Di akhir tahun 90an, ada sebuah lagu yang cukup sering terdengar pada masa itu, diciptakan oleh Melly Goeslaw dan dinyanyikan oleh Krisdayanti, judulnya sama dengan judul postingan ini, menghitung hari. (Jangan coba menebak umur penulis...) Ya, dalam masa-masa tanggap darurat COVID-19, banyak yang mengalami kebosanan dan kebingungan di rumah masing-masing, sehingga frasa menghitung hari jadi sesuatu yang cukup masuk konteks saat ini. Ketika mendengar tentang menghitung hari, mungkin kita membayangkan begitu bosannya kita hingga perlu menghitung hari. Tapi ternyata dalam konteks Alkitab, menghitung hari punya makna yang begitu dalam loh!
Kitab Mazmur sendiri sebenarnya terbagi dalam lima bagian, dan bagian keempat dimulai dari Mazmur 90, dengan judul Doa Musa, abdi Allah. Pada pasal tersebut, ada satu ayat dimana musa berkata: "Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana." Dalam terjemahan lainnya juga dikatakan: Teach us to use wisely all the time we have. (Psalms 90:12 CEV)
Hal ini seiring dengan tulisan Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus, Itulah sebabnya dikatakan: "Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu." Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan. (Efesus 5:14-17)
Pada masa dimana segala pergerakan hidup menjadi melambat saat ini, justru kita perlu menghitung waktu dengan bijak, karena kita tidak pernah tahu kapan perlambatan ini selesai, atau kapan percepatan tiba-tiba melanda, jangan kita terperangkap dalam pelambatan ini, miliki hikmat yang jelas tentang tujuan perjalanan yang hendak kita tuju.
Visi atau tujuan perjalanan kita menjadi sesuatu yang jauh lebih penting dibandingkan seberapa cepat kita melangkah, karena banyak orang bergerak dengan cepat, tapi tidak mengalami kemajuan apapun dalam perjalanannya. Bagi sebagian dari kita yang belum memiliki visi atau tujuan yang jelas, kita bisa menggunakan perlambatan ini sebagai titik perhentian sementara untuk berpikir dengan jernih, mendekatkan diri kepada Tuhan dan menyelaraskan pikiran kita denganNya.
Pengkhotbah pun berkata: "Lagi aku melihat di bawah matahari bahwa kemenangan perlombaan bukan untuk yang cepat, dan keunggulan perjuangan bukan untuk yang kuat, juga roti bukan untuk yang berhikmat, kekayaan bukan untuk yang cerdas, dan karunia bukan untuk yang cerdik cendekia, karena waktu dan nasib dialami mereka semua." Yang kemudian diikuti dengan: "Karena manusia tidak mengetahui waktunya. Seperti ikan yang tertangkap dalam jala yang mencelakakan, dan seperti burung yang tertangkap dalam jerat, begitulah anak-anak manusia terjerat pada waktu yang malang, kalau hal itu menimpa mereka secara tiba-tiba." (Pengkhotbah 9:11-12)
Disinilah saya diingatkan untuk selalu siap sedia, menghitung hari dalam pengertian kita akan kehendak Tuhan, sehingga kita selalu memiliki respon yang tepat akan apapun yang terjadi kedepannya. Ingat bahwa semuanya ini merupakan sebuah marathon panjang, yang mana Rasul Paulus sendiri berkata pada masa-masa akhirnya: Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. (2 Timotius 4:7)
Mungkin sebagian dari kita bingung, bagaimana mengerti kehendak Tuhan. Jangankan mengerti kehendakNya, sepertinya berkomunikasi denganNya pun bukan hal yang mudah. Sebenarnya hal ini sama dengan bagaimana kita membangun hubungan dengan orang-orang di sekeliling kita. Untuk kita dapat mengerti kemauan (kehendak) dari pasangan kita, sahabat kita, orang tua kita, tentu kita harus menghabiskan waktu yang banyak dan intens dengan mereka, bukan? Semakin lama kita menghabiskan waktu dengan mereka, kita pun dapat dengan mudah mengenali suara mereka dari jauh atau tanpa perlu melihat wajah mereka. Jadi, untuk dapat mengerti kehendak Tuhan, kita perlu menghabiskan waktu lebih banyak dengan Tuhan.
Menghabiskan waktu dengan Tuhan adalah kegiatan yang sangat sederhana, sesederhana berdoa dan membaca Alkitab. Sebagian dari kita mungkin tidak terbiasa berdoa, atau bingung mau mengatakan apa dalam doa kita, maka membaca Alkitab menjadi langkah awal yang mudah, apalagi ditengah jaman modern ini, dimana Alkitab dapat diakses dari mana saja dengan media apapun yang kita miliki. Mengapa dimulai dengan membaca Alkitab? Yohanes memulai tulisannya dengan perkataan: "Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah." (Yohanes 1:1)
Mari kita mulai menggunakan waktu kita dengan benar dan menghitung hari-hari kita dengan bijaksana! Tuhan Yesus memberkati. (CBA)
Kitab Mazmur sendiri sebenarnya terbagi dalam lima bagian, dan bagian keempat dimulai dari Mazmur 90, dengan judul Doa Musa, abdi Allah. Pada pasal tersebut, ada satu ayat dimana musa berkata: "Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana." Dalam terjemahan lainnya juga dikatakan: Teach us to use wisely all the time we have. (Psalms 90:12 CEV)
Hal ini seiring dengan tulisan Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus, Itulah sebabnya dikatakan: "Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu." Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan. (Efesus 5:14-17)
Pada masa dimana segala pergerakan hidup menjadi melambat saat ini, justru kita perlu menghitung waktu dengan bijak, karena kita tidak pernah tahu kapan perlambatan ini selesai, atau kapan percepatan tiba-tiba melanda, jangan kita terperangkap dalam pelambatan ini, miliki hikmat yang jelas tentang tujuan perjalanan yang hendak kita tuju.
Visi atau tujuan perjalanan kita menjadi sesuatu yang jauh lebih penting dibandingkan seberapa cepat kita melangkah, karena banyak orang bergerak dengan cepat, tapi tidak mengalami kemajuan apapun dalam perjalanannya. Bagi sebagian dari kita yang belum memiliki visi atau tujuan yang jelas, kita bisa menggunakan perlambatan ini sebagai titik perhentian sementara untuk berpikir dengan jernih, mendekatkan diri kepada Tuhan dan menyelaraskan pikiran kita denganNya.
Pengkhotbah pun berkata: "Lagi aku melihat di bawah matahari bahwa kemenangan perlombaan bukan untuk yang cepat, dan keunggulan perjuangan bukan untuk yang kuat, juga roti bukan untuk yang berhikmat, kekayaan bukan untuk yang cerdas, dan karunia bukan untuk yang cerdik cendekia, karena waktu dan nasib dialami mereka semua." Yang kemudian diikuti dengan: "Karena manusia tidak mengetahui waktunya. Seperti ikan yang tertangkap dalam jala yang mencelakakan, dan seperti burung yang tertangkap dalam jerat, begitulah anak-anak manusia terjerat pada waktu yang malang, kalau hal itu menimpa mereka secara tiba-tiba." (Pengkhotbah 9:11-12)
Disinilah saya diingatkan untuk selalu siap sedia, menghitung hari dalam pengertian kita akan kehendak Tuhan, sehingga kita selalu memiliki respon yang tepat akan apapun yang terjadi kedepannya. Ingat bahwa semuanya ini merupakan sebuah marathon panjang, yang mana Rasul Paulus sendiri berkata pada masa-masa akhirnya: Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. (2 Timotius 4:7)
Mungkin sebagian dari kita bingung, bagaimana mengerti kehendak Tuhan. Jangankan mengerti kehendakNya, sepertinya berkomunikasi denganNya pun bukan hal yang mudah. Sebenarnya hal ini sama dengan bagaimana kita membangun hubungan dengan orang-orang di sekeliling kita. Untuk kita dapat mengerti kemauan (kehendak) dari pasangan kita, sahabat kita, orang tua kita, tentu kita harus menghabiskan waktu yang banyak dan intens dengan mereka, bukan? Semakin lama kita menghabiskan waktu dengan mereka, kita pun dapat dengan mudah mengenali suara mereka dari jauh atau tanpa perlu melihat wajah mereka. Jadi, untuk dapat mengerti kehendak Tuhan, kita perlu menghabiskan waktu lebih banyak dengan Tuhan.
Menghabiskan waktu dengan Tuhan adalah kegiatan yang sangat sederhana, sesederhana berdoa dan membaca Alkitab. Sebagian dari kita mungkin tidak terbiasa berdoa, atau bingung mau mengatakan apa dalam doa kita, maka membaca Alkitab menjadi langkah awal yang mudah, apalagi ditengah jaman modern ini, dimana Alkitab dapat diakses dari mana saja dengan media apapun yang kita miliki. Mengapa dimulai dengan membaca Alkitab? Yohanes memulai tulisannya dengan perkataan: "Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah." (Yohanes 1:1)
Mari kita mulai menggunakan waktu kita dengan benar dan menghitung hari-hari kita dengan bijaksana! Tuhan Yesus memberkati. (CBA)
Comments