Seberapakah kita diberkati? Tentu sebagian besar dari kita dapat dengan mudah mengatakan bahwa kita sangat diberkati oleh Tuhan. Namun, apakah benar-benar kita sadar seberapa banyak berkat yang kita dapatkan sampai saat ini?
Kita cenderung lebih mudah mengucapkan syukur untuk sesuatu yang nyata terlihat sebagai 'berkat', misalnya kenaikan penghasilan, bonus, hadiah ulang tahun, penghargaan dari orang lain, dan sebagainya. Lalu sebagian orang lainnya sudah mampu mengucapkan syukur untuk hal-hal yang 'given', misalnya nafas kita, fisik yang lengkap, keberadaan keluarga, pekerjaan yang dimiliki, dan hal-hal serupa. Bagaimana dengan hal-hal yang sama sekali tidak terlihat sebagai berkat?
Rasul Paulus berkata dalam Roma 8:28, "Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah."
Segala sesuatu yang dimaksudkan dalam ayat tersebut tidak memiliki arti tersirat lainnya, namun benar-benar secara harfiah bermaksud SEGALA SESUATU, yang artinya tidak terbatas kepada hal-hal yang terlihat baik saja. Sepertinya sulit ya?
Ayub sekalipun mengeluh dalam proses yang dialaminya (sakit penyakit dan kehilangan semua harta beserta anak-anaknya), apalagi kita? Namun setiap dari kita sudah tahu kan akhir cerita dari Ayub? Pertanyaannya, apabila Ayub sudah mengerti akhir dari kisahnya, apakah ia masih akan mengeluh? Pada akhirnya, yang menjadi perbedaan antara kita dan Ayub adalah, kita sudah mengetahui dengan jelas apa tujuan Tuhan dalam hidup kita, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepada kita hari depan yang penuh harapan. (Yeremia 29:11) dan kisah Ayub ditulis untuk memberikan contoh dan ajaran kepada kita tentang bagaimana Allah merancangkan kehidupan kita.
Sebenarnya, kebanyakan hal-hal yang menghambat diri kita untuk melihat seberapa diberkatinya kita hanya disebabkan oleh dua hal, yang pertama adalah berasal dari manusia lain, dengan kata lain iri hati. Kita cenderung membandingkan kondisi diri kita dengan orang lain, terutama orang-orang di sekitar kita / yang dekat dengan kita. Bila kondisi kita tidak sesuai dengan harapan kita (lebih baik dari orang lain), maka kita cenderung bersusah hati dan mulai bertanya, "kenapa?" Hal ini cenderung membuat kita lupa akan semua berkat yang sudah dipercayakan atas kita, dan menutup mata kita akan berkat-berkat lain yang sebenarnya sudah dipersiapkan di sekeliling kita untuk kita nikmati sebentar lagi.
Penyebab kedua adalah ketidak bijaksanaan kita dalam mengelola ekspektasi (harapan) kita. Hal ini berlaku terutama terhadap orang lain. Manusia cenderung memberikan standar kepada orang lain, 'harusnya dia seperti ini' atau 'dia harusnya tidak boleh melakukan itu' tanpa mengkomunikasikan harapan kita dengan jelas kepada orang terkait. Pada akhirnya ketika harapan-harapan itu tidak dipenuhi, kita cenderung kecewa dan 'malas' berurusan dengan orang tersebut, apalagi ketika kita merasa sudah memberikan banyak hal untuk orang tersebut, rasa kecewa yang kita alami akan semakin besar. Hal ini biasanya membuat kita lupa akan berkat-berkat yang kita pernah terima lewat orang itu, dan menghambat berkat lainnya yang mungkin kita terima di masa depan lewat mereka.
Ketika kita memiliki uang sebesar seratus juta dalam dompet kita, apakah kita kecewa jika orang lain yang bertemu kita tidak memberikan kita uang kepada kita? Bukankah malah kita yang akan menawarkan uang kepadanya, karena kita sudah memiliki lebih dari cukup, dan terlebih lagi kita tahu bahwa saat kita pulang nanti, kita akan dipenuhi kembali oleh Bapa kita?
Untuk memiliki rasa cukup, kita terlebih dahulu harus memiliki kedewasaan. Kedewasaan membuat kita mampu melihat dari sudut pandang orang lain, mencoba menempatkan diri di posisi orang lain dan mengerti dengan kasih akan keterbatasan mereka. Kedewasaan membuat kita dapat diajar dan mau berubah, terutama saat kita tidak mengerti apa yang harus kita lakukan dan melakukan kesalahan. Kedewasaan membuat kita melepaskan hak kita untuk sesuatu yang lebih besar, karena hanya anak-anak yang akan berfokus pada dirinya sendiri tanpa memperhatikan orang lain, bukankah kasih adalah memberi bukan menerima?
Maka tepatlah apa yang ditulis dalam 1 Korintus 13:11, Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.
Kita cenderung lebih mudah mengucapkan syukur untuk sesuatu yang nyata terlihat sebagai 'berkat', misalnya kenaikan penghasilan, bonus, hadiah ulang tahun, penghargaan dari orang lain, dan sebagainya. Lalu sebagian orang lainnya sudah mampu mengucapkan syukur untuk hal-hal yang 'given', misalnya nafas kita, fisik yang lengkap, keberadaan keluarga, pekerjaan yang dimiliki, dan hal-hal serupa. Bagaimana dengan hal-hal yang sama sekali tidak terlihat sebagai berkat?
Rasul Paulus berkata dalam Roma 8:28, "Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah."
Segala sesuatu yang dimaksudkan dalam ayat tersebut tidak memiliki arti tersirat lainnya, namun benar-benar secara harfiah bermaksud SEGALA SESUATU, yang artinya tidak terbatas kepada hal-hal yang terlihat baik saja. Sepertinya sulit ya?
Ayub sekalipun mengeluh dalam proses yang dialaminya (sakit penyakit dan kehilangan semua harta beserta anak-anaknya), apalagi kita? Namun setiap dari kita sudah tahu kan akhir cerita dari Ayub? Pertanyaannya, apabila Ayub sudah mengerti akhir dari kisahnya, apakah ia masih akan mengeluh? Pada akhirnya, yang menjadi perbedaan antara kita dan Ayub adalah, kita sudah mengetahui dengan jelas apa tujuan Tuhan dalam hidup kita, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepada kita hari depan yang penuh harapan. (Yeremia 29:11) dan kisah Ayub ditulis untuk memberikan contoh dan ajaran kepada kita tentang bagaimana Allah merancangkan kehidupan kita.
Sebenarnya, kebanyakan hal-hal yang menghambat diri kita untuk melihat seberapa diberkatinya kita hanya disebabkan oleh dua hal, yang pertama adalah berasal dari manusia lain, dengan kata lain iri hati. Kita cenderung membandingkan kondisi diri kita dengan orang lain, terutama orang-orang di sekitar kita / yang dekat dengan kita. Bila kondisi kita tidak sesuai dengan harapan kita (lebih baik dari orang lain), maka kita cenderung bersusah hati dan mulai bertanya, "kenapa?" Hal ini cenderung membuat kita lupa akan semua berkat yang sudah dipercayakan atas kita, dan menutup mata kita akan berkat-berkat lain yang sebenarnya sudah dipersiapkan di sekeliling kita untuk kita nikmati sebentar lagi.
Penyebab kedua adalah ketidak bijaksanaan kita dalam mengelola ekspektasi (harapan) kita. Hal ini berlaku terutama terhadap orang lain. Manusia cenderung memberikan standar kepada orang lain, 'harusnya dia seperti ini' atau 'dia harusnya tidak boleh melakukan itu' tanpa mengkomunikasikan harapan kita dengan jelas kepada orang terkait. Pada akhirnya ketika harapan-harapan itu tidak dipenuhi, kita cenderung kecewa dan 'malas' berurusan dengan orang tersebut, apalagi ketika kita merasa sudah memberikan banyak hal untuk orang tersebut, rasa kecewa yang kita alami akan semakin besar. Hal ini biasanya membuat kita lupa akan berkat-berkat yang kita pernah terima lewat orang itu, dan menghambat berkat lainnya yang mungkin kita terima di masa depan lewat mereka.
Untuk mengatasi kedua tantangan diatas, cukup satu senjata yang perlu kita miliki untuk menang atasnya, yaitu rasa cukup. Ketika kita memiliki rasa cukup, setiap hal yang ditambahkan kedalam hidup kita, sekecil apapun pasti kita sadari, ketika kita sadar, maka tidak lagi perlu bagi kita membandingkan diri kita dengan orang lain. Kalau kita berfokus pada kekurangan kita, atau pada hal-hal yang tidak kita miliki, kita tidak akan pernah bisa benar-benar merasa diberkati. Seperti tercatat pada 2 Korintus 12:9, Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.
Dan, sesungguhnya, Bapa kita sebagai Bapa yang baik telah memberikan kepada kita melebihi apa yang kita sebenarnya butuhkan, seperti apa yang dikatakan dalam 2 Korintus 9:8, Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.
Ketika kita memiliki uang sebesar seratus juta dalam dompet kita, apakah kita kecewa jika orang lain yang bertemu kita tidak memberikan kita uang kepada kita? Bukankah malah kita yang akan menawarkan uang kepadanya, karena kita sudah memiliki lebih dari cukup, dan terlebih lagi kita tahu bahwa saat kita pulang nanti, kita akan dipenuhi kembali oleh Bapa kita?
Untuk memiliki rasa cukup, kita terlebih dahulu harus memiliki kedewasaan. Kedewasaan membuat kita mampu melihat dari sudut pandang orang lain, mencoba menempatkan diri di posisi orang lain dan mengerti dengan kasih akan keterbatasan mereka. Kedewasaan membuat kita dapat diajar dan mau berubah, terutama saat kita tidak mengerti apa yang harus kita lakukan dan melakukan kesalahan. Kedewasaan membuat kita melepaskan hak kita untuk sesuatu yang lebih besar, karena hanya anak-anak yang akan berfokus pada dirinya sendiri tanpa memperhatikan orang lain, bukankah kasih adalah memberi bukan menerima?
Maka tepatlah apa yang ditulis dalam 1 Korintus 13:11, Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.
Kita harus sadar bahwa setiap hal yang terjadi dalam hidup kita, setiap orang yang hadir dalam hidup kita, terlepas dari baik buruknya hal itu menurut penilaian mata manusia, adalah untuk rancangan kebahagiaan kita di masa depan dari Bapa kita di surga, dan setiap hal itu adalah pembelajaran kedewasaan bagi kita, untuk membawa kita semakin serupa dengan Kristus sebagai yang sulung diantara kita semua. Ingatlah janjiNya bahwa Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir (Pengkhotbah 3:11).
Jadi, kalau kita saat ini merasa bahwa hidup kita belum indah? Coba hitung kembali semua berkatNya dengan baik. Tuhan memberkati. (CBA)
Roma 11:33
O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!
Jadi, kalau kita saat ini merasa bahwa hidup kita belum indah? Coba hitung kembali semua berkatNya dengan baik. Tuhan memberkati. (CBA)
Roma 11:33
O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!
Comments