Skip to main content

Perlunya istirahat (yang benar)

Tidak terasa akhir tahun 2018 sudah begitu dekat, kurang dari satu bulan kita akan menghadapi tahun yang baru. Akhir tahun biasanya kesibukan mulai menurun, sebagian dari kita sudah mulai mempersiapkan rencana-rencana liburan yang sebentar lagi akan tiba. Hal ini tentu merupakan sebuah waktu yang menyenangkan, dan Tuhan sendiri pun senang kok melihat kita bisa menikmati waktu beristirahat kita dengan baik di akhir tahun ini. Tentunya liburan tidak membuat kita lupa dengan Tuhan bukan?

Tuhan Allah kita sebagai teladan dan Bapa bagi kita juga tahu kalau kita membutuhkan masa istirahat dengan baik. Ketika Allah memulai semua penciptaanNya, Ia pun berhenti dan beristirahat pada hari yang ke tujuh (Kejadian 2:2-3) yang bahkan secara pribadi disampaikan Allah kepada musa dalam Keluaran 31:17 "Antara Aku dan orang Israel maka inilah suatu peringatan untuk selama-lamanya, sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, dan pada hari yang ketujuh Ia berhenti bekerja untuk beristirahat." Atau masih ingatkah kita cerita Yesus dalam kitab Markus 6:30-31 "Kemudian rasul-rasul itu kembali berkumpul dengan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan. Lalu Ia berkata kepada mereka: "Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!" Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makanpun mereka tidak sempat." Ketika Allah menganggap istirahat merupakan hal yang penting, hal tentang istirahat sendiri merupakan hal yang jarang sekali dibahas dalam keseharian kita dan seringkali kita lupakan, terutama pada komunitas orang asia. Betul kita masih secara rutin merencanakan liburan keluarga bersama, atau liburan dengan teman-teman, namun seringkali setelah liburan yang penuh aktivitas, kita terkadang malah menjadi lelah dan menghabiskan banyak resources kita dan kehilangan esensi dari peristirahatan itu sendiri.

Terkadang kita sudah nyaman dengan kebiasaan yang kita lakukan sehingga membuat kita sulit melihat hal-hal lain yang terlewatkan dalam pengertian kita sendiri. Atas dasar pemikiran saya ini, saya mencoba untuk menguji lagi pemahaman saya dengan mempelajari ulang tentang istirahat atau yang seringkali disebut sabat dalam alkitab.

#1. Apa sih beristirahat itu?
Kata sabat dalam alkitab dalam bahasa aslinya dapat dibaca sebagai istirahat atau berhenti bekerja. Sabat atau istirahat sendiri dianggap sebagai sebuah hari yang setara dengan hari raya, dengan kata lain istirahat itu sendiri adalah sebuah perayaan, maka saya diingatkan bahwa setiap kali kita beristirahat kita harus bersuka cita!

Keluaran 31:16 "Maka haruslah orang Israel memelihara hari Sabat, dengan merayakan sabat, turun-temurun, menjadi perjanjian kekal."

Kita juga perlu ingat, bahwa kita adalah manusia ROH, yang memiliki JIWA, dan tinggal dalam TUBUH. Setiap komponen dalam diri kita perlu memiliki istirahat yang tepat juga.

#2. Siapa yang perlu beristirahat?
Hal ini jelas tentunya, bahwa Tuhan mau setiap dari kita, siapapun itu untuk bisa mengambil istirahat yang baik. Tuhan mau ada balance yang jelas dalam keseharian kita.

Keluaran 20:10 "tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu."

#3. Beristirahat yang ideal dimana?
Tentunya Tuhan mau kita terus ada di dekat Dia dalam kondisi apapun, Marilah kepadaKu semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan  kepadamu.” (Matius 11:28) seperti yang Maria lakukan yaitu duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya (Lukas 10:39) Kelegaan yang bisa Tuhan berikan adalah tempat istirahat terbaik bagi ROH kita.

Lalu ada pula dikatakan dalam Keluaran 16:29 "Perhatikanlah, TUHAN telah memberikan sabat itu kepadamu; itulah sebabnya pada hari keenam Ia memberikan kepadamu roti untuk dua hari. Tinggallah kamu di tempatmu masing-masing, seorangpun tidak boleh keluar dari tempatnya pada hari ketujuh itu." Saat membaca ayat ini pasti kita berpikir, wah 'nggak asik, donk? Namun saya mencoba mempelajari lebih dalam maksud ayat ini, dan melihat kepada kebiasaan dari masyarakat israel sampai saat ini.

Ketika dikatakan tempatmu masing-masing, ini tidak secara khusus menunjuk kepada lokasi atau bangunan tempat tinggal kita, namun lebih banyak merujuk kepada istri atau keluarga dan orang-orang terdekat kita. Hingga saat ini pun bangsa israel merayakan sabat dengan mengunjungi keluarga atau orang-orang terdekat mereka dan menghabiskan waktu yang berkualitas dengan pasangan mereka. Maka saya belajar bahwa tempat paling ideal untuk beristirahat adalah di dekat Tuhan dan ditengah-tengah keluarga, dimanapun lokasinya. Namun perlu diperhatikan, bahwa waktu berkualitas dengan keluarga umumnya adalah tempat dimana kita bisa fully focused dengan mereka, maka ketika Tuhan Yesus mengajak murid-muridNya untuk beristirahat, Ia berkata: "Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!" (Markus 6:31a).

#4. Kapan waktu beristirahat yang ideal?
Jika kita melihat apa yang Allah Bapa dan Tuhan Yesus lakukan dalam alkitab, maka saya bisa melihat bahwa Mereka beristirahat bukan ketika mereka merasa lelah. Kejadian 2:2 berkata "Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu."

Tuhan Yesus sendiri ternyata memberi contoh yang begitu serius terkait istirahat. Tahukah kamu bahwa Tuhan Yesus disalibkan dan dikuburkan persis sebelum sabat dimulai? (Lukas 23:54-56) Dan persis sebelum Ia menyerahkan nyawaNya, Ia berkata "Sudah selesai." (Yohanes 19:30). Ia menyelesaikan semua pelayananNya di muka bumi dan beristirahat pada hari sabat, dan Ia bangkit sesudahnya, dimana dikatakan "tetapi pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu mereka pergi ke kubur membawa rempah-rempah yang telah disediakan mereka. Mereka mendapati batu sudah terguling dari kubur itu, dan setelah masuk mereka tidak menemukan mayat Tuhan Yesus." (Lukas 24:1-3)

Maka disinilah saya merasa tertegur. Seringkali saya berpikir bahwa weekend adalah waktu kita untuk beristirahat, apapun yang terjadi, sehingga ketika pada hari jumat tiba, mood saya untuk bekerja menjadi turun dan berpikir bahwa pekerjaan ini rasanya tidak mungkin bisa diselesaikan di hari ini dan bisa ditunda untuk dilakukan pada hari senin minggu berikutnya. Pada ayat ini Tuhan bukan mengatakan jika pekerjaan kita belum selesai pada hari keenam maka kita tidak boleh beristirahat, namun bagi saya Tuhan mengajarkan saya bahwa planning merupakan hal yang penting untuk bisa kita lakukan agar kita bisa menyelesaikan pekerjaan kita dengan tepat waktu, ada target mingguan bahkan harian yang perlu kita tentukan dengan baik sehingga pada akhir waktunya kita bisa menyelesaikan semua tugas dan tanggung jawab yang kita miliki, dan seperti Allah yang pada hari keenam melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik (Kejadian 1:31). 

Tuhan sebagai pencipta (creator) yang kreatif tidak semerta-merta menciptakan semuanya dengan asal-asalan. Bukankan Ia bisa menciptakan semuanya sekaligus pada hari yang sama? Semua hal diciptakanNya dengan detail dan urutan yang jelas, dengan planning yang jelas mulai dari hari yang pertama hingga terakhir, tanpa cacat cela. Saya belajar bahwa kreativitas bisa direncanakan dengan baik, bukan karena kepepet, agar kita bisa menyelesaikan semuanya dengan baik tepat pada waktunya dan menikmati istirahat yang baik dan tenang. Bukankah kita tidak menyukai jika kita masih sering diganggu oleh pekerjaan kita yang belum selesai pada akhir minggu? Atau jika pekerjaan harian kita tidak selesai dengan baik, bukan kah sulit bagi kita untuk beristirahat dengan baik pada malamnya, dan keesokan paginya kita bangun tidak dengan damai sejahtera?

#5. Mengapa kita beristirahat?
Dalam sebuah artikel yang saya baca ada dikatakan bahwa “Istirahat itu Penting bagi Pelari”. Dalam artikel yang ditulis oleh Tommy Manning, seorang mantan anggota tim lari gunung Amerika Serikat, disebutkan bahwa ada satu prinsip yang kadang diabaikan oleh para atlet, yakni tubuh kita memerlukan waktu untuk beristirahat dan memulihkan tenaga setelah menjalani latihan. “Secara psikologis, proses adaptasi yang terjadi sebagai hasil dari pelatihan itu hanya dapat terjadi selama masa istirahat,” tulis Manning. “Itu berarti beristirahat sama pentingnya dengan berlatih.”

Kita beristirahat tentunya untuk menyegarkan kembali diri kita, seluruh komponen diri kita (ROH, JIWA, dan TUBUH) supaya kita siap kembali untuk beraktivitas selanjutnya, lagi dikatakan sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur. (Mazmur 127:2)

Saat kita beristirahat (tidur) kita juga diajarkan untuk berserah, dan percaya kepada Tuhan sambil menunggu musim menuai akan semua hal yang sudah kita kerjakan dengan baik dan setia, walaupun kita tidak bisa melihat bagaimana Tuhan bekerja menolong kita.

Markus 4:26-29 "Lalu kata Yesus: "Beginilah hal Kerajaan Allah itu: seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu. Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu. Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai sudah tiba."

#6. Bagaimana beristirahat?
Selain istirahat bagi TUBUH dan JIWA, yang kita jauh lebih mudah lakukan, Tuhan juga mau kita beristirahat secara ROH. Ayat Matius 11:28 memberikan impresi paling kuat kepada saya terkait pernyataan ini,  “Marilah kepadaKu semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan  kepadamu.” Kata kelegaan dalam ayat ini dalam bahasa aslinya juga berarti istirahat. Setiap dari kita tentu memiliki beban yang harus kita tanggung setiap saat bukan, maka Tuhan memanggil kita untuk mendekat kepadaNya, dan beristirahat sejenak.

Tentu kita boleh merencanakan liburan kita untuk menyegarkan jiwa kita dengan berjalan-jalan dan mengunjungi tempat rekreasi yang menyenangkan dengan orang-orang terdekat, namun Tuhan mau kita juga menghabiskan waktu pribadi dengan Dia secara rutin. Tuhan Yesus memberi contoh mendekat kepada Tuhan pada Markus 1:35 "Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana."

Tuhan Yesus memulai dengan memberi waktu terbaik (fresh) dari yang Ia miliki kepada Allah, dimana Ia tidak akan diganggu oleh apapun, di tempat yang tenang, dan membangun hubungan pribadi (berdoa) dengan Allah. Waktu yang terbaik mungkin berbeda untuk setiap dari kita, tapi kapanpun itu, Bapa kita di sorga, sangat rindu memiliki hubungan pribadi yang dekat dengan kita, dan berbicara kepada kita. Ingat bahwa salib perlu punya tiang vertikal terlebih dahulu, baru tiang horizontal bisa terpasang dengan baik dan stabil. Prioritas ada pada Tuhan jauh sebelum kita memikirkan hal-hal lainnya, bahkan dalam waktu istirahat kita.

Tuhan memberkati.

Comments