Skip to main content

Apakah Anda seorang pengikut Kristus?

Beberapa minggu yang lalu saat saya mengunjungi sebuah toko buku di sebuah pusat perbelanjaan, saya menemukan sebuah buku dengan judul yang sangat menarik, ditulis oleh seorang yang bernama Craig Groeschel yang berjudul: The Christian Atheist: Believing in God but Living As If He Doesn't Exist. Judul buku ini begitu memprovokasi pemikiran saya dan membuat saya terus bertanya-tanya apa yang dibahas dalam buku ini.

Singkat cerita, saya akhirnya mendapatkan buku tersebut, dan di dalam buku ini secara garis besar, si penulis membahas akan beberapa kelompok orang, yaitu:
  • Ada yang mengaku percaya kepada Allah, "But Don't Know Him"
  • Ada yang mengaku percaya kepada Allah, "But Don't Fear Him"
  • Ada yang mengaku percaya kepada Allah, "But Don't Want to Go Overboard"
  • Ada yang mengaku percaya kepada Allah, "But Don't Trust Him Fully"
Pada akhirnya menurut saya pribadi, yang paling penting dari semua adalah bagian yang pertama yang disebut sebagai "But Don't Know Him" karena jika kita berhasil keluar dari zona ini, tiga bagian lainnya dapat kita berekan dengan mudah. Bagaimanakah orang yang percaya kepada Allah, tidka mengenal Dia? Pada ayat Titus 1:16 tertulis: "Mereka mengaku mengenal Allah, tetapi dengan perbuatan mereka, mereka menyangkal Dia. Mereka keji (DETESTABLE) dan durhaka (DISOBEDIENT) dan tidak sanggup berbuat sesuatu yang baik (GOOD FOR NOTHING)." Lebih lanjut Craig menjabarkan bahwa sebenarnya dalam kategori orang ini, mereka yang tidak mengenal Allah dapat dibagi lagi menjadi 2 tingkatan yang lebih kecil:
  • Orang yang benar-benar tidak mengenal Dia
  • Orang yang pernah mengalami pengalaman pribadi dengan Dia, namun tidak benar-benar kenal Dia
Kategori kedua ini mungkin adalah jebakan yang paling banyak mengikat orang-orang yang menyebut dirinya sebagai pengikut Kristus, seperti apa yang tertulis dalam Galatia 4:8-9: 
"Dahulu, ketika kamu tidak mengenal Allah, kamu memperhambakan diri kepada allah-allah yang pada hakekatnya bukan Allah. Tetapi sekarang sesudah kamu mengenal Allah, atau lebih baik, sesudah kamu dikenal Allah, bagaimanakah kamu berbalik lagi kepada roh-roh dunia yang lemah dan miskin dan mau mulai memperhambakan diri lagi kepadanya?"

Mengapa hal ini menjadi penting untuk diingat? Karena Tuhan Yesus sendiri berkata dalam Matius 7:21-23: Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!" Sepenting itulah hubungan dengan Tuhan merupakan area prioritas yang perlu kita bangun jika kita menjadi murid Kristus.

Ketika kita mulai mengenal Tuhan dengan intim, kita mulai bergaul dekat denganNya, dan ketika kita bergaul dekat denganNya, kita memberi kesempatan bagi Tuhan untuk mengubah hidup kita, sifat-sifat dan karakter kita, yang pada akhirnya akan mengubah masa depan kita seluruhnya. Ingat, Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya. (Efesus 2:8-10) Mengenal Allah membawa kita sadar akan banyak hal, akan kasih karuniaNya, akan kesombongan kita, dan mengingatkan kita akan tujuan hidup kita yang sudah dipersiapkan Allah sebelumnya bagi setiap pribadi lepas pribadi.

Sampai hal ini, mengenal akan Allah mungkin tidak tampak sebagai sebuah hal yang sulit, tapi kita tidak boleh lupa bahwa mengenal Allah adalah sebuah paket yang utuh, yang tidak hanya berisi informasi akan siapa Allah, namun juga sebuah panggilan bagi kita untuk taat. Dalam surat 1 Yohanes 2:3-4 dituliskan seperti berikut: "Dan inilah tandanya, bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya. Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran."

Kita boleh saja mengevaluasi diri kita dari apa yang sudah kita lakukan dengan baik, tapi sadarkah kita bahwa perintah Allah mencakup keseluruhan hidup kita? Apa yang kita pikirkan, apa yang kita perkatakan, bagaimana cara kita memperkatakannya, apa yang kita lakukan, cara kita melakukannya, hingga tujuan kita melakukan sesuatu, Alkitab seakan menjadi sebuah manual book yang utuh dan mampu menjawab semua pertanyaan-pertanyaan dasar kehidupan kita akan apa yang seharusnya kita lakukan. Manusia cenderung mementingkan beberapa aspek kehidupannya dan menelantarkan atau menyepelekan yang lain, hal ini tidak diinginkan oleh Allah. Pada akhirnya, apakah semua, atau minimal sebagian besar dari apa yang kita lakukan memuliakan Allah?

Daud mencontohkan bagaimana ia mengenal Allah dengan begitu dekat ia menuliskan Mazmur 63:1-4 seperti ini: Mazmur Daud, ketika ia ada di padang gurun Yehuda. Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau, jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku rindu kepada-Mu, seperti tanah yang kering dan tandus, tiada berair. Demikianlah aku memandang kepada-Mu di tempat kudus, sambil melihat kekuatan-Mu dan kemuliaan-Mu. Sebab kasih setia-Mu lebih baik dari pada hidup; bibirku akan memegahkan Engkau. Demikianlah aku mau memuji Engkau seumur hidupku dan menaikkan tanganku demi nama-Mu. Orang yang mengenal Allah mampu bersikap intim dengan Allah, dan melihat bahwa keintiman tersebut bukanlah merupakan sesuatu yang berlebihan, namun sesuatu yang wajar.

Ada sebuah tips yang menarik dari Craig bahwa, bagaimana cara kita memanggil Allah, membantu kita merefleksikan seberapa dekat hubungan kita dengan Allah. Orang yang sama sekali tidak mengenal Dia, akan kesulitan dalam memanggil Allah sebagai Bapa secara konsisten. Semakin sering kita memanggil Dia Bapa, artinya semakin intens komunikasi kita dengan Dia, dan perlahan-lahan semakin dekat kita dengan Dia, mengenal karakter Allah dan apa yang menjadi mau Allah bagi hidup kita. Semakin dekat kita, semakin kita mengenal hati Allah, apa yang menjadi kesukaanNya, apa yang tidak disukaiNya, apa yang di larang olehNya, dan apa yang menjadi beban hatiNya.

Kabar baik bagi kita semua, Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. (Matius 7:7-8

Have a blessed day! (CBA)

Comments