Skip to main content

Pemimpin yang Diberkati Lewat Orang-orang yang Dipimpinnya

Bagi setiap kita yang disebut dengan pemimpin, tentunya punya banyak cerita tentang suka dan duka dalam memimpin, terutama jika pribadi-pribadi yang dipercayakan kepada kita adalah pribadi yang unik dan menantang untuk dapat dipimpin, bukan? Setiap dari pemimpin umumnya memiliki ekspektasi terhadap orang-orang yang dipimpinnya. Lalu bagaimana kata Alkitab terhadap kepemimpinan?

Mengapa Alkitab yang dilihat ketika berbicara tentang kepemimpinan? Tentu saja! Begitu banyaknya "biografi" pemimpin-pemimpin yang dituliskan di dalam Alkitab, tentu semuanya itu ditujukan agar kita bisa belajar dari apa yang mereka alami atau kerjakan. Buat saya pribadi, dua pemimpin yang paling sering dijadikan bahan pelajaran dalam kehidupan adalah Musa dan Raja Daud. Namun jika kita berbicara tentang pelajaran memimpin orang-orang yang sulit dipimpin, tentu Musa adalah guru yang terbaik.

Puluhan tahun Musa memimpin sebuah bangsa yang memiliki potensi yang luar biasa, dikasihi oleh Allah dengan begitu luar biasa, namun memiliki konsistensi yang luar biasa dalam hal tegar tengkuk serta sangat mahir dalam bersungut-sungut. Dari kitab Keluaran hingga Ulangan tertulis kisah hidup Musa dalam memimpin bangsa Israel selama empat puluh tahun, bahkan jauh lebih banyak dari kisah Tuhan Yesus yang selesai dalam 1 kitab (Matius, Markus, Lukas, ataupun Yohanes selesai menceritakan hidup Tuhan Yesus dalam 1 kitab saja). Justru dari bangsa yang seperti inilah Musa begitu banyak diberkati lewat perjalanan dan proses membangun hubungan dengan Tuhan. Musa adalah contoh kasus from zero to hero yang patut kita teladani. Dari begitu banyak hal yang bisa kita pelajari dari Musa, ada beberapa yang menjadi fokus saya dalam tulisan kali ini:

#1. Musa adalah cerminan manusia seutuhnya.
Kita seringkali melihat Musa sebagai pribadi yang luar biasa, bahkan sampai ada film yang secara khusus dibuatkan bagi Musa, bukan? Namun kita seringkali lupa bahwa Musa adalah sama seperti kita manusia, yang memiliki kelebihan dan kekurangannya. Betul, Musa adalah pribadi yang dibesarkan dengan standar seorang pangeran (good pedigree) sehingga memiliki pendidikan dan hikmat yang baik (Kisah 7:22), namun Musa bahkan memiliki pergumulan dengan rasa percaya dirinya sendiri (Keluaran 4:10). 

Ada masa dimana kita merasa tidak layak untuk memimpin, merasa kita kurang cakap dan banyak orang yang mungkin bisa mengisi posisi tersebut lebih baik dari kita, apalagi sebagai pemimpin rohani. Hal ini persis dengan apa yang Musa rasakan. Berkali-kali Musa menolak tugas yang diberikan Tuhan kepadanya, tercatat mulai dari Keluaran 3:11 dimana Musa berkata, "Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?" lalu pada Keluaran 4:1 Musa juga berkata, "Bagaimana jika mereka tidak percaya kepadaku dan tidak mendengarkan perkataanku, melainkan berkata: TUHAN tidak menampakkan diri kepadamu?" hingga pada Keluaran 4:10, Lalu kata Musa kepada TUHAN: "Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah." Musa juga berkata dalam Keluaran 4:13, Tetapi Musa berkata: "Ah, Tuhan, utuslah kiranya siapa saja yang patut Kauutus." Setelah berkali-kali Musa membantah, akhirnya Tuhan murka pada Musa atas sikapnya itu (ayat 14). Saya rasa, tidak perlu bagi kita untuk mengikuti jejak Musa dalam hal ini bukan? Justru seiring dengan berjalannya waktu, Musa yang tadinya takut malah menjadi jauh lebih percaya diri dan menunjukan kapasitas yang mumpuni dalam memimpin bangsa Israel melewati setiap tantangan perjalanan yang muncul.

#2. Musa memiliki tantangannya sendiri sebagai pemimpin.
Meskipun musa terlihat selalu mampu menyelesaikan setiap permasalahan yang muncul di hadapannya dan nyata bahwa dalam setiap hal Tuhan menyertai Musa, Musa melewati banyak pengalaman yang tidak enak dalam tugasnya. Niat baik Musa tidak selalu direspon dengan rasa terima kasih, seperti pada Keluaran 5:21 dimana justru bangsa Israel mengutuk mereka, "Kiranya TUHAN memperhatikan perbuatanmu dan menghukumkan kamu, karena kamu telah membusukkan nama kami kepada Firaun dan hamba-hambanya dan dengan demikian kamu telah memberikan pisau kepada mereka untuk membunuh kami." bahkan menuduh dan menyalahkan Musa karena dianggap mencelakakan mereka seperti yang tercatat pada Keluaran 14:11-12, dimana mereka berkata kepada Musa: "Apakah karena tidak ada kuburan di Mesir, maka engkau membawa kami untuk mati di padang gurun ini? Apakah yang kauperbuat ini terhadap kami dengan membawa kami keluar dari Mesir? Bukankah ini telah kami katakan kepadamu di Mesir: Janganlah mengganggu kami dan biarlah kami bekerja pada orang Mesir. Sebab lebih baik bagi kami untuk bekerja pada orang Mesir dari pada mati di padang gurun ini."

Sepanjang perjalanan Musa menuntun bangsa Israel, begitu banyak hal yang Musa lakukan bagi mereka sebagai perantara Tuhan, namun bangsa Israel terus menerus bersungut-sungut (Keluaran 15:24, Keluaran 16:2, Keluaran 17:3, Bilangan 11:1, Bilangan 14:2, Bilangan 14:36, Bilangan 16:41) dan berkeluh kesah kepada Musa bahkan bisa dikatakan bahwa bangsa Israel yang ia pimpin itu jugalah yang menjadi salah satu penyebab Musa marah dan akhirnya dilarang Tuhan untuk dapat masuk ke tanah perjanjian (Bilangan 20:1-12).

Meskipun secara pribadi Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi (Bilangan 12:3), Saya melihat Musa memiliki pergumulan yang berat dengan amarah. Ingat betapa besarnya amarah Musa saat bangsa Israel membuat anak lembu tuangan dan sujud menyembah kepada berhala tersebut (Keluaran 32:1-4)? Saking besarnya amarah Musa, kedua loh batu yang ditulisi oleh jari Allah (Keluaran 31:18) yang dibawa Musa dipecahkannya pada kaki gunung sinai (Keluaran 32:19) tidak berhenti disana, Sesudah itu diambilnyalah anak lembu yang dibuat mereka itu, dibakarnya dengan api dan digilingnya sampai halus, kemudian ditaburkannya ke atas air dan disuruhnya diminum oleh orang Israel (Keluaran 32:20). Bahkan Musa menyuruh bani lewi untuk menumpas bangsa Israel hingga tewas kira-kira tiga ribu orang dari bangsa itu (Keluaran 32:26-27). Dan amarah yang sama yang menjegal Musa untuk masuk ke tanah perjanjian (Bilangan 20:1-12). Meskipun begitu, pada akhirnya kelembutan hati dan kedewasaan Musa jugalah yang membuatnya memohon kepada Tuhan untuk mengampuni dosa mereka, bahkan rela namanya dihapus dari kitab kehidupan atas kesalahan bangsa Israel (Keluaran 32:32). Setiap tantangan yang dialami Musa membuat kapasitasnya terus naik level dan menjadi pemimpin yang lebih baik lagi.

#3. Musa mengalami jauh lebih banyak pengalaman pribadi dengan Tuhan setelah memimpin.
Sejak kecil sebenarnya Musa sudah dipelihara oleh Tuhan, seperti saat Musa akan lahir dimana bangsa Israel ditindas oleh bangsa Mesir dan bayi-bayi laki-laki diperintahkan untuk dibunuh, bayi Musa lolos melewati setiap kesempatan bahkan diadopsi oleh putri Firaun sebagai anaknya. Dari seseorang yang seharusnya mendapat tantangan berat untuk dapat bertahan hidup, Tuhan tempatkan Musa di posisi yang begitu nyaman, mendapatkan pendidikan yang baik dan kehidupan yang berkecukupan. Musa hidup nyaman hingga berumur empat puluh tahun sebelum ia kabur ke tanah Midian (Kisah 7:23). Namun bisa kita lihat bahwa sebelum Musa dipanggil Tuhan untuk memimpin bangsa Israel, sesungguhnya Musa tidak pernah benar-benar mengalami pengalaman pribadi dengan Tuhan. Justru setelah empat puluh tahun kemudian setelah pelariannya (Kisah 7:30) Tuhan pertama kali menampakkan diriNya secara pribadi kepada Musa (Keluaran 3:4). Saat itu Musa hanyalah seorang penggembala kambing domba mertuanya (Keluaran 3:1). Musa memulai 'petualangan' bersama Tuhan pada saat ia berumur delapan puluh tahun (Keluaran 7:7).

Kemudian selama empat puluh tahun kemudian Musa mengalami pertumbuhan relasi yang begitu luar biasa dengan Allah. Musa benar-benar memiliki kedekatan dan mengalami banyak hal bersama Tuhan. Musa pun berkali-kali berhadapan dengan Tuhan secara langsung (Keluaran 19:3, Keluaran 19:20, Keluaran 20:21, Keluaran 24:1-2, Keluaran 24:12, Keluaran 34:28, Keluaran 34:34). Juga dikatakan dalam Ulangan 34:10-12 bahwa Seperti Musa yang dikenal TUHAN dengan berhadapan muka, tidak ada lagi nabi yang bangkit di antara orang Israel, dalam hal segala tanda dan mujizat, yang dilakukannya atas perintah TUHAN di tanah Mesir terhadap Firaun dan terhadap semua pegawainya dan seluruh negerinya, dan dalam hal segala perbuatan kekuasaan dan segala kedahsyatan yang besar yang dilakukan Musa di depan seluruh orang Israel. Semua pengalaman pribadi yang Musa alami bersama dengan Tuhan tidak akan pernah ia dapatkan jika ia tidak menerima tugas yang diberikan Tuhan untuk memimpin bangsa Israel.

#4. Musa menjadi teladan sekaligus peringatan bagi para pemimpin rohani untuk berkomunikasi dekat dengan Tuhan dan percaya sepenuhnya.
Jika kita melihat Musa dan perjalanannya, berkali-kali kita melihat bahwa bangsa Israel adalah sebuah bangsa yang begitu sulit dipimpin, sangat demanding dan bebal. Seperti saat mereka bersungut-sungut akan makanan pada Keluaran 16, jika Musa tidak berkomunikasi dekat dengan Tuhan sepanjang perjalanan, mustahil bagi Musa untuk dapat memberi solusi atas masalah tersebut di tengah-tengah padang gurun yang kering. Begitu pula saat bangsa Israel bersungut-sungut karena haus di Keluaran 17 saat mereka ada di Rafidim dan tidak ada air untuk diminum bangsa itu. Saking dekatnya Musa dengan Tuhan, bahkan Tuhan berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya (Keluaran 33:11). Bukan cuma itu, Tuhan juga berkata bahwa Musa telah mendapat kasih karunia di hadapan Tuhan dan bahwa Tuhan mengenal Musa (Keluaran 33:17).

Kita juga melihat bahwa seluruh isi kitab Imamat adalah semua peraturan yang datang dari Tuhan dan disampaikan langsung kepada Musa. Begitu detailnya juga Tuhan berkomunikasi dengan Musa terkait pembuatan tabut perjanjian hingga kemah suci pada kitab Keluaran. Bisa dikatakan bahwa Musa benar-benar mendengar Tuhan dan melakukan semua yang Tuhan perintahkan hingga detail paling kecilnya sebagai bukti kepercayaan Musa kepada Tuhan, kecuali pada insiden Musa dipengaruhi amarah dan melenceng dari perintah Tuhan lalu memukul bukit batu dengan tongkatnya dua kali untuk memberi minum bangsa Israel alih-alih berkata di depan mata mereka kepada bukit batu itu supaya diberi airnya (Bilangan 20:7-12). Sayangnya kejadian ini adalah fatal di mata Tuhan. Inilah yang menjadi peringatan bagi kita untuk menjaga konsistensi kita dalam hubungan kita dengan Tuhan sehingga tidak ada celah bagi kesalahan serupa terjadi.

#5. Musa tidak one man show.
Meskipun Musa disertai Tuhan, hal ini tidak menjadikan Musa angkuh dan merasa bisa mengerjakan semuanya seorang diri saja. Dari awal perjalanan Musa, ia ditemani dan dibantu banyak oleh Harun (kakak Musa yang lebih tua 3 tahun dari Musa) sebagai partner dekat. Seringkali nama Musa dan Harun disebutkan bersamaan dalam firman Tuhan yang artinya Harun hampir selalu menyertai Musa kemanapun ia pergi. Lalu ada Hur dan Yosua dari angkatan yang lebih muda yang membantu Musa dalam peperangan dengan bangsa Amalek, bahkan kemudian Yosua sebagai abdi Musa bersama dengan Kaleb yang meneruskan tongkat estafet Musa dan membawa bangsa Israel masuk ke tanah perjanjian.

Tidak hanya dengan yang sepantaran dan yang lebih muda, Musa juga mau bekerja sama dan mendengarkan nasihat dari Yitro, mertuanya yang memberi saran dan inspirasi untuk menciptakan sistem delegasi dengan mengangkat hakim-hakim dan pemimpin kecil bagi bangsa Israel untuk mempermudah administrasi dan penerapan hukum (Keluaran 18:24). Teladan Musa bahwa ia mampu bekerja sama dengan baik dengan berbagai kalangan usia dan latar belakang sambil bergaul karib dengan Tuhan adalah sebuah sifat dan kemampuan yang perlu dimiliki oleh setiap pemimpin, tidak hanya dalam bidang rohani juga dalam keseharian dan pekerjaan kita. Inilah ilmu kepemimpinan yang sesungguhnya.

------------

Semoga Kisah Musa bisa menjadi pembelajaran yang menginspirasi kita sebagai pemimpin atau calon pemimpin masa depan, sehingga kita mampu mempraktekkan sifat-sifat Musa yang berkenan di hadapan Tuhan. Jangan takut bila saat kita memulai kita punya banyak kekurangan, ingat bahwa apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusia pun yang memegahkan diri di hadapan Allah (1 Korintus 1:27-29). Dan bagi kita yang merasa masih terlalu muda dalam memimpin, kita tidak perlu menunggu sampai kita berumur delapan puluh tahun seperti Musa sebelum memulai perjalanan kita, karena Rasul Paulus pun berkata Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu (1 Timotius 4:12). Yang paling penting dari semuanya bagi Tuhan adalah kesediaan hati dan ketaan kita atas kehendakNya, sebab Tuhan berkata: Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya (Yeremia 17:10). Tuhan memberkati! (CBA)

Comments