Banyak sekali pembahasan mengenai pelayanan dan melayani di dalam lingkup gereja saat ini, saya percaya kita sudah mendengar begitu banyak informasi dan pengajaran mengenai pelayanan juga, namun pada suatu waktu, saya dihadapkan dengan sebuah pertanyaan yang menggelitik, "Mengapa kita harus melayani di Gereja?"
Ketika saya menemukan pertanyaan ini, hal yang pertama kali saya lakukan adalah memeriksa kembali "buku manual" kehidupan yang sudah dipercayakan kepada kita oleh Tuhan. Dan saya sendiri terkejut bahwa tidak ada kalimat spesifik dalam Alkitab yang mengatakan bahwa kita diminta untuk dapat melayani di sebuah kumpulan orang-orang percaya atau yang sering kita sebut Gereja. Bahkan saya dapat menyimpulkan walau dengan setengah bercanda, mengingat kita dikatakan sebagai GARAM dan TERANG dunia, apakah kita dapat mengasinkan sekeliling kita jika kita berada di tengah kumpulan garam? Bukankah kumpulan garam yang terlalu banyak menyebabkan tekanan darah tinggi? Dan apakah kita bisa berfungsi sebagai terang di dalam ruangan yang terang benderang? Bukankah kumpulan terang yang terlalu banyak menyilaukan mata dan merusak pandangan?
Lalu apakah saya kemudian juga mengatakan, tidak perlu kita melayani di Gereja? Tentu tidak! Ketika hikmat saya yang dangkal tidak mampu menjawab pertanyaan tersebut, saya kemudian bertanya kepada Pemilik hikmat itu sendiri. "Tuhan, apa makna pertanyaan ini bagi saya?" Setelah saya merenung dan berpikir, akhirnya turunlah sedikit hikmat, yang semoga bisa juga menjadi jawaban bagi Anda yang membaca tulisan ini.
Dalam perenungan saya, Tuhan membawa saya kembali kepada tujuan melayani yang paling dasar. Tuhan mengingatkan saya akan dua hukum yang terutama (hukum KASIH) yang diajarkan oleh Yesus dalam injil Matius 22:37-39: "Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Melayani sendiri merupakan sebuah perwujudan yang nyata dari kedua hukum ini. Ingat ketika saya pernah mengatakan bahwa kita bisa memberi tanpa mengasihi, namun kita tidak mungkin mengasihi tanpa memberi? Melayani adalah sebuah tindakan memberikan waktu, pikiran, tenaga dan mungkin harta kita untuk sesuatu yang lebih dari pada diri kita sendiri, baik kepada Tuhan, dan kepada sesama kita.
Melayani sebagai tindakan kasih kepada Tuhan, selain merupakan ketaatan kita kepada Tuhan (Ulangan 11:1; Yohanes 14:15) seharusnya juga membuat kita sadar bahwa karena kita mengasihi Tuhan dan begitu bersyukur atas pemeliharaanNya, kita memberikan sebagian tenaga, waktu, pikiran, terkadang harta kita untuk pekerjaanNya (membuat orang lain mengenal Kristus melalui kasih). Rasul Paulus sendiri pernah berkata dalam 1 Korintus 9:19, Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang. Dalam konteks kasih kepada sesama, Galatia 5:13 juga menyatakan: "Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih."
Lalu apa hubungannya ini semua dengan pelayanan di dalam Gereja? Ketika saya bertanya dalam hati saya seperti itu, Tuhan menghadiahkan firmanNya kepada saya dalam Roma 12:2, "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna." dan dalam Roma 12:16, "Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai!"
Setelah saya mendapatkan ayat ini, saya akhirnya sadar akan jawaban sebenarnya dari pertanyaan di hati saya tadi. Tuhan memang tidak mengatur kita secara spesifik, dimana kita harus melayani, namun Dia mengatur dengan jelas tentang prinsip memuridkan dalam komunitas orang percaya. Tuhan Yesus sebelum ia terangkat berpesan kepada murid-muridNya yang kelak menjadi dasar gereja mula-mula dalam Matius 28:19-20, "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." Disinilah peran Gereja dalam pelayanan kita, yaitu sebagai wadah tempat kita dimuridkan dan dibaharui secara terus-menerus (Kolose 3:9-10), belajar dan menerima teladan, mengenai cara kita seharusnya melayani antara seorang dengan yang lain dalam kasih. Gereja menjadi tempat kita berlatih terus menerus, menghadapi orang-orang yang berbeda kepribadian, latar belakang dan kebutuhannya, mengajarkan kita untuk terus secara konsisten melayani secara rutin, yang pada akhirnya membangun kebiasaan kita dalam melayani dalam kehidupan sehari-hari kita diluar Gereja.
Tanpa melalui pemuridan di Gereja, ada resiko besar dimana kita melayani dengan motivasi atau cara yang salah atau kurang tepat. Tanpa mentor kita tidak punya teladan, tidak punya orang yang akan terus memberi kita masukan untuk perbaikan karakter kita, atau bahkan masukan untuk meningkatkan talenta yang kita pakai dalam pelayanan kita, seperti yang dikatakan dalam 1 Petrus 4:10, "Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah."
Saya sendiri belajar banyak dalam pelayanan saya di Gereja, dimana melayani orang tidak selalu menyenangkan, ada orang-orang yang begitu sulit dipenuhi kebutuhannya, ada orang-orang yang bahkan menjadi batu sandungan dalam pelayanan kita, ada orang-orang yang menguji kesabaran dan kerendahan hati kita, namun di Gereja juga saya diajarkan seperti yang tertulis dalam Efesus 6:5-7, "Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah, dan yang dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia."
Pelayanan yang Tuhan perintahkan, bukan semata-mata untuk kesenangan hati Tuhan saja, namun dengan jelas Yesus berkata "Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu." (Matius 23:11), karena Tuhan mau menepati janjinya dimana Ia akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia (Ulangan 28:13)
Maka kita sebenarnya perlu bersyukur bahwa Tuhan tidak semerta-merta mendorong kita dalam sebuah medan pertempuran yang bernama "pelayanan" tanpa persiapan apapun, namun Ia sudah menyiapkan sebuah wadah terbaik tempat dimana kita dengan sukacita dapat menerima segala pengajaran sekaligus mempraktekkannya untuk melatih diri kita dan menjadikannya gaya hidup yang sesuai dengan perintahNya. Tuhan Memberkati. (CBA)
Ketika saya menemukan pertanyaan ini, hal yang pertama kali saya lakukan adalah memeriksa kembali "buku manual" kehidupan yang sudah dipercayakan kepada kita oleh Tuhan. Dan saya sendiri terkejut bahwa tidak ada kalimat spesifik dalam Alkitab yang mengatakan bahwa kita diminta untuk dapat melayani di sebuah kumpulan orang-orang percaya atau yang sering kita sebut Gereja. Bahkan saya dapat menyimpulkan walau dengan setengah bercanda, mengingat kita dikatakan sebagai GARAM dan TERANG dunia, apakah kita dapat mengasinkan sekeliling kita jika kita berada di tengah kumpulan garam? Bukankah kumpulan garam yang terlalu banyak menyebabkan tekanan darah tinggi? Dan apakah kita bisa berfungsi sebagai terang di dalam ruangan yang terang benderang? Bukankah kumpulan terang yang terlalu banyak menyilaukan mata dan merusak pandangan?
Lalu apakah saya kemudian juga mengatakan, tidak perlu kita melayani di Gereja? Tentu tidak! Ketika hikmat saya yang dangkal tidak mampu menjawab pertanyaan tersebut, saya kemudian bertanya kepada Pemilik hikmat itu sendiri. "Tuhan, apa makna pertanyaan ini bagi saya?" Setelah saya merenung dan berpikir, akhirnya turunlah sedikit hikmat, yang semoga bisa juga menjadi jawaban bagi Anda yang membaca tulisan ini.
Dalam perenungan saya, Tuhan membawa saya kembali kepada tujuan melayani yang paling dasar. Tuhan mengingatkan saya akan dua hukum yang terutama (hukum KASIH) yang diajarkan oleh Yesus dalam injil Matius 22:37-39: "Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Melayani sendiri merupakan sebuah perwujudan yang nyata dari kedua hukum ini. Ingat ketika saya pernah mengatakan bahwa kita bisa memberi tanpa mengasihi, namun kita tidak mungkin mengasihi tanpa memberi? Melayani adalah sebuah tindakan memberikan waktu, pikiran, tenaga dan mungkin harta kita untuk sesuatu yang lebih dari pada diri kita sendiri, baik kepada Tuhan, dan kepada sesama kita.
Melayani sebagai tindakan kasih kepada Tuhan, selain merupakan ketaatan kita kepada Tuhan (Ulangan 11:1; Yohanes 14:15) seharusnya juga membuat kita sadar bahwa karena kita mengasihi Tuhan dan begitu bersyukur atas pemeliharaanNya, kita memberikan sebagian tenaga, waktu, pikiran, terkadang harta kita untuk pekerjaanNya (membuat orang lain mengenal Kristus melalui kasih). Rasul Paulus sendiri pernah berkata dalam 1 Korintus 9:19, Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang. Dalam konteks kasih kepada sesama, Galatia 5:13 juga menyatakan: "Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih."
Lalu apa hubungannya ini semua dengan pelayanan di dalam Gereja? Ketika saya bertanya dalam hati saya seperti itu, Tuhan menghadiahkan firmanNya kepada saya dalam Roma 12:2, "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna." dan dalam Roma 12:16, "Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai!"
Setelah saya mendapatkan ayat ini, saya akhirnya sadar akan jawaban sebenarnya dari pertanyaan di hati saya tadi. Tuhan memang tidak mengatur kita secara spesifik, dimana kita harus melayani, namun Dia mengatur dengan jelas tentang prinsip memuridkan dalam komunitas orang percaya. Tuhan Yesus sebelum ia terangkat berpesan kepada murid-muridNya yang kelak menjadi dasar gereja mula-mula dalam Matius 28:19-20, "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." Disinilah peran Gereja dalam pelayanan kita, yaitu sebagai wadah tempat kita dimuridkan dan dibaharui secara terus-menerus (Kolose 3:9-10), belajar dan menerima teladan, mengenai cara kita seharusnya melayani antara seorang dengan yang lain dalam kasih. Gereja menjadi tempat kita berlatih terus menerus, menghadapi orang-orang yang berbeda kepribadian, latar belakang dan kebutuhannya, mengajarkan kita untuk terus secara konsisten melayani secara rutin, yang pada akhirnya membangun kebiasaan kita dalam melayani dalam kehidupan sehari-hari kita diluar Gereja.
Tanpa melalui pemuridan di Gereja, ada resiko besar dimana kita melayani dengan motivasi atau cara yang salah atau kurang tepat. Tanpa mentor kita tidak punya teladan, tidak punya orang yang akan terus memberi kita masukan untuk perbaikan karakter kita, atau bahkan masukan untuk meningkatkan talenta yang kita pakai dalam pelayanan kita, seperti yang dikatakan dalam 1 Petrus 4:10, "Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah."
Saya sendiri belajar banyak dalam pelayanan saya di Gereja, dimana melayani orang tidak selalu menyenangkan, ada orang-orang yang begitu sulit dipenuhi kebutuhannya, ada orang-orang yang bahkan menjadi batu sandungan dalam pelayanan kita, ada orang-orang yang menguji kesabaran dan kerendahan hati kita, namun di Gereja juga saya diajarkan seperti yang tertulis dalam Efesus 6:5-7, "Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah, dan yang dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia."
Pelayanan yang Tuhan perintahkan, bukan semata-mata untuk kesenangan hati Tuhan saja, namun dengan jelas Yesus berkata "Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu." (Matius 23:11), karena Tuhan mau menepati janjinya dimana Ia akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia (Ulangan 28:13)
Maka kita sebenarnya perlu bersyukur bahwa Tuhan tidak semerta-merta mendorong kita dalam sebuah medan pertempuran yang bernama "pelayanan" tanpa persiapan apapun, namun Ia sudah menyiapkan sebuah wadah terbaik tempat dimana kita dengan sukacita dapat menerima segala pengajaran sekaligus mempraktekkannya untuk melatih diri kita dan menjadikannya gaya hidup yang sesuai dengan perintahNya. Tuhan Memberkati. (CBA)
Comments