Baru-baru ini saya sedang membaca sebuah buku berjudul Not a Fan. Apa yang dituliskan Kyle Idleman dalam buku tersebut cukup membuat pribadi saya terdiam dan berpikir dalam. Sebuah kalimat yang begitu mengguncang hati saya adalah: "Fans of Jesus who know all about Him, but they don't know Him." Buku ini mengajak kita bertanya kepada diri kita sendiri, apakah kita merupakan seorang pengikut (FOLLOWER) Kristus? Atau kita hanya pengagum (FAN) Kristus?
Saya begitu terpukau dengan fakta bahwa Yesus tidak perduli dengan berapa banyak orang yang menyukai atau mengagumi-Nya. Apa yang terjadi pada kisah yang diceritakan pada injil Yohanes pasal 6, membuat mata saya terbuka, bahwa ada satu karakter Kristus yang selama ini saya tidak kenali. Yohanes 6 seringkali dibahas atau diangkat dalam khotbah yang kita dengar selama ini. Kebanyakan dari kita mungkin mengingat pasal ini sebagai kisah Yesus memberi makan lima ribu laki-laki beserta keluarganya hanya dengan lima roti jelai dan dua ikan atau kisah tentang Yesus yang berjalan di atas air. Kisah-kisah ini begitu terkenal hingga saya melewatkan sebuah kejadian penting yang mengikutinya.
Kita tahu bahwa begitu banyak orang mencari dan mengikuti Yesus pada saat itu karena mereka melihat mujizat-mujizat penyembuhan, yang diadakan-Nya terhadap orang-orang sakit (Yohanes 6:2) dan Yesus yang tergerak hati-Nya melayani orang banyak itu dengan mengajar (Markus 6:34) dan menyembuhkan mereka yang sakit (Matius 14:14, Lukas 9:11), dan kemudian terjadilah kisah yang begitu terkenal tentang Yesus mengucap syukur dan memberi mereka makan. Bayangkan jika kita ada ditengah-tengah lima ribu laki-laki tersebut, betapa mengagumkan Yesus pada saat itu, bukan? Sedemikian megagumkannya Yesus hingga orang-orang itu hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja (Yohanes 6:15).
Orang-orang banyak yang sudah melihat betapa ajaibnya yang diperbuat oleh Yesus pada saat itu, tentu tidak akan dengan mudah meninggalkanNya. Mereka yang sadar bahwa Yesus tidak ada lagi disana, mereka pun berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus (Yohanes 6:24). Setelah mereka menemukan Yesus di seberang, mereka bertanya "Rabi, bilamana Engkau tiba di sini?" (Yohanes 6:25). Pertanyaan ini seperti pertanyaan basa-basi yang terdengar canggung, bukan? Pada ayat selanjutnya Yesus berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang." (Yohanes 6:26). Kyle Idleman dalam bukunya menyebut bahwa mereka hendak mencari "All you can eat" buffet pada pribadi Yesus. Seperti yang mereka katakan pada ayat 34, "Tuhan, berikanlah kami ROTI itu SENANTIASA." Seketika menu yang Yesus tawarkan pada saat itu berubah, "Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi." (Yohanes 6:35).
Ekspektasi yang tidak terjawab tentu menciptakan rasa kecewa, dimana tercatat bahwa kerumuman orang-orang itu bersungut-sungut (Yohanes 6:41). Hal yang mengherankan saya bahwa hal ini bukan hanya terjadi kepada kerumunan orang-orang banyak, namun juga kepada banyak dari murid-murid-Nya (Yohanes 6:61) hingga pada akhirnya banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia (Yohanes 6:66).
Yang paling mengejutkan bagi saya adalah, Tuhan Yesus seakan-akan tidak peduli akan orang-orang yang pergi meninggalkan-Nya setelah semua yang ia ajarkan dan lakukan bagi mereka. Pesan yang Ia katakan memang keras (Yohanes 6:60), dan Ia tidak merasa perlu untuk memperlembutnya. Seperti yang Kyle Idleman tuliskan, "it wasn't the size of the crowd Jesus cared about; it was their level of commitment".
Yesus tidak mencari popularitas, Yesus tidak mencari pengagum (FAN), Yesus tidak perduli berapa banyak orang yang menyukai atau membenci-NYa, tetapi Yesus mencari pengikut (FOLLOWER) yang mau diajar dan turut akan perintah-Nya. Menjadi pengikut Kristus bukanlah posisi yang menyenangkan, nyaman, dan memudahkan hidup kita. Yesus mau mengintervensi hidup kita, mengeluarkan kita dari zona nyaman kita, membuat kita membayar harga sebagai konsekuensi mengikut Dia. Ada tingkat komitmen yang perlu kita buktikan jika kita mau menyebut diri kita sebagai pengikut-Nya. Sebagai pemimpin rohani pun kita perlu cukup sadar akan hal ini untuk tidak terjebak "menjual Yesus" selayaknya barang diskon dengan tagline: "harga gratis kualitas terbaik" dan mengumpulkan banyak FAN untuk Yesus.
Orang-orang banyak dan sebagian murid-murid Yesus yang meninggalkan-Nya merupakan pengagum Yesus (FAN), mereka mau berada sedekat mungkin dengan-Nya untuk bisa mendapatkan segala keuntungan yang bisa didapatkan, namun tidak mau terlalu dekat hingga mereka harus melakukan sesuatu yang lebih besar yang berpotensi mengganggu hidup mereka. FAN juga mungkin adalah kelompok orang-orang yang tahu banyak (mungkin hafal segala fakta) tentang Yesus (Knowledge) namun tidak mengenal apa yang menjadi keinginan dan isi hati Yesus. Apakah Yesus membutuhkan orang-orang seperti ini? Para pengagum Kristus seringkali merasa bahwa mereka adalah pengikut-Nya, namun pada hari-hari akhir Tuhan akan berkata kepada para pengagum-Nya "Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!" (Matius 7:23)
Ingat seorang pribadi yang bernama Nikodemus yang sempat disebut di Injil Yohanes? (Yohanes 3:1) Nikodemus sendiri yang mencari Yesus dan berkata "Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya." (Yohanes 3:2). Nikodemus yang merupakan seorang pemimpin agama Yahudi, pada saat itu memiliki posisi karier yang cukup signifikan, dan bertemu Yesus, seorang pribadi yang sangat amat tidak populer di mata kaum Farisi merupakan sebuah resiko besar bagi kariernya, maka menjadi jelas mengapa Ia datang pada waktu malam kepada Yesus (Yohanes 3:2) padahal banyak sekali kesempatan bertemu Yesus di pagi/siang hari saat Ia mengajar - terutama karena ia merupakan seorang pemimpin, pasti dengan mudah diberi akses. Nikodemus seperti seorang pengagum rahasia (secret admirer) Yesus. Inilah mengapa kalimat pertama yang Yesus katakan kepada Nikodemus adalah ".... jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah." (Yohanes 3:3). Yesus mau Nikodemus meninggalkan semuanya (mati) dan lahir baru (mengikut Yesus).
Dalam cerita itu, tidak jelas apa keputusan yang akhirnya diambil oleh Nikodemus, namun pada saat kelompok orang-orang Farisi hendak menangkap Yesus, Nikodemus membela Yesus di depan koleganya dengan balas cibiran "Apakah engkau juga orang Galilea?" yang merendahkan dari mereka (Yohanes 7:51-52). Nikodemus juga yang mengambil mayat Yesus dari tempat penyaliban dan menguburkan-Nya dengan layak, ia bahkan membawa campuran minyak mur dengan minyak gaharu sebanyak lima puluh kati (kurang lebih 30 kg) - Minyak ini bukanlah minyak yang murah, namun amat mahal harganya, dimana minyak narwastu Maria yang lebih rendah kualitasnya sebanyak setengah kati sudah berharga 300 dinar (saat ini 1 dinar kurang lebih 50 ribu rupiah) pada masa itu (Yohanes 12:5). Terlepas dari itu, Nikodemus mengambil mayat Yesus, tidak secara diam-diam lagi, menandakan sikap hati yang telah diambilnya pada saat itu. Tidak diceritakan lebih lanjut tentang Nikodemus, namun dalam gereja Katolik, ia dihormati sebagai Santo, menandakan bahwa ia melakukan hal-hal signifikan untuk tubuh Kristus setelahnya. Sepertinya Nikodemus sudah berubah posisi dari FAN menjadi FOLLOWER.
Sekarang pertanyaan ini dikembalikan kepada kita, Yesus hendak mengklarifikasi hubungan kita dengan-Nya, apakah kita merupakan pengagum-Nya atau pengikut-Nya? Jika kita menyebut diri kita pengikut-Nya, siapkah hidup kita diintervensi oleh Kristus? Siapkah kita untuk hidup sama seperti Kristus telah hidup (1 Yohanes 2:6)? Mengambil keputusan untuk percaya adalah berbeda dengan komitmen untuk mengikuti. (CBA)
Saya begitu terpukau dengan fakta bahwa Yesus tidak perduli dengan berapa banyak orang yang menyukai atau mengagumi-Nya. Apa yang terjadi pada kisah yang diceritakan pada injil Yohanes pasal 6, membuat mata saya terbuka, bahwa ada satu karakter Kristus yang selama ini saya tidak kenali. Yohanes 6 seringkali dibahas atau diangkat dalam khotbah yang kita dengar selama ini. Kebanyakan dari kita mungkin mengingat pasal ini sebagai kisah Yesus memberi makan lima ribu laki-laki beserta keluarganya hanya dengan lima roti jelai dan dua ikan atau kisah tentang Yesus yang berjalan di atas air. Kisah-kisah ini begitu terkenal hingga saya melewatkan sebuah kejadian penting yang mengikutinya.
Kita tahu bahwa begitu banyak orang mencari dan mengikuti Yesus pada saat itu karena mereka melihat mujizat-mujizat penyembuhan, yang diadakan-Nya terhadap orang-orang sakit (Yohanes 6:2) dan Yesus yang tergerak hati-Nya melayani orang banyak itu dengan mengajar (Markus 6:34) dan menyembuhkan mereka yang sakit (Matius 14:14, Lukas 9:11), dan kemudian terjadilah kisah yang begitu terkenal tentang Yesus mengucap syukur dan memberi mereka makan. Bayangkan jika kita ada ditengah-tengah lima ribu laki-laki tersebut, betapa mengagumkan Yesus pada saat itu, bukan? Sedemikian megagumkannya Yesus hingga orang-orang itu hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja (Yohanes 6:15).
Orang-orang banyak yang sudah melihat betapa ajaibnya yang diperbuat oleh Yesus pada saat itu, tentu tidak akan dengan mudah meninggalkanNya. Mereka yang sadar bahwa Yesus tidak ada lagi disana, mereka pun berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus (Yohanes 6:24). Setelah mereka menemukan Yesus di seberang, mereka bertanya "Rabi, bilamana Engkau tiba di sini?" (Yohanes 6:25). Pertanyaan ini seperti pertanyaan basa-basi yang terdengar canggung, bukan? Pada ayat selanjutnya Yesus berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang." (Yohanes 6:26). Kyle Idleman dalam bukunya menyebut bahwa mereka hendak mencari "All you can eat" buffet pada pribadi Yesus. Seperti yang mereka katakan pada ayat 34, "Tuhan, berikanlah kami ROTI itu SENANTIASA." Seketika menu yang Yesus tawarkan pada saat itu berubah, "Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi." (Yohanes 6:35).
Ekspektasi yang tidak terjawab tentu menciptakan rasa kecewa, dimana tercatat bahwa kerumuman orang-orang itu bersungut-sungut (Yohanes 6:41). Hal yang mengherankan saya bahwa hal ini bukan hanya terjadi kepada kerumunan orang-orang banyak, namun juga kepada banyak dari murid-murid-Nya (Yohanes 6:61) hingga pada akhirnya banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia (Yohanes 6:66).
Yang paling mengejutkan bagi saya adalah, Tuhan Yesus seakan-akan tidak peduli akan orang-orang yang pergi meninggalkan-Nya setelah semua yang ia ajarkan dan lakukan bagi mereka. Pesan yang Ia katakan memang keras (Yohanes 6:60), dan Ia tidak merasa perlu untuk memperlembutnya. Seperti yang Kyle Idleman tuliskan, "it wasn't the size of the crowd Jesus cared about; it was their level of commitment".
Yesus tidak mencari popularitas, Yesus tidak mencari pengagum (FAN), Yesus tidak perduli berapa banyak orang yang menyukai atau membenci-NYa, tetapi Yesus mencari pengikut (FOLLOWER) yang mau diajar dan turut akan perintah-Nya. Menjadi pengikut Kristus bukanlah posisi yang menyenangkan, nyaman, dan memudahkan hidup kita. Yesus mau mengintervensi hidup kita, mengeluarkan kita dari zona nyaman kita, membuat kita membayar harga sebagai konsekuensi mengikut Dia. Ada tingkat komitmen yang perlu kita buktikan jika kita mau menyebut diri kita sebagai pengikut-Nya. Sebagai pemimpin rohani pun kita perlu cukup sadar akan hal ini untuk tidak terjebak "menjual Yesus" selayaknya barang diskon dengan tagline: "harga gratis kualitas terbaik" dan mengumpulkan banyak FAN untuk Yesus.
Orang-orang banyak dan sebagian murid-murid Yesus yang meninggalkan-Nya merupakan pengagum Yesus (FAN), mereka mau berada sedekat mungkin dengan-Nya untuk bisa mendapatkan segala keuntungan yang bisa didapatkan, namun tidak mau terlalu dekat hingga mereka harus melakukan sesuatu yang lebih besar yang berpotensi mengganggu hidup mereka. FAN juga mungkin adalah kelompok orang-orang yang tahu banyak (mungkin hafal segala fakta) tentang Yesus (Knowledge) namun tidak mengenal apa yang menjadi keinginan dan isi hati Yesus. Apakah Yesus membutuhkan orang-orang seperti ini? Para pengagum Kristus seringkali merasa bahwa mereka adalah pengikut-Nya, namun pada hari-hari akhir Tuhan akan berkata kepada para pengagum-Nya "Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!" (Matius 7:23)
Dari FAN menjadi FOLLOWER
Dalam cerita itu, tidak jelas apa keputusan yang akhirnya diambil oleh Nikodemus, namun pada saat kelompok orang-orang Farisi hendak menangkap Yesus, Nikodemus membela Yesus di depan koleganya dengan balas cibiran "Apakah engkau juga orang Galilea?" yang merendahkan dari mereka (Yohanes 7:51-52). Nikodemus juga yang mengambil mayat Yesus dari tempat penyaliban dan menguburkan-Nya dengan layak, ia bahkan membawa campuran minyak mur dengan minyak gaharu sebanyak lima puluh kati (kurang lebih 30 kg) - Minyak ini bukanlah minyak yang murah, namun amat mahal harganya, dimana minyak narwastu Maria yang lebih rendah kualitasnya sebanyak setengah kati sudah berharga 300 dinar (saat ini 1 dinar kurang lebih 50 ribu rupiah) pada masa itu (Yohanes 12:5). Terlepas dari itu, Nikodemus mengambil mayat Yesus, tidak secara diam-diam lagi, menandakan sikap hati yang telah diambilnya pada saat itu. Tidak diceritakan lebih lanjut tentang Nikodemus, namun dalam gereja Katolik, ia dihormati sebagai Santo, menandakan bahwa ia melakukan hal-hal signifikan untuk tubuh Kristus setelahnya. Sepertinya Nikodemus sudah berubah posisi dari FAN menjadi FOLLOWER.
Sekarang pertanyaan ini dikembalikan kepada kita, Yesus hendak mengklarifikasi hubungan kita dengan-Nya, apakah kita merupakan pengagum-Nya atau pengikut-Nya? Jika kita menyebut diri kita pengikut-Nya, siapkah hidup kita diintervensi oleh Kristus? Siapkah kita untuk hidup sama seperti Kristus telah hidup (1 Yohanes 2:6)? Mengambil keputusan untuk percaya adalah berbeda dengan komitmen untuk mengikuti. (CBA)
Comments