Di zaman modern ini, banyak hal yang berubah dalam peradaban manusia, banyak standard yang berubah, banyak persepsi dan definisi juga tidak seperti dulu lagi. Namun diantara semuanya itu, yang paling banyak berubah adalah definisi tentang hubungan dan kasih. Mengapa hal ini menjadi penting untuk dibahas? Karena setiap dari kita pasti memiliki minimal satu orang yang kita kasihi dengan segenap hati kita atau paling tidak sama pentingnya dengan diri kita sendiri.
Jika kita melihat apa yang terjadi di dalam masyarakat, dimana banyak hubungan yang sepertinya baik menjadi kandas karena satu dan lain hal, bahkan pada faktanya, jumlah perceraian di Indonesia setiap tahun pun meningkat. Menurut saya pribadi, pergeseran makna kasih menjadi akar utama dari terjadinya hal ini, apalagi dalam beberapa waktu terakhir, saya banyak membantu beberapa permasalahan relasi yang cukup kompleks sehingga saya mulai berpikir ulang mengenai kasih, terutama apa sih kata Tuhan mengenai kasih? Tuhan memiliki banyak moment dalam mengajarkan kasih, namun dari sekian banyak ajaran yang tertulis dalam Alkitab, Alkitab memiliki satu pasal yang secara khusus mengajarkan kita mengenai kasih.
1 Korintus 13
Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.
Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.
Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku.
Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.
Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.
Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.
Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.
Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap.
Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna.
Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap.
Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.
Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.
Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.
Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus menuliskan secara khusus pengajaran mengenai kasih dalam pasal ke 13. Dari ke-13 ayat ini jika kita dalami, banyak sekali hal-hal yang bisa kita dapatkan mengenai kasih. Kali ini saya akan berbagi apa yang saya pelajari dari tulisan ini.
Jika kita melihat apa yang terjadi di dalam masyarakat, dimana banyak hubungan yang sepertinya baik menjadi kandas karena satu dan lain hal, bahkan pada faktanya, jumlah perceraian di Indonesia setiap tahun pun meningkat. Menurut saya pribadi, pergeseran makna kasih menjadi akar utama dari terjadinya hal ini, apalagi dalam beberapa waktu terakhir, saya banyak membantu beberapa permasalahan relasi yang cukup kompleks sehingga saya mulai berpikir ulang mengenai kasih, terutama apa sih kata Tuhan mengenai kasih? Tuhan memiliki banyak moment dalam mengajarkan kasih, namun dari sekian banyak ajaran yang tertulis dalam Alkitab, Alkitab memiliki satu pasal yang secara khusus mengajarkan kita mengenai kasih.
1 Korintus 13
Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.
Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.
Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku.
Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.
Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.
Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.
Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.
Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap.
Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna.
Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap.
Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.
Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.
Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.
Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus menuliskan secara khusus pengajaran mengenai kasih dalam pasal ke 13. Dari ke-13 ayat ini jika kita dalami, banyak sekali hal-hal yang bisa kita dapatkan mengenai kasih. Kali ini saya akan berbagi apa yang saya pelajari dari tulisan ini.
Tiga ayat pertama dalam pasal tersebut mengajarkan kita mengenai SEBERAPA PENTING KASIH ITU. Ayat pertama mengajarkan bahwa sebuah tindakan kasih jauh lebih berguna daripada perkataan yang manis dan mulut yang pintar berbicara, ayat kedua berbicara mengenai bagaimana kasih merupakan sebuah bukti yang lebih kuat bahwa kita adalah pengikut Kristus daripada semua talenta dan perbuatan rohani apapun yang bisa kita lakukan, dan terakhir bahwa Kasih adalah pemberian paling berharga yang bisa kita berikan kepada orang lain dalam situasi apapun. Begitu pentingnya kasih dalam hidup kita, dan hanya karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. (Yohanes 3:16) Dari sinilah saya bisa membayangkan begitu besarnya dampak kasih bila kita bisa praktekkan dengan benar, kita bisa mengubah dunia ini layaknya Yesus Kristus mengubah dunia. Mengapa tidak? Sebab kita diciptakan serupa dan segambar dengan Allah (Kejadian 1:26-27) maka dengan sendirinya kita juga memiliki benih kasih yang sama kualitasnya dengan kasih yang dimiliki oleh-Nya.
Bagian ayat ke 4 hingga ke 9 mengajarkan kepada kita mengenai DEFINISI KASIH YANG BENAR. Ada 15 definisi kasih yang dijabarkan dalam enam ayat tersebut dengan begitu sederhana untuk dimengerti namun sulit dilakukan bagi orang yang belum benar-benar mengerti dengan hatinya. Setiap definisi kasih ini memiliki tingkat kesulitan yang berbeda-beda bagi setiap pribadi. Sebagai contoh, bagi orang yang memiliki tingkat temperamen yang rendah, kasih itu sabar, dan sabar menanggung segala sesuatu tentu bukanlah masalah bagi orang itu. Bahkan bagi saya pribadi, beberapa standar kasih ini masih menjadi pergumulan dimana saya jatuh bangun, misalnya kasih itu tidak melakukan yang tidak sopan, dimana terkadang saya masih suka meledek pasangan saya dengan tujuan untuk bercanda, padahal secara hakekatnya itu adalah sebuah perbuatan yang tidak sopan yang dalam kondisi tertentu bisa melukai hati pasangan saya, atau merendahkan derajatnya dalam skala tertentu pada keaadaan tertentu. Tantangan bagi kita adalah ketika kita melihat hal ini sebagai hal-hal yang sepele, namun justru kita manusia selalu tersandung dengan kerikil-kerikil kecil yang sebenarnya tidak dianggap signifikan bukan? Terlepas dari kesederhanaan pada pengajaran kasih ini, ada beberapa hal yang mungkin perlu dimengerti lebih lanjut dalam definisi-definisi kasih ini:
Bagian ayat ke 4 hingga ke 9 mengajarkan kepada kita mengenai DEFINISI KASIH YANG BENAR. Ada 15 definisi kasih yang dijabarkan dalam enam ayat tersebut dengan begitu sederhana untuk dimengerti namun sulit dilakukan bagi orang yang belum benar-benar mengerti dengan hatinya. Setiap definisi kasih ini memiliki tingkat kesulitan yang berbeda-beda bagi setiap pribadi. Sebagai contoh, bagi orang yang memiliki tingkat temperamen yang rendah, kasih itu sabar, dan sabar menanggung segala sesuatu tentu bukanlah masalah bagi orang itu. Bahkan bagi saya pribadi, beberapa standar kasih ini masih menjadi pergumulan dimana saya jatuh bangun, misalnya kasih itu tidak melakukan yang tidak sopan, dimana terkadang saya masih suka meledek pasangan saya dengan tujuan untuk bercanda, padahal secara hakekatnya itu adalah sebuah perbuatan yang tidak sopan yang dalam kondisi tertentu bisa melukai hati pasangan saya, atau merendahkan derajatnya dalam skala tertentu pada keaadaan tertentu. Tantangan bagi kita adalah ketika kita melihat hal ini sebagai hal-hal yang sepele, namun justru kita manusia selalu tersandung dengan kerikil-kerikil kecil yang sebenarnya tidak dianggap signifikan bukan? Terlepas dari kesederhanaan pada pengajaran kasih ini, ada beberapa hal yang mungkin perlu dimengerti lebih lanjut dalam definisi-definisi kasih ini:
- Pada standar kasih itu sabar, kata sabar yang dalam bahasa aslinya disebut makrothymei yang artinya kita sabar menanggung luka-luka, perbuatan jahat, dan hasutan tanpa dipenuhi oleh kebencian, kejengkelan atau balas dendam. Dan kasih ini sabar menunggu sampai lama untuk melihat perubahan dari orang-orang yang dikasihi itu.
- Ketika disebutkan bahwa kasih itu tidak memegahkan diri dan tidak sombong, artinya kita diajar untuk tidak menempatkan diri kita (termasuk pemikiran dan perasaan kita) tidak lebih tinggi dari orang yang kita kasihi. Ketika kita memutuskan segala sesuatunya hanya melihat kepentingan dan pemikiran sepihak dari diri kita, sulit rasanya hal itu menunjukkan bahwa kita mengasihi orang yang penting bagi kita. Kita juga tidak bisa merasa bahwa kontribusi kita dalam sebuah hubungan lebih besar dari pasangan kita karena hal itu menunjukkan kesombongan diri kita, bukan?
- Pada poin kasih menutupi segala sesuatu, disinilah kita belajar untuk tidak menceritakan apa yang menjadi keburukan/hal negatif dari pasangan kita, seperti yang tertulis pada 1 Petrus 4:8, "Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa." Kita lebih perlu berusaha meningkatkan kualitas hidup pasangan kita dan saling membawa satu sama lain naik kelas dibandingkan menceritakan keburukan mereka dan menjatuhkan harga diri mereka di mata orang lain.
- Yang terakhir dan terpenting, kasih tidak berkesudahan. Kasih adalah sebuah komitmen, bukan perasaan. Pada faktanya, rasa cinta yang sering diagung-agungkan dunia, hanyalah sekedar reaksi kimia yang dialami oleh otak kita. Pada akhirnya ketika konsentrasi hormon yang kita terima dari aktivitas yang kita lakukan bersama dengan pasangan kita tidak lagi memenuhi ekspektasi biologis kita, rasa "cinta" akan otomatis memudar dan hilang. Inilah mengapa kasih jauh lebih penting daripada cinta, karena komitmen tidak akan pernah hilang selama dijaga dengan benar. Komitmen membuat kita tetap mengasihi seseorang terlepas dari layak tidaknya dia menerima kasih tersebut.
Pada bagian terakhir dari pasal tersebut, Rasul Paulus mengajarkan tentang bagaimana kita MENERAPKAN KASIH, dimulai dengan kedewasaan kita yang menghilangkan sifat egois (mementingkan diri sendiri) kita, dan seberapa kita menerapkan kasih, sedekat itulah kita dengan keserupaan dengan Kristus. Pada akhirnya, prioritasnya pun dibuat jelas bahwa, dibandingkan dengan iman dan pengharapan, kasih memiliki prioritas yang lebih tinggi dalam hidup kita, bukankan ketika kita memiliki kasih, dengan sendirinya pengharapan dan iman kita akan tetap kuat? Tanpa kasih, seberapapun besar iman dan pengharapan kita, akan hancur juga pada akhirnya.
Akhirnya, kita mungkin harus terus mengevaluasi diri kita tentang kasih, apakah kasih yang sudah kita tunjukkan adalah benar? Karena Tuhan Yesus sendiri sudah berkata dalam Yohanes 13:34-35, "Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi."
Tuhan Yesus memberkati. (CBA)
Tuhan Yesus memberkati. (CBA)
Comments