Skip to main content

Mentoring dalam komunitas Kristus

Apa bedanya anggur liar dan anggur yang dipelihara di dalam kebun? Mengapa orang mau berlelah-lelah dalam mengurusi kebun anggur daripada memetik anggur liar di luar sana?

Jawaban dari pertanyaan ini tentu saja mudah. Anggur yang dipelihara di dalam perkebunan memiliki buah yang lebih banyak, lebih besar, rasa lebih manis, dan tentu saja lebih mudah dijaga dari hama/perusak tanaman.

Lalu kenapa hal ini penting? Tentu saja kali ini kita tidak berbicara mengenai tanaman anggur. Analogi anggur di atas merupakan analogi yang saya pikirkan ketika kita berbicara tentang discipleship atau mentoring.

Mengapa banyak pengikut Kristus di luar sana tidak bertumbuh sesuai dengan apa yang diharapkan? Mengapa ada yang sudah begitu lama ada dalam sebuah komunitas iman namun tidak menghasilkan buah yang banyak atau bahkan tidak berbuah sama sekali? Menurut saya pribadi, ketiadaan mentor merupakan salah satu penyebab utama banyak orang menjadi batu sandungan bagi satu sama lainnya. Yesus mengatakan pula suatu perumpamaan kepada mereka: “Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lobang?” (Lukas 6:39).

Hal tentang ketiadaan mentor ini tentu dapat dilihat dari dua sisi:

  • Ketiadaan pribadi yang mau menjadi mentor
  • Ketidak inginan seseorang membuka dirinya untuk dimentori

Seperti apa yang Tuhan Yesus ajarkan kepada kita dimana Ia sendiri menjadi seorang Mentor bagi ke dua belas murid-muridNya, Mentor idealnya adalah seorang pribadi yang secara personal mengenal setiap menteenya, dan secara aktif dapat berinteraksi dengan intens kepada kita. Tentu saja sudah banyak sekali orang diluar sana baik di dalam komunitas gereja maupun bukan yang membahas tentang mentoring, terutama mengenai peran seorang mentor atau bagaimana menjadi seorang mentor.

Buat saya pribadi, menjadi mentor maupun menjadi mentee memiliki tantangannya sendiri-sendiri, dan tentu bukanlah hal yang mudah untuk dapat fit-in satu sama lain dalam proses pembelajaran ini sendiri, dan halangan atau tantangan terbesar dalam proses ini menurut saya adalah KETERBUKAAN ABSOLUT.

Mentor dikatakan merupakan sebuah pribadi yang merupakan penasihat dan pembimbing yang dapat dipercayai; terkadang disebut sebagai pengajar, orang yang dapat melihat kekurangan kita, orang yang dapat menegur kita dan memberi arahan akan keputusan-keputusan penting dalam hidup kita. Semua hal tersebut adalah bagus jika dapat terlaksana, apalagi orang-orang yang biasanya disebut mentor umumnya memiliki pengalaman dan pencapaian yang lebih dalam aspek tertentu dari orang-orang yang dimentori. Namun semua hal tersebut tidak akan pernah terealisasi secara baik jika sang mentee tidak menaruh KEPERCAYAAN kepada mentornya, bukan?

Menaruh kepercayaan kepada mentor tidak hanya cukup lewat ucapan, bahwa kita percaya saja, namun lewat tindakan untuk MEMBUKA diri dan pikiran kita kepada sang mentor. Membuka diri berarti membiarkan setiap kelebihan dan kekurangan kita terlihat secara UTUH supaya sang mentor bisa memberikan masukan-masukan yang tepat bagi kita. Sayang sekali proses mentoring tidak berhenti sampai di sini saja, mentee juga harus mau untuk MEMBERI diri, pikiran, tenaga, waktu, dan sumber daya yang dimiliki untuk bergerak bersama dengan sang mentor menuju tujuan yang telah disepakati bersama. Juga diperlukan adanya proses DISKUSI yang harus dilakukan dua arah sebagai wadah tansfer knowledge dari sang mentor kepada mentee.

Seorang mentor juga memiliki peran penting agar semua hal diatas dapat terjadi, yaitu lewat KETERBUKAAN pribadinya juga, dimana sang mentor tidak takut membagi semua pengalaman yang dimiliki, termasuk kegagalan, proses yang tertunda, kekurangan, dan proses kebangkitan selain hal-hal positif dan kelebihan-kelebihan yang dibanggakan. Tidak perlu seorang mentor berusaha menjadi pribadi yang sempurna bagi menteenya, rasanya tidak layak kita mengambil peran Yesus Kristus sebagai teladan yang utama bagi mereka, bukan? Setiap mentor rasanya cukup menjadi "rasul Paulus" dan tidak mencuri kemuliaan dari Tuhan Yesus sebagai pribadi yang sempurna.

Layaknya proses penempaan, mentor berlaku sebagai pandai besi dan mentee menjadi besi mentah yang akan ditempa, proses penempaan memerlukan kerja sama dari kedua pihak dimana sang pandai besi harus mampu mempersiapkan semua tools yang tepat, memastikan suhu yang tepat, dan tingkat kekuatan tempa yang tepat dan konsisten. Di sisi lain, besi mentah juga harus siap ditempa dengan memiliki fleksibilitas yang cukup untuk ditempa, tahan akan perubahan suhu dalam proses pembentukan, dan memiliki kepadatan yang cukup untuk dibentuk menjadi hasil karya yang utuh dan kokoh. Jika salah satu saja tidak berfungsi dengan baik, maka hasil akhir yang diharapkan tidak akan pernah terjadi.

Jadi, adakah aspek yang belum kita penuhi dalam role kita saat ini?

Tuhan memberkati. (CBA)

Comments