Skip to main content

Peranan Seseorang yang Sederhana Dalam Mukjizat Besar

Salah satu mukjizat terbesar yg pernah Yesus lakukan adalah membangkitkan Lazarus (Yohanes 11). Pernahkah kita tahu dibalik mukjizat itu ada peranan seorang wanita sederhana (ordinary) yang bernama Maria? Membangkitkan orang yang sudah mati merupakan salah satu mukjizat yang sangat sulit terjadi, secara manusia cenderung tidak dimungkinkan. Secara kemampuan manusia, sakit bisa disembuhkan, cacat bisa diperbaiki, namun yang sudah meninggal tidak dapat dibangkitkan kembali. Mukjizat ini juga yang menyatakan betapa besarnya kuasa yang diberikan Bapa kepada Tuhan Yesus pada saat Ia berada di dunia sebagai bukti bahwa Ia adalah Anak yang dikasihi-Nya.

Di tengah keadaan yang tidak pasti seperti sekarang ini, banyak dari kita tidak siap dalam menghadapinya. Keadaan saat ini datang secara tiba-tiba dan tidak memberi manusia waktu untuk mempersiapkan apapun. Keadaan ini membuat kita sadar bahwa kita sangat membutuhkan pertolongan Tuhan. Tentu banyak dari kita berkata bahwa kita sudah berdoa kepada Tuhan dan meminta pertolongan-Nya, namun mungkin kita bisa belajar dari Maria, bagaimana Maria meminta Yesus kembali mengadakan mukjizat-Nya. Dalam kisah Maria, diceritakan bahwa Maria memiliki seorang saudari bernama Marta, dan meskipun keduanya mengenal pribadi Yesus secara dekat, keduanya memiliki perbedaan signifikan yang kita bisa pelajari bersama.

Beberapa hal mengenai pribadi Maria yang tercatat di Alkitab:
  • Pertama kali Maria bertemu dengan pribadi Yesus adalah pada saat Yesus sedang makan dirumah seorang Farisi bernama Simon (Lukas 7:38 - Yohanes 11:2). Pertemuan pertama Maria dengan Yesus mensignifikansikan pertobatannya, seperti yang tertulis pada Lukas 7:48Lalu Ia berkata kepada perempuan itu: "Dosamu telah diampuni."
  • Maria yang mengalami pertobatan saat berjumpa dengan Yesus, tentu meletakkan Yesus - pribadi penyelamatnya sebagai prioritas utamanya. Maria memilih untuk duduk dekat kaki Tuhan, mendengarkan perkataan-Nya, dan membangun hubungan dengan Yesus (Lukas 10:39). Hal ini sendiri disebutkan Yesus sebagai bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya (Lukas 10:42).
  • Hubungan dekat yang Maria bangun terhadap Yesus terlihat pada saat Maria yang menghampiri Yesus menceritakan kesedihannya kepada Yesus dengan tersungkur dan menangis (Yohanes 11:32-33) yang kemudian membuat Yesus "moved in spirit" dan ikut terharu dan menangis. Saya rasa tidak mudah bagi kita untuk benar-benar bisa ikut terharu mendengarkan cerita orang yang tidak kita kenal sama sekali.
  • Setelah semuanya berlalu, Maria secara konsisten terus memberikan yang terbaik kepada Yesus, dimana pada saat Yesus kembali datang ke Betania, ia kembali mengurapi kaki Yesus dengan minyak narwastu murni, yang terbaik yang ia miliki dan menyekanya dengan rambutnya (Yohanes 12:3)
Sebagai pembading, berikut adalah hal-hal mengenai pribadi Marta:
  • Berbanding terbalik dengan Maria, Marta memberi prioritas kepada aktivitas melayani para tamu dibandingkan memberikan waktunya kepada pribadi Yesus yang hadir dirumahnya (Lukas 10:40)
  • Tingkat keintiman Marta dan Maria bergitu berbeda secara signifikan, terlihat ketika Marta datang kepada Yesus dan bercerita tanpa keintiman yang dekat (Yohanes 11:20-21)
  • Pada percakapan Marta dengan Yesus, terlihat bahwa Marta merupakan seorang pribadi yang cenderung cepat berkata namun lambat mendengar, ketika Yesus berkata "Saudaramu akan bangkit." Marta gagal memahami apa yang sebenarnya hendak Yesus lakukan (Yohanes 11:23-24). 
  • Tingkat pengenalan Marta yang lebih dangkal membuat Marta tidak memiliki iman bahwa Yesus sanggup membangkitkan Lazarus, hingga Yesus bertanya kepada Marta, dalam Yohanes 11:25-26  "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?" meskipun pada akhirnya Marta sendiri berkata "Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia." (Yohanes 11:27) Marta kehilangan esensi bahwa iman percaya yang menjadi dasar keselamatan, seperti tertulis pada surat Roma 10:10, "Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan."
Pertanyaan kepada diri kita saat ini, apakah selama ini pribadi kita seperti Maria atau Marta? Kita tentu bisa menilai diri kita sendiri, dan melakukan perubahan-perubahan kecil dalam sikap kita kepada Tuhan untuk dapat melihat bagaimana Tuhan dapat bekerja dalam kehidupan kita, terlepas dari apapun kondisi yang sedang kita hadapi saat ini. (AAN)

Comments