Skip to main content

Perjumpaan yang mengubahkan hidup

Pada hari minggu lalu, di gereja, gembala saya membahas tentang definisi seorang murid, yang dapat dibagi menjadi tiga area, yaitu pikiran, hati (karakter), dan perbuatan. Firman ini begitu menarik untuk saya, karena banyak hal yang bisa kita evaluasi dari diri kita berdasarkan definisi ini. Kami diajarkan bahwa:
  • Murid adalah seseorang yang mengerti perintah Tuhan dan tunduk kepada otoritas
  • Murid adalah seseorang yang hatinya (karakternya) diubahkan oleh Tuhan
  • Murid adalah seseorang yang melakukan misinya Tuhan
Menjadi seorang murid, ternyata tidak cukup hanya lewat niat dan perkataan saja, namun harus ada perubahan yang signifikan antara seorang murid dan bukan seorang murid. Dari firman yang saya dapatkan, ada sebuah hal yang begitu mengena di hati dan pikiran saya setelahnya. Bahwa, walaupun seorang murid harus menghidupi ketiga definisi ini, namun semua perubahan ini dimulai dari hati.

Sebuah poin yang menarik bahwa gembala kami mengajarkan, bahwa perubahan hati terjadi karena kita berjumpa dengan Tuhan. Banyak sekali kisah di Alkitab tentang bagaimana hidup seseorang bisa berubah begitu drastis hanya karena sebuah perjumpaan sederhana dengan Tuhan Yesus, beberapa kisah diantaranya merupakan kisah yang cukup sering kita dengar seperti Zakheus si pemungut cukai (Lukas 19), Perempuan samaria di sumur Yakub (Yohanes 4), dan Saulus menjadi Paulus (Kisah 9). 

Sebelum kita berbagi lebih lanjut, kita perlu tahu bahwa perjumpaan dengan Tuhan tidak dapat dibatasi oleh pemikiran kita yang sempit. Tuhan kita yang adalah seorang creator, mampu melebihi segala kreativitas yang kita miliki dan menyatakan diriNya kepada kita lewat apapun, entah melalui musik, sebuah kejadian sederhana hingga kejadian yang tidak masuk akal, orang-orang terdekat kita maupun orang asing, bahkan jika Ia mau, Ia mampu berbicara bahkan hadir secara pribadi di hadapan kita. Jangan jadikan pengalaman pribadi orang lain dengan Tuhan jadi tolok ukur perjumpaan pribadi kita denganNya, karena setiap dari kita dijadikanNya dengan unik, dan Ia begitu mengerti kebutuhan kita akan perjumpaan pribadi denganNya, Ia mampu merancangkan sedemikian rupa perjumpaanNya dengan begitu indah dan unik.

Perjumpaan dengan Kristus buat saya merupakan awal dari segala pengalaman saya berjalan bersamaNya, walaupun hingga hari ini, saya masih beberapa kali jatuh bangun dalam dosa, namun selama kita ingat bahwa Yesus ada bersama-sama dengan kita senantiasa, selalu ada kekuatan yang memampukan saya untuk bangkit, dan bukan malah pergi menjauh dariNya. Paulus sendiri sebagai seorang pribadi yang diubahkan setelah perjumpaan dengan Tuhan, berkata dalam surat Roma 8:28-30

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.

Dari ayat ini saya menyadari dengan penuh, bahwa bukan karena kekuatan saya, saya mampu mengubah diri saya, pemikiran saya, karakter saya, dan perbuatan saya. Mengubah satu kebiasaan kita yang buruk saja begitu sulit, apalagi karakter kita secara keseluruhan, maka hanya oleh karena Tuhan telah memanggil saya, maka saya punya kesempatan untuk mengalami semua perubahan signifikan ini. Setiap dari kita dipanggil lewat rencanaNya yang unik dan pada waktu yang unik, yang memampukan kita untuk memulai sebuah transformasi yang luar biasa dalam hidup. Hanya, sayangnya ada sebuah celah yang bisa iblis manfaatkan untuk dapat membuat kita kehilangan kesempatan ini, yaitu sebuah frasa "kehendak bebas".

Pribadi Yesus adalah sebuah pribadi yang begitu lembut, Ia tidak pernah memaksa kita untuk segala sesuatu, bahkan Ia mengetuk, tidak memaksakan diriNya untuk masuk kedalam hidup kita sekalipun begitu besar keinginanNya untuk menyelamatkan kita, Ia tidak merampas kehendak bebas kita sama sekali. Sayangnya, sebagian dari kita justru tidak menggunakan kehendak bebas ini dengan benar untuk mendapatkan pengalaman pribadi dengan Tuhan, namun malah menjauh dariNya.

"Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku." (Wahyu 3:20

Masalah kehendak bebas ini pula yang membuat orang yang sudah mengalami bagaimana Tuhan merupakan Tuhan yang hidup dan menjawab doa atau kebutuhannya tetapi tidak mengalami perubahan karakter yang permanen/konsisten dan menjauh dari apa yang menjadi misinya Tuhan. Hal ini juga yang menyebabkan ada orang yang beribadah begitu lama, namun tidak mengalami perubahan apapun dalam hidupnya. Jika hal ini terjadi, maka tempat ibadah hanya menjadi tempat belajar teori agama yang hal prakteknya tergantung pada keuntungan pribadi seperti yang dilakukan oleh orang-orang Farisi pada masa Yesus hidup di dunia.

Karena pada kenyataanNya, bagi setiap orang yang sudah berjumpa dengan Yesus, pasti mampu membedakan antara perbuatan yang benar dan tidak, setiap dari kita mengerti dengan penuh apa dosa itu, dan ketika kita tetap melakukan dosa tersebut, atau memilih untuk tidak melakukan apa yang seharusnya kita lakukan, kita telah menggunakan kehendak bebas yang kita miliki dengan tidak tepat, dan sesungguhnya kita justru membiarkan kebebasan kita dibelenggu oleh dosa kembali.

Hal ini serupa dengan apa yang tercatat dalam kitab Roma 12:2Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna

Firman ini menjadi sebuah teguran yang keras bagi saya pribadi, yang sadar tidak sadar masih ada sifat-sifat buruk yang saya pribadi belum buang sepenuhnya. Saya benar-benar diingatkan untuk dapat menggunakan kehendak bebas saya dengan tepat, tidak lagi tertipu dengan "kebebasan" yang salah, namun sadar dengan penuh bahwa oleh karena kemurahan Tuhan saya ada sampai hari ini, dan tugas saya adalah memuliakan namaNya lewat segala perbuatan saya, baik yang dilihat manusia maupun yang tidak dilihat manusia. Bagaimana dengan Anda? 

Tuhan memberkati. (CBA)

Comments