Skip to main content

Hidup yang Harmonis lewat Kasih yang Benar

Setiap dari kita pasti mengharapkan kehidupan yang menyenangkan, bahagia, dan sebagainya. Namun terkadang banyak masalah terjadi dalam keseharian kita yang menyebabkan kita menjadi sulit untuk menikmati kebahagiaan itu, dan terkadang yang membuat suasana menjadi semakin tidak nyaman, adalah karena masalah-masalah atau kondisi yang tidak nyaman yang kita hadapi itu berasal dari orang-orang di sekitar kita. Kita tentu berharap agar Tuhan selalu mengirimkan orang-orang yang baik untuk ada di sekitar kita, namun pada kenyataannya, lebih banyak orang-orang yang tidak kita senangi, berbeda nilai dan pendapat dengan kita atau tidak cocok dengan kita justru ada di sekeliling kita.

Jika demikianlah adanya, rasanya tulisan Rasul Paulus dalam 1 Tesalonika 5:16, "Bersukacitalah senantiasa." menjadi perintah yang hampir tidak mungkin kita jalankan?

Ternyata setelah saya merenungkan hal ini, ada makna yang lebih dalam daripada sekedar perintah agar kita selalu bersukacita. Surat 1 Tesalonika 5 sendiri adalah surat yang mengingatkan jemaat di Tesalonika akan apa yang harus mereka persiapkan dan lakukan sambil berjaga-jaga akan kedatangan Kristus di kemudian hari. Menurut saya, pada pasal 5 tersebut, ayat 11 hingga 22 adalah sekumpulan "perintah" berupa nasihat yang hingga hari ini masih relevan dengan kehidupan kita dewasa ini, yang berbunyi sebagai berikut:

1 Tesalonika 5:11-22
11Karena itu nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu seperti yang memang kamu lakukan.
12Kami minta kepadamu, saudara-saudara, supaya kamu menghormati mereka yang bekerja keras di antara kamu, yang memimpin kamu dalam Tuhan dan yang menegor kamu;
13dan supaya kamu sungguh-sungguh menjunjung mereka dalam kasih karena pekerjaan mereka. Hiduplah selalu dalam damai seorang dengan yang lain.
14Kami juga menasihati kamu, saudara-saudara, tegorlah mereka yang hidup dengan tidak tertib, hiburlah mereka yang tawar hati, belalah mereka yang lemah, sabarlah terhadap semua orang.
15Perhatikanlah, supaya jangan ada orang yang membalas jahat dengan jahat, tetapi usahakanlah senantiasa yang baik, terhadap kamu masing-masing dan terhadap semua orang.
16Bersukacitalah senantiasa.
17Tetaplah berdoa.
18Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.
19Janganlah padamkan Roh,
20dan janganlah anggap rendah nubuat-nubuat.
21Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.
22Jauhkanlah dirimu dari segala jenis kejahatan.

Dari ayat-ayat tersebut tentu banyak yang bisa kita pelajari bersama, namun kali ini saya mau membagikan apa yang menjadi perenungan saya pribadi.

Kita tentu sepakat bahwa Tuhan menginginkan kita untuk dapat hidup dengan bahagia, terutama setelah Allah menjanjikan berkat yang begitu melimpah ruah bagi kita yang mengikut Dia. Namun meskipun keselamatan dari Allah melalui Yesus Kristus adalah gratis adanya, berkat Allah memiliki syarat. Sukacita adalah salah satu berkat yang terus dijanjikan Allah kepada kita, sekaligus berkat yang memiliki syarat paling banyak menurut saya pribadi. Lalu apa kaitannya dengan ayat-ayat diatas? Menurut saya, seperti layaknya ketika kita menulis surat, Rasul Paulus ketika menuliskan surat ini kepada jemaat di Tesalonika, tidak menulisnya dengan asal saja. Tentu semua yang ia tuliskan, dirancang dengan pemikiran yang jelas supaya tujuan penulisan surat tersebut dapat dipahami dengan baik. Dengan dasar ini, maka urutan penulisan pun menjadi sebuah aspek penting yang bisa kita dalami. Menarik bukan?

Kalau diperhatikan, ayat 11 hingga 22 dapat dibagi menjadi dua bagian utama. Bagian pertama pada ayat 11 hingga 15 menasihatkan kita akan hubungan kita dengan orang lain, sedangkan bagian kedua pada ayat 17 hingga 22 menasihatkan kita akan hubungan kita dengan Tuhan. Lalu bagaimana dengan ayat 6? (bersukacitalah senantiasa). Ayat 6 ini saya lihat sebagai hasil HARMONISASI dari kedua bagian tersebut, karena dua bagian yang SERASI akan melahirkan keharmonisan.

Saya melihat bahwa kedua bagian itu bagaikan dua garis, bagian pertama mengenai hubungan dengan sesama sebagai garis horizontal, dan bagian kedua mengenai hubungan dengan Tuhan sebagai garis vertikal. Ketika kedua aspek ini bertemu, barulah kita bisa merasakan damai sejahtera dan sukacita senantiasa (SALIB KRISTUS). Mungkin bagi sebagian dari pembaca, hal ini terasa agak memaksa, namun bagi saya ini menjadi sebuah pengalaman pribadi bahwa Tuhan bisa mengajarkan kita hikmat dan pengertian akan Firman-Nya lewat cara yang kreatif dan menarik.

Kalau kita melanjutkan pemikiran ini, maka bagian pertama menjadi sebuah permulaan yang menarik, mengapa bukan aspek-aspek yang berhubungan dengan Tuhan yang didahulukan namun aspek-aspek relasi dengan sesama manusia yang didahulukan? Pengertian yang saya dapat adalah, seperti apa yang tertulis dalam Kejadian 2:18, TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." Bahwa kehidupan manusia dengan Allah bukanlah kehidupan yang menyendiri, Allah lebih mau kita ada dalam sebuah komunitas, bukan mengandalkan diri kita sendiri dalam perjalanan kita mencariNya. Untuk hal ini dapat terjadi maka relasi kita dengan sesama menjadi penting untuk dibahas terlebih dahulu sekaligus menjadi hal yang paling sulit untuk dilaksanakan.

Jika kita berbicara tentang relasi kita dengan sesama, kata KASIH kemudian menjadi esensi yang tidak terpisahkan, bahkan ayat 11 hingga 15 secara tersirat mengajarkan kita untuk saling mengasihi, karena kesemuanya itu sangat sulit untuk dapat kita lakukan jika kita tidak memiliki kasih yang benar. Mengapa? Karena manusia adalah makhluk yang penuh dengan cacat cela yang menghasilkan permukaan yang tidak rata, sehingga ketika dua manusia berdekatan permukaan yang tidak rata cenderung akan menghasilkan gesekan-gesekan yang saling menghancurkan jika tidak dikelola dengan benar. Maka dari itu pula KASIH adalah perlambangan dari semua yang Kristus telah ajarkan, yang mana artinya ketika kita menjalankan KASIH, orang lain mengenal Kristus akan apa yang kita kerjakan, seperti apa yang tertulis pada Yohanes 13:34-35, "Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi."

Tantangan terbesar dalam mempraktekkan kasih adalah ketika kita menghakimi atau menilai orang lain menurut standar yang kita miliki. Seringkali kita menimbang-nimbang kelayakan seseorang dalam menerima kasih yang kita berikan. Karena alasan inilah kita sulit mengasihi orang-orang yang telah melakukan kesalahan kepada kita, orang-orang yang memiliki nilai atau pandangan yang berbeda dengan kita, orang-orang yang kita rasa melakukan hal yang salah atau tidak pantas, dan orang-orang yang kita nilai tidak penting dalam kehidupan kita. Perlu diperhatikan, kata "yang sepadan dengan dia." dalam kitab Kejadian bukan hanya mengisyaratkan kita untuk mencari pasangan hidup yang sepadan, namun juga mengisyaratkan bahwa setiap manusia yang diciptakan oleh-Nya pada hakikatnya adalah sepadan (setara-memiliki nilai yang sama) satu sama lainnya.

Maka jelaslah Firman Kristus dalam Lukas 6:32-38, "Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian. Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak. Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati." "Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni. Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu."

Cara untuk mengasihi tentu banyak sekali diajarkan dalam Alkitab, salah satunya yang diajarkan kepada saya pada injil Lukas 10: 25-37, yang mengajarkan kita bagaimana untuk melihat kebutuhan, merasakan kebutuhan, dan menjawab kebutuhan sesama kita. Namun sebelum kita mengerti esensi kasih yang benar tadi, maka pengetahuan untuk mempraktekkan kasih menjadi sia-sia, karena kita akan menjadi pribadi yang pilih kasih, atau sekalipun kita melakukannya, kita tidak melakukannya dengan hati yang tulus.

Ketika kita mengerti esensi kasih dan menerapkannya dengan benar, maka kita secara tidak langsung menciptakan sebuah komunitas yang kuat yang saling menjaga dalam perjalanan kita mengikut Kristus--seperti yang dicontohkan oleh para Rasul. Ketika hal ini terjadi, dengan sendirinya bagian kedua dari surat Rasul Paulus tadi menjadi lebih mudah, bukan? Pada akhirnya kita akan mengerti, bersyukur dan menikmati kalimat "bersukacitalah senantiasa" - keharmonisan hidup yang sudah Tuhan rancangkan bagi kita.

Tuhan memberkati. (CBA)

Comments