Skip to main content

Harga sebuah Pemuridan

Pemuridan sebenarnya adalah sebuah proses paling penting yang harus terjadi dalam hidup kita sebagai pengikut Kristus, sesuai dengan pesan terakhir Yesus Kristus sebelum Ia terangkat ke Sorga ialah ".. pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:19-20)

Berbicara tentang konsep pemuridan, tentu teladan yang terbaik yang bisa kita ambil dari Alkitab adalah pribadi Yesus Kristus. Banyak kisah hidup Yesus yang menggambarkan dengan jelas tentang proses pemuridan yang Ia lakukan kepada para murid-muridnya. Namun dari keseluruhan kisah hidup Yesus, ada satu kisah yang menarik buat saya, yaitu kisah yang tercatat pada injil Lukas 2:41-52. Kisah ini adalah satu-satunya kisah masa kecil Yesus yang disebutkan dalam Injil. Buat saya pribadi, setiap hal yang tercatat di Alkitab adalah penting dan memiliki maksud yang perlu kita pahami, maka kisah ini tentu menjadi menarik buat saya untuk dapat saya pahami, mengapa kisah ini diceritakan. Lewat perenungan pribadi, ternyata kisah ini mengajarkan kepada saya sesuatu yang penting, khususnya sebagai landasan pemuridan bagi orang Kristen, karena bagi saya, ternyata pertama kalinya Yesus menunjukkan konsep pemuridan adalah melalui kisah ini.

Yesus Kristus adalah pribadi yang seringkali dipanggil sebagai guru, bahkan oleh para ahli Taurat (Matius 8:19). Ketika seorang yang disebut ahli memanggil orang lain sebagai guru, artinya ada sebuah respek dan pengakuan yang diberikan, bahwa orang yang dipanggil guru memiliki pemahaman dan pengajaran yang lebih baik dari apa yang orang yang memanggil. Lalu apa hubungannya dengan kisah masa kecil Yesus? Mari kita simak kisahnya berikut:

Lukas 2:41-52 
Tiap-tiap tahun orang tua Yesus pergi ke Yerusalem pada hari raya Paskah. Ketika Yesus telah berumur dua belas tahun pergilah mereka ke Yerusalem seperti yang lazim pada hari raya itu. Sehabis hari-hari perayaan itu, ketika mereka berjalan pulang, tinggallah Yesus di Yerusalem tanpa diketahui orang tua-Nya. Karena mereka menyangka bahwa Ia ada di antara orang-orang seperjalanan mereka, berjalanlah mereka sehari perjalanan jauhnya, lalu mencari Dia di antara kaum keluarga dan kenalan mereka. Karena mereka tidak menemukan Dia, kembalilah mereka ke Yerusalem sambil terus mencari Dia. Sesudah tiga hari mereka menemukan Dia dalam Bait Allah; Ia sedang duduk di tengah-tengah alim ulama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka. Dan semua orang yang mendengar Dia sangat heran akan kecerdasan-Nya dan segala jawab yang diberikan-Nya. Dan ketika orang tua-Nya melihat Dia, tercenganglah mereka, lalu kata ibu-Nya kepada-Nya: "Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau." Jawab-Nya kepada mereka: "Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?" Tetapi mereka tidak mengerti apa yang dikatakan-Nya kepada mereka. Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya. Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.

Terlepas dari gambaran keseluruhan dari kisah ini, bagian yang paling menarik buat saya ketika saya merenungkan kisah ini dengan konteks pemuridan adalah ketika Yesus ditemukan dalam Bait Allah sedang duduk di tengah-tengah alim ulama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka. Disini Yesus mengajarkan kepada saya bahwa, sekalipun Ia tahu bahwa Ia adalah Anak Allah yang tentu penuh dengan hikmat, dan tidak ada satupun hal yang tersembunyi bagiNya, Yesus tetap mengambil langkah pertama untuk menjadi seorang murid dan belajar kepada orang-orang yang lebih dewasa dariNya. Yesus tidak mengambil peran sebagai Tuhan namun mengambil peran sebagai manusia untuk memberikan contoh kepada kita semua, karena jelas bahwa kita tidak bisa memberikan apa yang tidak kita miliki kepada orang lain.

Disini saya menyimpulkan, ada harga yang harus terlebih dahulu kita bayarkan dalam sebuah proses pemuridan yang benar. Konsep ini pun diterapkan juga di dunia sebagai hal yang lumrah, bukankan untuk mendapatkan pendidikan yang layak, kita harus membayarkan sejumlah dana kepada sebuah institusi pendidikan atau seorang guru sebagai gantinya?

Tentu dalam hal kekristenan, ada harga yang kita harus bayar dalam sepanjang proses pemuridan yang kita alami, baik pada waktu kita sebagai murid, maupun sebagai orang yang memuridkan, yang jauh lebih penting daripada sekedar jumlah uang. Kali ini saya mau membagikan apa yang saya pelajadi tentang harga yang harus saya bayar.

Hal pertama yang saya pahami dalam konsep pemuridan adalah, semakin dewasa diri kita, semakin besar harga yang harus kita bayarkan dalam proses pemuridan. Ketika kita masih kanak-kanak dan masuk sekolah, maka guru kita akan memberikan perhatian berlimpah kepada kita, memberikan banyak waktu dan tenaga untuk dapat memantau proses pembelajaran kita, bahkan dewasa ini banyak sekali sekolah di tingkat anak usia dini (PAUD) menyediakan lebih dari satu tenaga pengajar dalam kelas, bahkan untuk jumlah siswa yang tidak terlalu banyak. Hal ini berbanding kontras dengan apa yang dialami oleh anak-anak mahasiswa. Pada saat kita masuk dalam tingkat pendidikan tinggi, para pengajar kita cenderung memberikan tanggung jawab penuh kepada diri kita sendiri dalam proses pembelajaran, mereka tidak lagi intens dalam mencari kita, tidak lagi memastikan bahwa setiap peserta didik mengerjakan tugas, dan tidak lagi memperhartikan setiap anak didiknya secara personal. Pada masa ini setiap mahasiswa diharapkan untuk aktif untuk mengambil inisiatif dalam interaksi belajar. Maka bisa saya katakan harga pertama yang harus kita bayarkan seiring dengan pertumbuhan kedewasaan rohani kita adalah ego kita. Tentunya kita tidak mau terus-menerus dianggap sebagai anak kecil, bukan? Semakin kita dewasa rohani, semakin kita harus memiliki inisiatif dan aktif dalam proses pemuridan, seperti yang Rasul Paulus katakan dalam 1 Korintus 13:11, "Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu."

Tentu bagi kita yang sudah dalam tahap untuk memuridkan, kita juga harus mampu mengenali setiap pribadi lepas pribadi dari orang-orang yang Tuhan percayakan sebagai murid, jangan sampai anak-anak kita berikan pemuridan kelas dewasa, dan sebaliknya.

Selain itu apa lagi? Apakah merendahkan diri sudah cukup untuk membayar proses pemuridan kita? Tentu tidak, merendahkan diri sebagai murid bukanlah perkara yang mudah, mungkin bagi Yesus ketika Ia berumur dua belas tahun, untuk dapat berada di tengah-tengah para alim ulama di masa itu dan belajar dengan mereka, juga bukan perkara mudah, belum tentu apa yang diajarkan oleh mereka adalah benar seluruhnya. Namanya manusia, pasti memiliki celah dan kekurangan, mana bisa dibandingkan dengan Allah sendiri? Maka lewat kisah ini Yesus mengajarkan kita bahwa karena Ia mengasihi Allah lebih dari segalanya, Ia mau taat akan rencana yang Allah buat dalam hidupNya, dan mau merendahkan diriNya untuk belajar dengan orang-orang yang Allah tunjuk / siapkan bagiNya ditempat itu, bahkan Ia meninggalkan orang tuanya selama berhari-hari hanya untuk belajar di Bait Allah, apakah Yesus tidak mengasihi orang tuanya? tentu tidak, namun jelas bahwa Ia mengasihi Bapa lebih dari pada orang tua jasmaniNya, sebab ada tertulis dalam Matius 10:37, "Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku."

Ketika kita mengasihi Allah lebih dari segalanya, maka setiap harga yang diminta untuk kita bayarkan menjadi mudah, sebaliknya jika kita belum pada posisi tersebut, setiap harga yang diminta untuk kita bayarkan adalah harga yang tidak main-main. Lukas menulis dalam injil Lukas 14:27, "Barang siapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku." dan Lukas 14:33 mengatakan, "Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku."

Memikul salib merupakan sebuah harga yang sangat besar, loh! Dimana kita harus menyangkal diri kita yang benar atau yang kita anggap benar, yang kita anggap baik, menundukkan diri kita, taat dan hormat kepada otoritas yang Tuhan percayakan untuk kita dengan kerelaan penuh (Salib adalah hukum bangsa Roma yang diterapkan kepada Yesus pada masa itu). Proses untuk tunduk ini juga bukan merupakan hal yang sepele, karena Yesus memberi contoh bahwa Ia menjalani proses penyalibanNya dengan komitmen yang penuh dari awal hingga akhir,  dengan kerelaan penuh seperti yang Ia katakan di taman getsemani dalam Lukas 22:42, "Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi." dan ketika Yesus mau ditangkap, ketika salah seorang muridNya hendak membelaNya Yesus pun berkata, "Sudahlah itu." (Lukas 22:51).

Dan ternyata saya sadar bahwa memikul salib tidak bisa kita lakukan ketika kita masih memegang dengan kuat semua yang kita miliki! Semua yang kita miliki tidak terbatas pada harta kita, namun pemikiran kita, perasaan kita, ego kita, kepentingan diri kita, dan terkadang, harga diri (pride) kita. Salib itu begitu berat, sehingga kita tidak mungkin bisa berjalan sambil memikul salib kalau kita membawa banyak "extra baggage" bukan? Bahkan ketika Yesus disalibkan, pakaian (perlindungan) dan jubahNya (status) pun diambil daripadaNya (Yohanes 19:23).

Ternyata, proses pemuridan bukanlah proses yang sederhana ya? 
Semoga memberkati. (CBA)

Comments