Belakangan ini, saya banyak sekali belajar mengenai proses pemuridan di gereja, mulai dari sikap, tindakan, tanda-tanda seorang murid, dan sebagainya. Semua yang saya terima, mengajarkan bagaimana kita seharusnya berlaku sebagai seorang murid. Khususnya, minggu lalu saya belajar mengenai sesuatu yang sangat filosofis namun begitu mengena di hati saya, mengenai sikap hati yang mudah diajar (A TEACHABLE ATTITUDE).
Lewat firman tersebut saya mendapatkan 3 kualitas diri yang sepatutnya dimiliki oleh orang yang mengatakan bahwa dirinya mudah diajar, yaitu mau belajar, mau diajar, dan mau berubah. Dari sana, saya mengevaluasi diri saya berdasarkan ketiga aspek tersebut, jangan sampai ternyata saya merupakan pribadi yang susah untuk diajar.
Ketika merenungkan akan hal ini, Tuhan memberi saya sebuah cerita yang, tadinya tidak terpikir sama sekali bagi saya sebagai sesuatu yang relevan untuk mengajarkan saya tentang pemuridan, namun ternyata memberikan saya banyak sekali inspirasi yang lebih riil bagi pemahaman saya, yaitu sebuah kisah ketika Yesus menyembuhkan seorang buta di kota Yerikho:
YESUS MENYEMBUHKAN BARTIMEUS (MARKUS 10:46-52)
Lalu tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Yerikho. Dan ketika Yesus keluar dari Yerikho, bersama-sama dengan murid-murid-Nya dan orang banyak yang berbondong-bondong, ada seorang pengemis yang buta, bernama Bartimeus, anak Timeus, duduk di pinggir jalan. Ketika didengarnya, bahwa itu adalah Yesus orang Nazaret, mulailah ia berseru: "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!" Banyak orang menegornya supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: "Anak Daud, kasihanilah aku!" Lalu Yesus berhenti dan berkata: "Panggillah dia!" Mereka memanggil orang buta itu dan berkata kepadanya: "Kuatkan hatimu, berdirilah, Ia memanggil engkau." Lalu ia menanggalkan jubahnya, ia segera berdiri dan pergi mendapatkan Yesus. Tanya Yesus kepadanya: "Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?" Jawab orang buta itu: "Rabuni (Rabi), supaya aku dapat melihat!" Lalu kata Yesus kepadanya: "Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!" Pada saat itu juga melihatlah ia, lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya.
Lewat kisah ini, Bartimeus si orang buta, benar-benar memberikan inspirasi riil bagi saya akan ketiga aspek tersebut. Nah, lewat tulisan ini, saya ingin berbagi, semoga juga bisa menjadi inspirasi bagi para pembaca.
Hal pertama yang saya dapatkan dari kisah bartimeus, bahwa ia adalah pribadi yang mau diajar dan mau belajar! Darimana saya menarik kesimpulan ini? Tidak disebutkan berapa lama bartimeus menjadi orang buta, entah dari lahir, atau mungkin karena sebuah kecelakaan yang menyebabkan matanya menjadi buta, tapi yang jelas bagi saya bahwa pada masa itu kebutaan bukan sebuah penyakit yang bisa disembuhkan, namun sebuah kecacatan yang mutlak. Apa bedanya? Penyakit tentu masih bisa disembuhkan sesulit apapun itu, namun kecacatan adalah sebuah kekurangan yang mau tidak mau harus diterima apa adanya, tanpa ada harapan untuk dapat berubah, apalagi pada masa itu, tidak ada teknik maupun teknologi yang memungkinkan terjadinya transplantasi mata. Orang buta sendiri melambangkan seseorang yang tidak bisa membedakan arah, tidak tahu mana yang benar mana yang salah - perlambangan akan kebodohan manusia. Orang buta cenderung menilai dengan "telinga"nya, kata orang, menjadi referensi utama bagi orang-orang buta, karena sulit bagi mereka untuk melihat apa yang sesungguhnya ada di depan mereka, maka jelas mengapa Alkitab mewanti-wanti lewat Roma 10:17, "Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus." - Orang buta harus aware untuk fokus mendengarkan firman Kristus, bukan kata orang.
Dikatakan juga bahwa bartimeus seorang pengemis, saya menilai bahwa jika bartimeus sampai menjadi pengemis, artinya sudah cukup lama ia buta, kalaupun ia buta karena kecelakaan, sehingga hartanya sudah habis untuk menopang hidupnya. Jelas, sangat sulit (kalau tidak mau dikatakan tidak mungkin) bagi orang buta untuk bisa bekerja dan mendapatkan penghasilan yang layak. Hal ini menunjukkan seberapa luar biasanya bartimeus yang sekalipun berada dalam kondisi yang tidak ada harapan, tidak patah semangat dan memutuskan untuk duduk diam dan menerima nasib. Sebagai orang buta, bartimeus tentu sulit sekali untuk aware dengan apa yang terjadi di sekelilingnya, dia bisa memutuskan untuk duduk seperti biasa dan tidak perduli dengan apa yang sedang terjadi, meskipun ia mendengar bahwa Yesus lewat. Bayangkan, memangnya seberapa terkenalnya Yesus saat itu di masa belum ada surat kabar, radio, televisi, dan media sosial? Berarti dengan asumsi bahwa Bartimeus pernah mendengar tentang bagaimana Yesus mengadakan mujizat kesembuhan, ia menanti-nanti dengan siap sedia, bahkan ditengah-tengah kondisi public places yang begitu berisik, bukan? Bukan cuma itu, bartimeus pun segera berseru, "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!"
Bahkan dikatakan dalam ayat 48, "Banyak orang menegornya supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: "Anak Daud, kasihanilah aku!"" Jelas bisa kita lihat kegigihan bartimeus disini. Terkadang ketika kita mau melihat sebuah pelajaran dalam apa yang kita alami di hidup kita, banyak sekali suara-suara yang menjatuhkan kita, mematahkan semangat kita untuk mau terus maju dalam pembelajaran kita, disini bartimeus memberi contoh kepada kita, bahwa semakin ditegur, semakin keras ia berusaha, meskipun belum ada jaminan ada perubahan yang akan terjadi. Hal ini seakan mengingatkan saya, dalam proses hidup, seringkali kita merasa lelah dan mau berhenti ketika kita merasa tidak ada support yang kita dapatkan dalam proses yang kita alami dari orang-orang di sekitar kita. Kisah bartimeus bisa menjadi pegangan kita ketika kita menghadapi hal ini.
Yesus pun tidak pernah mengecewakan dan memanggil bartimeus untuk mendekat kepada-Nya (ayat 49). Pelajaran kedua yang diberikan adalah ketika dikatakan "Kuatkan hatimu, berdirilah, Ia memanggil engkau." Menguatkan hati (take courage), dan bangkit berdiri menandakan bahwa Yesus mau kita untuk keluar dari tempat dimana kita berada saat ini, Ia mau kita mengambil inisiatif untuk menghampiri-Nya, bukan menunggu saja di tempat dan berharap mujizat segera terjadi. Ini merupakan ujian bagi kita, apakah kita benar-benar mau belajar dan mau diajar?
Pelajaran ketiga dari bartimeus, adalah ketika ia menanggalkan jubahnya (ayat 50). Aksi bartimeus menanggalkan jubahnya mungkin hanya sebuah perbuatan kecil yang tidak begitu penting untuk diperhatikan sebenarnya, namun jika kita melihat seberapa antusias bartimeus sebelumnya, bukankah sewajarnya ia langsung berdiri dan pergi mendekat kepada Yesus tanpa membuang-buang waktu untuk melepaskan jubahnya terlebih dahulu? Menanggalkan jubah disini saya tangkap sebagai sebuah proses mengosongkan diri, meninggalkan harta, status (pada masa itu, jubah adalah perlambangan status seseorang) untuk dapat menerima dengan penuh apa yang hendak diajarkan kepadanya, tanpa menyisakan pengalaman, pemahaman, pemikiran, perasaan, dan kehendak pribadinya. Terkadang kita mengatakan bahwa kita terbuka untuk belajar, tapi tidak dengan diri yang "kosong", makanya banyak terjadi perdebatan, keraguan, dan hal-hal lainnya yang menghambat kita untuk menerima pembelajaran dengan utuh. Ketika apa yang diajarkan kepada kita oleh Tuhan tidak sesuai dengan pengalaman dan pemahaman kita, kita cenderung membantah dan tidak mengindahkan hal tersebut. Tentu kita tidak menerima dengan mentah-mentah semua hal yang diajarkan orang lain secara random kepada kita, maka diajarkan kepada kita di 1 Tesalonika 5:21, "Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik." Tuhan sudah memberikan kita alat uji yang paling benar, yaitu Firman-Nya di Alkitab. Jika apa yang diajarkan seseorang kepada kita menyimpang dari apa yang diajarkan oleh Alkitab, kita perlu menghindarinya.
Pelajaran keempat, ketika bartimeus menjawab Yesus, "Rabi, supaya aku dapat melihat!" (ayat 51). Panggilan Rabi inilah yang menguatkan saya bahwa Tuhan sedang mengajarkan kepada saya bagaimana menjadi seorang murid yang benar lewat cerita ini. Panggilan Rabi pada masa itu adalah cara seorang murid memanggil gurunya dalam budaya Yahudi. Dan ketika bartimeus berkata "supaya aku dapat melihat!" bukan "sembuhkan mataku!", ini merefleksikan keterbukaan hati dari bartimeus akan bagaimana Yesus akan bertindak, pengalaman pribadi dengan Yesus tidak sepatutnya kita atur seturut mau hati kita, namun ketika kita dengan sepenuh hati menjadikan Ia sebagai guru, kita pun harus terbuka dengan cara apapun Tuhan mau mengajarkan kepada kita tentang sesuatu.
Pelajaran kelima dan terakhir dari bartimeus adalah ketika bartimeus mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya setelah ia dapat melihat (ayat 52). Setelah mendapatkan pengalaman pribadi yang luar biasa dari Yesus, bartimeus tidak kemudian menjadi sibuk dengan dirinya sendiri, mencari kerabat dan keluarganya, atau melakukan hal-hal yang ia inginkan, yang tidak dapat ia lakukan ketika ia masih buta, namun bartimeus dengan segera memutuskan untuk tetap setia dan mengikut Dia dalam perjalanNya, mungkin bartimeus sudah tidak sabar lagi untuk belajar lebih banyak, dan mengalami Yesus lebih banyak dalam hidupnya. Ini adalah peringatan yang keras bagi saya, dimana kita seringkali "lupa" dengan Tuhan setelah menerima anugerahNya dalam hidup kita, terutama setelah melewati proses-proses sulit kita, kita cenderung mau menikmati masa "selesai proses" yang kita dapatkan dari Tuhan.
Semoga pelajaran yang saya dapatkan bisa jadi inspirasi juga buat para pembaca. Tuhan Yesus memberkati. (CBA)
Lewat firman tersebut saya mendapatkan 3 kualitas diri yang sepatutnya dimiliki oleh orang yang mengatakan bahwa dirinya mudah diajar, yaitu mau belajar, mau diajar, dan mau berubah. Dari sana, saya mengevaluasi diri saya berdasarkan ketiga aspek tersebut, jangan sampai ternyata saya merupakan pribadi yang susah untuk diajar.
Ketika merenungkan akan hal ini, Tuhan memberi saya sebuah cerita yang, tadinya tidak terpikir sama sekali bagi saya sebagai sesuatu yang relevan untuk mengajarkan saya tentang pemuridan, namun ternyata memberikan saya banyak sekali inspirasi yang lebih riil bagi pemahaman saya, yaitu sebuah kisah ketika Yesus menyembuhkan seorang buta di kota Yerikho:
YESUS MENYEMBUHKAN BARTIMEUS (MARKUS 10:46-52)
Lalu tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Yerikho. Dan ketika Yesus keluar dari Yerikho, bersama-sama dengan murid-murid-Nya dan orang banyak yang berbondong-bondong, ada seorang pengemis yang buta, bernama Bartimeus, anak Timeus, duduk di pinggir jalan. Ketika didengarnya, bahwa itu adalah Yesus orang Nazaret, mulailah ia berseru: "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!" Banyak orang menegornya supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: "Anak Daud, kasihanilah aku!" Lalu Yesus berhenti dan berkata: "Panggillah dia!" Mereka memanggil orang buta itu dan berkata kepadanya: "Kuatkan hatimu, berdirilah, Ia memanggil engkau." Lalu ia menanggalkan jubahnya, ia segera berdiri dan pergi mendapatkan Yesus. Tanya Yesus kepadanya: "Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?" Jawab orang buta itu: "Rabuni (Rabi), supaya aku dapat melihat!" Lalu kata Yesus kepadanya: "Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!" Pada saat itu juga melihatlah ia, lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya.
Lewat kisah ini, Bartimeus si orang buta, benar-benar memberikan inspirasi riil bagi saya akan ketiga aspek tersebut. Nah, lewat tulisan ini, saya ingin berbagi, semoga juga bisa menjadi inspirasi bagi para pembaca.
Hal pertama yang saya dapatkan dari kisah bartimeus, bahwa ia adalah pribadi yang mau diajar dan mau belajar! Darimana saya menarik kesimpulan ini? Tidak disebutkan berapa lama bartimeus menjadi orang buta, entah dari lahir, atau mungkin karena sebuah kecelakaan yang menyebabkan matanya menjadi buta, tapi yang jelas bagi saya bahwa pada masa itu kebutaan bukan sebuah penyakit yang bisa disembuhkan, namun sebuah kecacatan yang mutlak. Apa bedanya? Penyakit tentu masih bisa disembuhkan sesulit apapun itu, namun kecacatan adalah sebuah kekurangan yang mau tidak mau harus diterima apa adanya, tanpa ada harapan untuk dapat berubah, apalagi pada masa itu, tidak ada teknik maupun teknologi yang memungkinkan terjadinya transplantasi mata. Orang buta sendiri melambangkan seseorang yang tidak bisa membedakan arah, tidak tahu mana yang benar mana yang salah - perlambangan akan kebodohan manusia. Orang buta cenderung menilai dengan "telinga"nya, kata orang, menjadi referensi utama bagi orang-orang buta, karena sulit bagi mereka untuk melihat apa yang sesungguhnya ada di depan mereka, maka jelas mengapa Alkitab mewanti-wanti lewat Roma 10:17, "Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus." - Orang buta harus aware untuk fokus mendengarkan firman Kristus, bukan kata orang.
Dikatakan juga bahwa bartimeus seorang pengemis, saya menilai bahwa jika bartimeus sampai menjadi pengemis, artinya sudah cukup lama ia buta, kalaupun ia buta karena kecelakaan, sehingga hartanya sudah habis untuk menopang hidupnya. Jelas, sangat sulit (kalau tidak mau dikatakan tidak mungkin) bagi orang buta untuk bisa bekerja dan mendapatkan penghasilan yang layak. Hal ini menunjukkan seberapa luar biasanya bartimeus yang sekalipun berada dalam kondisi yang tidak ada harapan, tidak patah semangat dan memutuskan untuk duduk diam dan menerima nasib. Sebagai orang buta, bartimeus tentu sulit sekali untuk aware dengan apa yang terjadi di sekelilingnya, dia bisa memutuskan untuk duduk seperti biasa dan tidak perduli dengan apa yang sedang terjadi, meskipun ia mendengar bahwa Yesus lewat. Bayangkan, memangnya seberapa terkenalnya Yesus saat itu di masa belum ada surat kabar, radio, televisi, dan media sosial? Berarti dengan asumsi bahwa Bartimeus pernah mendengar tentang bagaimana Yesus mengadakan mujizat kesembuhan, ia menanti-nanti dengan siap sedia, bahkan ditengah-tengah kondisi public places yang begitu berisik, bukan? Bukan cuma itu, bartimeus pun segera berseru, "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!"
Bahkan dikatakan dalam ayat 48, "Banyak orang menegornya supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: "Anak Daud, kasihanilah aku!"" Jelas bisa kita lihat kegigihan bartimeus disini. Terkadang ketika kita mau melihat sebuah pelajaran dalam apa yang kita alami di hidup kita, banyak sekali suara-suara yang menjatuhkan kita, mematahkan semangat kita untuk mau terus maju dalam pembelajaran kita, disini bartimeus memberi contoh kepada kita, bahwa semakin ditegur, semakin keras ia berusaha, meskipun belum ada jaminan ada perubahan yang akan terjadi. Hal ini seakan mengingatkan saya, dalam proses hidup, seringkali kita merasa lelah dan mau berhenti ketika kita merasa tidak ada support yang kita dapatkan dalam proses yang kita alami dari orang-orang di sekitar kita. Kisah bartimeus bisa menjadi pegangan kita ketika kita menghadapi hal ini.
Yesus pun tidak pernah mengecewakan dan memanggil bartimeus untuk mendekat kepada-Nya (ayat 49). Pelajaran kedua yang diberikan adalah ketika dikatakan "Kuatkan hatimu, berdirilah, Ia memanggil engkau." Menguatkan hati (take courage), dan bangkit berdiri menandakan bahwa Yesus mau kita untuk keluar dari tempat dimana kita berada saat ini, Ia mau kita mengambil inisiatif untuk menghampiri-Nya, bukan menunggu saja di tempat dan berharap mujizat segera terjadi. Ini merupakan ujian bagi kita, apakah kita benar-benar mau belajar dan mau diajar?
Pelajaran ketiga dari bartimeus, adalah ketika ia menanggalkan jubahnya (ayat 50). Aksi bartimeus menanggalkan jubahnya mungkin hanya sebuah perbuatan kecil yang tidak begitu penting untuk diperhatikan sebenarnya, namun jika kita melihat seberapa antusias bartimeus sebelumnya, bukankah sewajarnya ia langsung berdiri dan pergi mendekat kepada Yesus tanpa membuang-buang waktu untuk melepaskan jubahnya terlebih dahulu? Menanggalkan jubah disini saya tangkap sebagai sebuah proses mengosongkan diri, meninggalkan harta, status (pada masa itu, jubah adalah perlambangan status seseorang) untuk dapat menerima dengan penuh apa yang hendak diajarkan kepadanya, tanpa menyisakan pengalaman, pemahaman, pemikiran, perasaan, dan kehendak pribadinya. Terkadang kita mengatakan bahwa kita terbuka untuk belajar, tapi tidak dengan diri yang "kosong", makanya banyak terjadi perdebatan, keraguan, dan hal-hal lainnya yang menghambat kita untuk menerima pembelajaran dengan utuh. Ketika apa yang diajarkan kepada kita oleh Tuhan tidak sesuai dengan pengalaman dan pemahaman kita, kita cenderung membantah dan tidak mengindahkan hal tersebut. Tentu kita tidak menerima dengan mentah-mentah semua hal yang diajarkan orang lain secara random kepada kita, maka diajarkan kepada kita di 1 Tesalonika 5:21, "Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik." Tuhan sudah memberikan kita alat uji yang paling benar, yaitu Firman-Nya di Alkitab. Jika apa yang diajarkan seseorang kepada kita menyimpang dari apa yang diajarkan oleh Alkitab, kita perlu menghindarinya.
Pelajaran keempat, ketika bartimeus menjawab Yesus, "Rabi, supaya aku dapat melihat!" (ayat 51). Panggilan Rabi inilah yang menguatkan saya bahwa Tuhan sedang mengajarkan kepada saya bagaimana menjadi seorang murid yang benar lewat cerita ini. Panggilan Rabi pada masa itu adalah cara seorang murid memanggil gurunya dalam budaya Yahudi. Dan ketika bartimeus berkata "supaya aku dapat melihat!" bukan "sembuhkan mataku!", ini merefleksikan keterbukaan hati dari bartimeus akan bagaimana Yesus akan bertindak, pengalaman pribadi dengan Yesus tidak sepatutnya kita atur seturut mau hati kita, namun ketika kita dengan sepenuh hati menjadikan Ia sebagai guru, kita pun harus terbuka dengan cara apapun Tuhan mau mengajarkan kepada kita tentang sesuatu.
Pelajaran kelima dan terakhir dari bartimeus adalah ketika bartimeus mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya setelah ia dapat melihat (ayat 52). Setelah mendapatkan pengalaman pribadi yang luar biasa dari Yesus, bartimeus tidak kemudian menjadi sibuk dengan dirinya sendiri, mencari kerabat dan keluarganya, atau melakukan hal-hal yang ia inginkan, yang tidak dapat ia lakukan ketika ia masih buta, namun bartimeus dengan segera memutuskan untuk tetap setia dan mengikut Dia dalam perjalanNya, mungkin bartimeus sudah tidak sabar lagi untuk belajar lebih banyak, dan mengalami Yesus lebih banyak dalam hidupnya. Ini adalah peringatan yang keras bagi saya, dimana kita seringkali "lupa" dengan Tuhan setelah menerima anugerahNya dalam hidup kita, terutama setelah melewati proses-proses sulit kita, kita cenderung mau menikmati masa "selesai proses" yang kita dapatkan dari Tuhan.
Semoga pelajaran yang saya dapatkan bisa jadi inspirasi juga buat para pembaca. Tuhan Yesus memberkati. (CBA)
Comments