Skip to main content

Danger ≠ Fear

Sebagai seorang pengikut Kristus, kita diminta untuk: janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan (Yesaya 41:10). Tentu hal ini sering sekali kita dengar, entah dari khotbah atau para pemimpin rohani dan teman rohani yang mencoba menguatkan kita atau orang lain. Saya pribadi sangat setuju dengan kata "Jangan takut!", bukankah Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? (Roma 8:31b)

Ketika Indonesia mulai merasakan penularan masiv pandemi COVID-19, banyak sekali kalangan masyarakat yang terkena dampaknya entah dari sisi kesehatan maupun ekonomi. Yang memperburuk keadaan adalah ketidakpastian kapan pandemi ini akan berakhir. Karena situasi ini, ada sebagian dari kita yang melakukan banyak tindakan persiapan seperti membeli vitamin, alat pelindung diri, cadangan makanan dan lain sebagainya. Ada yang melakukannya dalam batas kewajaran, ada yang mungkin sedikit banyak melewati batas akal yang umum. Tidak dapat dipungkiri bahwa salah satu penyebab dari perilaku-perilaku (yang tidak wajar) ini adalah karena rasa takut.

Tentu saya tidak mengatakan bahwa kita harus dengan santai menanggapi pandemi COVID-19 ini. Kita sebagai orang-orang yang dilabel sebagai pengikut Kristus, tentu harus juga berhikmat, jangan sampai kita mempermalukan Bapa kita di Sorga tentunya. Yang saya maksud dengan hikmat ini adalah kita perlu dengan jelas dapat membedakan mana saat kita mengalami ketakutan (FEAR), dan mana rasa waspada terhadap bahaya (DANGER).

Ada batasan yang jelas akan kedua hal tersebut. Tinggal dalam rasa takut membuat kita cenderung bertindak diluar akal sehat, mengusahakan segala cara untuk dapat keluar dari ketakutan itu sendiri. Bahkan Petrus dalam ketakutnya pun menyangkal Yesus sebanyak tiga kali (Matius 26:69-75). Inilah mengapa Tuhan sering berkata "Janganlah takut!" supaya kita tidak terjerumus dalam kondisi buruk yang kita ciptakan sendiri dari ketakutan tersebut.

Di sisi lain kita juga perlu dengan cakap mengerti akan kewaspadaan terhadap bahaya yang ada di dekat kita. Jangan sampai karena kita tidak merasa takut, kita melakukan apapun dengan seenak hati kita. Ada batasan-batasan yang perlu kita pahami. Ketika Yusuf membawa Maria dan bayi Yesus dalam kandungan untuk menyingkir ke Mesir (Matius 2:14), hal tersebut dilakukan bukan karena mengalami ketakutan, namun kewaspadaan terhadap bahaya. Ketika orang-orang Farisi bersekongkol hendak membunuh Yesus karena Ia menyembuhkan orang di hari Sabat (Matius 12:14-15) Yesus yang sadar akan bahaya pun menyingkir dari sana. Apakah Yesus mengalami ketakutan? Sekali-kali tidak. Kalau hanya karena itu Yesus mengalami ketakutan, bagaimana Ia dapat menghadapi penyaliban-Nya?

Lalu bagaimana kita menghadapi rasa takut yang muncul? Alkitab berkata bahwa: Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih (1 Yohanes 4:18). Kita tentu tidak bisa melarang rasa takut untuk muncul dalam hati kita, Yesus sendiri pun merasa sedih dan gentar sebelum disalibkan (Matius 26:37), apalagi kita. Namun, kita yang telah hidup dalam iman kita kepada Allah sekali-kali tidak perlu membiarkan rasa takut itu menguasai kita dan membuat kita mengalami ketakutan!

Ada alasan logis yang mendasari pernyataan tersebut. Seperti yang sudah disebutkan diatas, di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan. Siapakah kasih yang sempurna? Allah. Karena kita dalam iman percaya bahwa Allah mengasihi kita dengan sempurna, Ia menerima kita apa adanya, menyelamatkan kita lewat Anak-Nya yang tunggal, dan kasihNya kekal adanya, kita tahu bahwa Ia bersama-sama dengan kita setiap waktu. Allah kita yang jauh lebih besar dari masalah dan guncangan yang ada di sekitar kita ada berjalan bersama-sama dengan kita (Ulangan 31:6-8), mengapa kita perlu hidup dalam ketakutan? Ini adalah dasar iman yang sama yang membuat Rasul Paulus berkata dalam Filipi 4:6-7Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.

Ingat kisah Yesus menyembuhkan anak Yairus? Kisah ini tercatat dalam Injil Matius, Markus, dan Lukas. Saya mencoba mengangkat cerita ini dari perspektif Injil Markus (Markus 5:21-43). Diceritakan bahwa ketika Yesus sedang berada di tepi danau, datanglah seorang kepala rumah ibadat yang bernama Yairus. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya dan memohon dengan sangat kepada-Nya: "Anakku perempuan sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup." (Markus 5:22-23). Dalam konteks ini, tentu kita bisa mengerti betapa takut dan khawatirnya Yairus pada saat itu, bahwa anaknya hampir mati - bayangkan ketika orang tua atau pasangan kita sedang dalam kondisi itu, apa yang akan kita rasakan di hadapan Yesus?

Tentu saja Yairus mendapatkan sedikit kelegaan ketika Yesus berkenan untuk datang kerumahnya, namun apa yang terjadi setelahnya tentu sangat tidak membantu. Dalam perjalanan mereka ke rumah Yairus, Yesus memilih untuk berhenti karena merasa ada seseorang yang menjamah jubah-Nya, ditengah kerumunan orang banyak yang berdesak-desakan di sekelilingNya (Markus 5:30-32). Kalau kita ada dalam posisi Yairus saat itu, kira-kira apa yang akan kita rasakan? Hanya karena seseorang menjamah jubah-Nya, Yesus berhenti dan mencari, sedangkan anak perempuannya sedang sekarat dan perlu pertolongan SEGERA!

Lebih parahnya lagi, tepat pada saat itu ada salah satu keluarga Yairus yang datang menghampiri dan berkata "Anakmu sudah mati, apa perlunya lagi engkau menyusah-nyusahkan Guru?" (Markus 5:35). Saya bisa membayangkan betapa kacaunya hati Yairus pada saat itu juga. Pada saat itulah Yesus berkata "Jangan takut, percaya saja!" (Markus 5:36). Dan kita semua tahu bagaimana akhir kisah ini, dimana anak Yairus sembuh dan dapat berjalan pada saat itu juga (bisa kalian bayangkan orang yang sakit parah mendadak dapat berdiri dan berjalan seketika?).

Dari kisah Yairus, bisakah kita sepakah bahwa rasa takut dan khawatir yang melingkupi Yairus sepanjang perjalanannya adalah sia-sia? Tidak dapat kita pungkiri bahwa kita tidak mengetahui dengan jelas apa yang menjadi rencana Allah, bisa saja Yesus saat itu tidak menyembuhkan anak Yairus, namun oleh karena iman kita tetap dengan teguh percaya, Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan (Yeremia 29:11) Belajarlah dari Sadrakh, Mesakh, dan Abednego ketika mereka hendak dilemparkan ke perapian yang menyala-nyala tetap dengan teguh berkata: "Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu." (Daniel 3:17-18)

Semoga memberkati! (CBA)

Comments