Skip to main content

Seberapa besar Allah mengasihi manusia?

Sebagai pengikut Kristus, ada satu kutipan Alkitab yang paling sering kita dengar seumur hidup kita, yaitu Yohanes 3:16: "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." Minimal setiap kali ada ibadah besar seperti Paskah, Kebangkitan Kristus, maupun perayaan Natal ayat ini umumnya disebutkan paling tidak satu kali dalam setiap ibadah. Dikatakan begitu besar kasih Allah. Namun apakah kita sebenarnya sadar seberapa besar kasih-Nya?

Kira-kira, apakah kita bisa membayangkan, apa yang Allah rasakan saat Adam dan Hawa, manusia yang Allah ciptakan secara khusus dari debu tanah serupa dengan gambar dan rupa-Nya (Kejadian 1:26-27) dan secara personal menerima hembusan nafas kehidupan dari-Nya (Kejadian 2:7), yang ditempatkan di taman terbaik yang ada di dunia (Kejadian 2:8-14), melakukan dosa pertama kali? Satu-satunya larangan yang diberikan-Nya (Kejadian 2:17) dilanggar. Setelah manusia diusir dari taman eden, manusia pun mulai beranak cucu dan memenuhi muka bumi. Sayangnya, kualitas hidup manusia semakin menurun sejak saat itu. Adam mencapai umur sembilan ratus tiga puluh tahun sebelum ia mati (Kejadian 5:5) namun pada masa Musa, ia hanya mencapai umur seratus dua puluh tahun (Kejadian 6:3, Ulangan 34:7) sebelum ia mati, meskipun matanya belum kabur dan kekuatannya belum hilang.

Menurunnya kualitas manusia, tidak hanya dalam aspek fisik, namun dalam aspek moral juga, dimana Allah sendiri melihat bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata, bahkan Allah berkata bahwa yang ditimbulkan hati manusia adalah jahat dari sejak kecilnya (Kejadian 8:21) begitu parahnya keadaan manusia saat itu hingga Allah menyesal akan ciptaan-Nya dan pilu hati-Nya (Kejadian 6:5-6). Murka-Nya pun tiba (Kejadian 6:7). Setelah semuanya itu, Yesus tetap berkata, "Begitu besar kasih Allah akan dunia ini.."

Dalam perenungan yang saya dapatkan, skala besarnya kasih Allah sebenarnya tidak cukup digambarkan oleh ayat tersebut. Namun seluruh kisah Alkitab secara garis besar menceritakan begitu besarnya kasih Allah. Mengapa saya katakan seperti itu? Mari kita coba gali bersama-sama.

Pada awal masa manusia berkembang setelah dikeluarkan dari taman eden, hanya beberapa orang yang dapat bertemu dan berkomunikasi secara langsung dengan Allah. Semuanya itu bahkan dimulai lewat inisiasi atau persetujuan Allah. Setelah terakhir kali tercatat bahwa Allah berkomunikasi dengan Nuh (Kejadian 9:17), tidak lagi ada catatan komunikasi personal Allah dengan manusia hingga komunikasi Allah dengan Abram (Kejadian 12:1). Bahkan kebanyakan komunikasi Allah kepada manusia pada masa itu adalah lewat Firman terlepas dari beberapa kali Allah menampakkan diri dengan cara-cara lainnya.

Dalam kitab Keluaran, pada awalnya hanya Musa yang diperkenankan bertemu dengan Allah (Keluaran 24:2) bahkan diceritakan kemudian bahwa untuk masuk ruang maha suci agar dapat berkomunikasi dengan Allah para imam yang sudah ditunjuk perlu menjalankan begitu banyak hal yang perlu dipersiapkan terlebih dahulu (Keluaran 25-30). Hal ini semua dikarenakan manusia yang tidak kudus tidak dapat bertemu Allah yang kudus.

Namun layaknya Allah mau diri-Nya dipanggil Bapa (Matius 5:16), bahkan sejak jaman Musa (Keluaran 15:2), kasih-Nya kepada manusia tidak cukup ditunjukkan lewat Firman-Nya saja. Kita tahu bahwa tidak ada orang tua yang tidak memiliki keinginan untuk berhubungan dengan dekat dengan anak-anaknya, setiap orang tua memiliki keinginan untuk bertemu dengan anaknya, dan memperhatikan mereka dari dekat. Allah pun sebagai Bapa mau berada dekat dengan anak-anak-Nya, maka Ia turun ke dunia dengan mengutus Anak-Nya yang tunggal, supaya manusia dapat bertemu muka dengan muka kepada-Nya (Yohanes 1:14).

Lewat cara ini Allah dapat dengan mudah berinteraksi dengan begitu banyak manusia, mengajarkan banyak hal, dan melakukan pekerjaan yang dikehendaki-Nya, seperti yang telah Yesus katakan dalam Yohanes 14:10, "Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya." Namun ternyata hal ini sepertinya pun tidak cukup menggambarkan kasihnya kepada kita, sehingga Ia pun mengaruniakan kehadiran-Nya kepada kita dengan mengutus Roh Kudus sebagai perwakilan-Nya (Yesaya 11:2). Rasul Paulus pun berkata: "Karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita" (Roma 5:5).

Jika Yesus hanya bisa berada di satu tempat pada satu waktu, hanya bisa mengajar kepada sejumlah orang yang terbatas jumlahnya, hanya bisa menyembuhkan sekian jumlah orang secara bersamaan di sebuah tempat, maka Roh Kudus menjadi perluasan kasih Allah, dimana Roh Kudus yang ada dalam hati setiap dari kita memberikan kita akses langsung kepada Allah yang membuat kita:
  • Penuh dengan harapan setiap saat, seperti yang tertulis dalam Roma 15:13: "Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan."
  • Menerima kuasa untuk melakukan pekerjaan-Nya, seperti yang dikatakan pada Kisah Para Rasul 1:8: "Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi."
  • Dibantu dalam kelemahan kita berkomunikasi dengan Allah. Dimana Rasul Paulus dalam Roma 8:26 mengatakan: "Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan."
  • Dihibur, diajar, dan diingatkan akan apa yang Allah sudah ajarkan, seperti apa yang telah Yesus katakan: "Tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu." (Yohanes 14:26)
Apa yang Allah bisa lakukan, Yesus bisa lakukan, dan apa yang Yesus bisa lakukan, Roh Kudus juga mampu melakukannya. Terlebih lagi, Roh Kudus menyertai kita dan diam di dalam kita (Yohanes 14:17). Bayangkan, Allah menyertai kita setiap detik dalam hidup kita, dalam kondisi apapun! Inilah skala begitu besarnya kasih Allah akan dunia ini bagi saya.

Yang terbaik dari semuanya ini, Allah akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya (Lukas 11:13). Hal ini sesuai dengan Janji yang diucapkan Tuhan dalam Matius 7:8, "Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan." Artinya, SEMUA orang dapat menerima anugerah ini, tanpa terkecuali, termasuk ANDANow you tell me, how great is our God? (CBA)

Comments