di dalamnya. Setidaknya ada tiga proses pemanasan dengan suhu yang sangat tinggi dalam proses pembentukannya. Hal ini sama seperti apa yang Yohanes pembaptis katakan: Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku dan aku tidak layak melepaskan kasut-Nya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api. (Matius 3:11) Namun tahukah anda bahwa aspek yang menentukan kualitas dari structural steel, bukan dari proses pemanasannya, bukan dari zat tambahannya, tetapi seberapa baik keseimbangan kadar karbon yang ada di dalamnya.  Kadar karbon yang terlalu tinggi membuat baja terlalu keras dan sulit dibentuk, sedangkan kadar karbon yang terlalu rendah membuat baja terlalu lunak dan tidak kokoh. Sebuah fakta yang menarik bahwa karbon adalah elemen terbesar nomor dua yang terkandung dalam tubuh manusia selain oksigen. Bagaimana Tuhan menjelaskan bagi saya selalu terasa ajaib. Jika kita terlalu mengandalkan diri sendiri (tingkat karbon tinggi) maka kita menjadi pribadi yang keras dan sulit dibentuk oleh Tuhan, kita cenderung mengalami stress ketika mengalami tekanan dan akhirnya breakdown. Pada kitab Yakobus tertulis dengan jelas: Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia? (Yakobus 2:14). Maka jelas bahwa hanya dengan iman dan doa (tingkat karbon rendah) saja Tuhan juga tidak dapat berbuat apa-apa dalam kehidupan kita. Perlu ada keseimbangan yang harmonis antara Roh, Jiwa, dan Tubuh kita untuk memungkinkan Tuhan mengadakan perkara-perkara besar dalam hidup kita.
  • Banyak bangunan modern membuat perisai gempa di bawah tanah untuk mengalihkan dan mengurangi tingkat getaran yang diterima oleh bangunan secara langsung. Perisai ini dibangun dengan meletakkan struktur konkrit dan plastik mengelilingi tanah bangunan itu didirikan. Ketika getaran gempa datang, maka lingkaran-lingkaran tersebut memaksa getaran tersebut bergerak melebar menjauhi gedung yang ada di tengah-tengah perisai gempa. Perisai gempa ini seperti keluarga rohani yang ada di sekeliling kita dan menjagai kita senantiasa. Firman Tuhan pada Ibrani 10:25 berkata: Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.
  • Selain ketiga hal diatas, bangunan anti gempa juga selalu diperlengkapi dengan berbagai mekanisme untuk memperkuat strukturnya. Tuhan Allah kita sudah memberikan kita berbagai perlengkapan yang luar biasa seperti yang Rasul Paulus telah ingatkan: Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah (Efesus 13-17). Bukankah Tuhan Allah kita begitu luar biasa?
Jadi sebenarnya kita sebagai pengikut Kristus sudah jauh dipersiapkan untuk menghadapi segala goncangan yang mungkin muncul dalam kehidupan kita, baik besar maupun kecil. Pertanyaannya, apakah kita sudah mengimplementasikan semua hal tersebut? Atau kita dengan sesuka hati membangun rumah kita diatas tanah tanpa dasar? Salah satu tanda bahwa seseorang telah membangun rumah diatas tanah tanpa dasar adalah ketika ia tawar hati. sebab Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu. (Amsal 24:10). Tawar hati menunjukkan keadaan hati kita yang tidak bersemangat, kecewa terhadap keadaan, kecewa terhadap Tuhan, tidak ada kemauan dan keberanian lagi untuk melakukan sesuatu yang baru atau berbeda, dan putus harapan. Ingatkah kita akan bagaimana Tuhan menolong kita berkali-kali sebelumnya? Ingat juga bahwasanya Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya. (Ibrani 13:8)

Kabar baik bagi kita yang membutuhkan Firman ini pada saat ini, karena bagi Tuhan tidak ada yang terlambat jika kita mau berbalik dan melakukan seluruh perkataan-Nya. Ingat bagaimana Lazarus dibangkitkan? Ingat anak perempuan Yairus? Ia berkata Jangan takut, percaya saja! (Lukas 8:50a).

Semoga memberkati! (CBA)

Comments