Bayangkan ketika kita sangat menyayangi pasangan kita, dan kita tahu bahwa kita adalah pribadi yang paling mengerti pasangan kita dan mau melakukan apapun untuk pasangan kita, apakah kita rela memberikan pasangan kita untuk orang lain yang kita tahu jelas bahwa dia tidak akan pernah lebih baik dari kita dalam mencintai pasangan kita? Tentu jika kita sudah berada di tahap tersebut kita juga berharap bahwa perasaan kita tidak bertepuk sebelah tangan, bukan? Kita mau pasangan kita memprioritaskan kita sama seperti kita memprioritaskan pasangan kita. No compromises for third person is allowed here.
Lalu bagaimana dengan kita? Bagaimana kita meresponi seorang pribadi yang begitu menyayangi kita sehingga telah rela mati untuk kita? Apakah kita membiarkan rasa kasih itu menjadi berat sebelah atau seimbang?
Untuk mengukur apakah bobot yang kita gunakan adalah adil, biasanya kita dapat melihat referensi dari kejadian yang sudah pernah terjadi. Saya menemukan sebuah referensi yang menarik dari Alkitab, yang diceritakan dalam 1 Raja-Raja 19:19-21 ketika Tuhan meminta nabi Elia mengurapi Elisa menjadi nabi menggantikannya; Setelah Elia pergi dari sana, ia bertemu dengan Elisa bin Safat yang sedang membajak dengan dua belas pasang lembu, sedang ia sendiri mengemudikan yang kedua belas. Ketika Elia lalu dari dekatnya, ia melemparkan jubahnya kepadanya. Lalu Elisa meninggalkan lembu itu dan berlari mengikuti Elia, katanya: "Biarkanlah aku mencium ayahku dan ibuku dahulu, lalu aku akan mengikuti engkau." Jawabnya kepadanya: "Baiklah, pulang dahulu, dan ingatlah apa yang telah kuperbuat kepadamu." Lalu berbaliklah ia dari pada Elia, ia mengambil pasangan lembu itu, menyembelihnya dan memasak dagingnya dengan bajak lembu itu sebagai kayu api; ia memberikan daging itu kepada orang-orangnya, kemudian makanlah mereka. Sesudah itu bersiaplah ia, lalu mengikuti Elia dan menjadi pelayannya.
Elisa bin Safat pada masa itu bisa dikatakan merupakan orang yang berasal dari keluarga yang berkecukupan. Dua belas pasang lembu, sebelas orang yang bekerja untuknya mengendalikan lembu, dan sebidang tanah yang luasannya perlu dibajak oleh dua belas pasang lembu tentunya bukan jumlah harta yang sedikit juga bukan bisnis yang tidak menghasilkan. Ditengah semua kesibukannya, apa yang Elisa lakukan? Hal pertama yang Elisa buat adalah melemparkan jubahnya (dalam terjemahan GNT Bible, dikatakan bahwa Elisa memakaikan jubahnya kepada Elia). Padahal pada masa itu jubah merupakan sebuah simbol yang paling jelas akan status seseorang. Hal ini menjadi signifikan, khususnya jika ayah Elisha adalah tuan tanah yang dianggap kaya di kota Abel-mehola, tidak secara sembarangan sebuah jubah dapat dipindah-tangankan pada waktu itu.
Namun hal yang paling berkesan buat saya pribadi bukanlah mengenai jubah, namun mengenai apa yang Elisa lakukan setelahnya. Dikatakan bahwa ia mengambil pasangan lembu itu, menyembelihnya dan memasak dagingnya dengan bajak lembu itu sebagai kayu api; ia memberikan daging itu kepada orang-orangnya (Ayat 21). Elisa tanpa ragu "burn the bridge," dia tidak memberi kesempatan bagi dirinya untuk menoleh ke belakang untuk dapat fokus kepada panggilan Tuhan di depannya. Elisa tidak mencoba bernegosiasi untuk mendapatkan kelonggaran untuk "part-time." Hal ini sejalan dengan apa yang Tuhan Yesus katakan di Lukas 9:62, "Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah."
Tentu disini saya tidak meminta semua orang menjadi pendeta atau pelayan penuh waktu di sebuah gereja. Kita bisa melihat apa yang Elisa lakukan dalam konteks menjalani hidup yang baru bersama dengan Tuhan. Tuhan mau komitmen kita secara penuh, menjadikan Ia sebagai prioritas yang utama dalam hidup kita. Ketika Tuhan Yesus mati di atas kayu salib bagi kita semua, tidak ada kompromi yang Ia lakukan dalam prosesnya, hal yang sama juga Ia harapkan kepada kita. Jelas sekali dari dahulu bahwa Tuhan tidak memiliki toleransi akan hal ini, dimana hukum pertama yang Tuhan firmankan dalam sepuluh perintah Allah ialah: Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. (Keluaran 20:3)
Bagaimana kita mengatur dan menghabiskan waktu kita, bagaimana kita mengatur urutan kegiatan kita bisa menjadi refleksi apakah Tuhan menempati posisi utama dalam hidup kita, atau masih banyak kegiatan lain yang kita anggap lebih penting atau mendesak untuk kita selesaikan dahulu sebelum kita mencari Tuhan? Maka tepatlah peringatan bagi kita dari Firman Tuhan yang berkata: Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. (Matius 6:33)
Pengertian akan hal inilah yang akhirnya membuat saya mengerti dengan lebih baik mengapa dalam Lukas 14:26-27 Tuhan Yesus berkata: "Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku." Ia jelas tidak meminta kita membenci keluarga kita, namun Ia meminta tempat yang terutama dalam hidup kita yang tidak dapat diganggu-gugat oleh hal-hal lainnya, termasuk hubungan keluarga kita. Jika kita tunduk dan ikut sepenuhnya kepada Tuhan tanpa kompromi, maka dengan sendirinya perintah: Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu (Keluaran 20:12) dapat kita jalani dengan benar. Jika hubungan kita dengan Tuhan tidak kokoh maka hubungan kita dengan sesama manusia tidak akan pernah benar. Sama seperti kayu salib, dimana jika tiang vertikal yang menghadap ke atas tidak kokoh, maka tiang horizontal yang menyamping tidak akan dapat terpasang (tidak mungkin mengambang bukan?). Pengertian ini jugalah yang menjelaskan mengapa tertulis: Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan (Efesus 5:22) dan Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya (Efesus 5:25) dimana dalam kedua perintah ini, Tuhan menjadi referensinya. Lihat Dia dan ikuti apa yang Kristus lakukan. Bukankah inilah arti sesungguhnya menjadi pengikut Kristus? Seorang pengikut akan selalu bertanya terlebih dahulu, "apa yang Yesus akan lakukan jika.." atau "apa yang Yesus ingin saya lakukan dalam keadaan ini?" sebelum melakukan segala sesuatunya dibandingkan menuruti pemikiran dan keinginan pribadi (yang mungkin juga terlihat baik atau benar) - bukan apa yang dilakukan, namun pola pikir mengutamakan Tuhan yang jadi konteksnya.
Selain keluarga, mengertilah dengan jelas bahwa TUHAN mau jadi pribadi yang utama, bukan pelayanan - karena banyak dari kita yang secara sadar maupun tidak sadar menganggap dengan keliru bahwa pelayanan adalah tanda kedekatan kita dengan Tuhan. Orang yang rajin melayani belum tentu merelakan Tuhan sebagai yang utama dalam hidupnya, bisa jadi pelayanan tersebut malah lebih tinggi posisinya dibandingkan dengan Tuhan, seperti apa yang terjadi pada Marta. (Lukas 10:40)
Hanya kita pribadi yang tahu, hal apa yang terkadang merebut posisi utama dalam hidup kita dari Kristus. Mungkin hobi kita, mungkin pekerjaan kita, terkadang keluarga kita, kenyamanan pribadi kita, harta kita, pasangan kita, anak kita, dan hal-hal lainnya yang selalu kita dahulukan dalam keseharian kita. Should God compete with all of that while considering what He'd done for us? As said that For the eyes of the LORD range throughout the earth to strengthen those whose hearts are fully committed to him (2 Chronicles 16:9a). Semoga memberkati. (CBA)
Lalu bagaimana dengan kita? Bagaimana kita meresponi seorang pribadi yang begitu menyayangi kita sehingga telah rela mati untuk kita? Apakah kita membiarkan rasa kasih itu menjadi berat sebelah atau seimbang?
Untuk mengukur apakah bobot yang kita gunakan adalah adil, biasanya kita dapat melihat referensi dari kejadian yang sudah pernah terjadi. Saya menemukan sebuah referensi yang menarik dari Alkitab, yang diceritakan dalam 1 Raja-Raja 19:19-21 ketika Tuhan meminta nabi Elia mengurapi Elisa menjadi nabi menggantikannya; Setelah Elia pergi dari sana, ia bertemu dengan Elisa bin Safat yang sedang membajak dengan dua belas pasang lembu, sedang ia sendiri mengemudikan yang kedua belas. Ketika Elia lalu dari dekatnya, ia melemparkan jubahnya kepadanya. Lalu Elisa meninggalkan lembu itu dan berlari mengikuti Elia, katanya: "Biarkanlah aku mencium ayahku dan ibuku dahulu, lalu aku akan mengikuti engkau." Jawabnya kepadanya: "Baiklah, pulang dahulu, dan ingatlah apa yang telah kuperbuat kepadamu." Lalu berbaliklah ia dari pada Elia, ia mengambil pasangan lembu itu, menyembelihnya dan memasak dagingnya dengan bajak lembu itu sebagai kayu api; ia memberikan daging itu kepada orang-orangnya, kemudian makanlah mereka. Sesudah itu bersiaplah ia, lalu mengikuti Elia dan menjadi pelayannya.
Elisa bin Safat pada masa itu bisa dikatakan merupakan orang yang berasal dari keluarga yang berkecukupan. Dua belas pasang lembu, sebelas orang yang bekerja untuknya mengendalikan lembu, dan sebidang tanah yang luasannya perlu dibajak oleh dua belas pasang lembu tentunya bukan jumlah harta yang sedikit juga bukan bisnis yang tidak menghasilkan. Ditengah semua kesibukannya, apa yang Elisa lakukan? Hal pertama yang Elisa buat adalah melemparkan jubahnya (dalam terjemahan GNT Bible, dikatakan bahwa Elisa memakaikan jubahnya kepada Elia). Padahal pada masa itu jubah merupakan sebuah simbol yang paling jelas akan status seseorang. Hal ini menjadi signifikan, khususnya jika ayah Elisha adalah tuan tanah yang dianggap kaya di kota Abel-mehola, tidak secara sembarangan sebuah jubah dapat dipindah-tangankan pada waktu itu.
Namun hal yang paling berkesan buat saya pribadi bukanlah mengenai jubah, namun mengenai apa yang Elisa lakukan setelahnya. Dikatakan bahwa ia mengambil pasangan lembu itu, menyembelihnya dan memasak dagingnya dengan bajak lembu itu sebagai kayu api; ia memberikan daging itu kepada orang-orangnya (Ayat 21). Elisa tanpa ragu "burn the bridge," dia tidak memberi kesempatan bagi dirinya untuk menoleh ke belakang untuk dapat fokus kepada panggilan Tuhan di depannya. Elisa tidak mencoba bernegosiasi untuk mendapatkan kelonggaran untuk "part-time." Hal ini sejalan dengan apa yang Tuhan Yesus katakan di Lukas 9:62, "Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah."
Tentu disini saya tidak meminta semua orang menjadi pendeta atau pelayan penuh waktu di sebuah gereja. Kita bisa melihat apa yang Elisa lakukan dalam konteks menjalani hidup yang baru bersama dengan Tuhan. Tuhan mau komitmen kita secara penuh, menjadikan Ia sebagai prioritas yang utama dalam hidup kita. Ketika Tuhan Yesus mati di atas kayu salib bagi kita semua, tidak ada kompromi yang Ia lakukan dalam prosesnya, hal yang sama juga Ia harapkan kepada kita. Jelas sekali dari dahulu bahwa Tuhan tidak memiliki toleransi akan hal ini, dimana hukum pertama yang Tuhan firmankan dalam sepuluh perintah Allah ialah: Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. (Keluaran 20:3)
Bagaimana kita mengatur dan menghabiskan waktu kita, bagaimana kita mengatur urutan kegiatan kita bisa menjadi refleksi apakah Tuhan menempati posisi utama dalam hidup kita, atau masih banyak kegiatan lain yang kita anggap lebih penting atau mendesak untuk kita selesaikan dahulu sebelum kita mencari Tuhan? Maka tepatlah peringatan bagi kita dari Firman Tuhan yang berkata: Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. (Matius 6:33)
Pengertian akan hal inilah yang akhirnya membuat saya mengerti dengan lebih baik mengapa dalam Lukas 14:26-27 Tuhan Yesus berkata: "Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku." Ia jelas tidak meminta kita membenci keluarga kita, namun Ia meminta tempat yang terutama dalam hidup kita yang tidak dapat diganggu-gugat oleh hal-hal lainnya, termasuk hubungan keluarga kita. Jika kita tunduk dan ikut sepenuhnya kepada Tuhan tanpa kompromi, maka dengan sendirinya perintah: Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu (Keluaran 20:12) dapat kita jalani dengan benar. Jika hubungan kita dengan Tuhan tidak kokoh maka hubungan kita dengan sesama manusia tidak akan pernah benar. Sama seperti kayu salib, dimana jika tiang vertikal yang menghadap ke atas tidak kokoh, maka tiang horizontal yang menyamping tidak akan dapat terpasang (tidak mungkin mengambang bukan?). Pengertian ini jugalah yang menjelaskan mengapa tertulis: Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan (Efesus 5:22) dan Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya (Efesus 5:25) dimana dalam kedua perintah ini, Tuhan menjadi referensinya. Lihat Dia dan ikuti apa yang Kristus lakukan. Bukankah inilah arti sesungguhnya menjadi pengikut Kristus? Seorang pengikut akan selalu bertanya terlebih dahulu, "apa yang Yesus akan lakukan jika.." atau "apa yang Yesus ingin saya lakukan dalam keadaan ini?" sebelum melakukan segala sesuatunya dibandingkan menuruti pemikiran dan keinginan pribadi (yang mungkin juga terlihat baik atau benar) - bukan apa yang dilakukan, namun pola pikir mengutamakan Tuhan yang jadi konteksnya.
Selain keluarga, mengertilah dengan jelas bahwa TUHAN mau jadi pribadi yang utama, bukan pelayanan - karena banyak dari kita yang secara sadar maupun tidak sadar menganggap dengan keliru bahwa pelayanan adalah tanda kedekatan kita dengan Tuhan. Orang yang rajin melayani belum tentu merelakan Tuhan sebagai yang utama dalam hidupnya, bisa jadi pelayanan tersebut malah lebih tinggi posisinya dibandingkan dengan Tuhan, seperti apa yang terjadi pada Marta. (Lukas 10:40)
Hanya kita pribadi yang tahu, hal apa yang terkadang merebut posisi utama dalam hidup kita dari Kristus. Mungkin hobi kita, mungkin pekerjaan kita, terkadang keluarga kita, kenyamanan pribadi kita, harta kita, pasangan kita, anak kita, dan hal-hal lainnya yang selalu kita dahulukan dalam keseharian kita. Should God compete with all of that while considering what He'd done for us? As said that For the eyes of the LORD range throughout the earth to strengthen those whose hearts are fully committed to him (2 Chronicles 16:9a). Semoga memberkati. (CBA)
Comments