Skip to main content

Bertumbuh dan Berbuah

Sebagai pengikut Kristus, kita seringkali mendengar dorongan dari para pemimpin rohani kita agar kita bisa bertumbuh dan berbuah. Ini tentu saja merupakan sebuah dorongan yang amat baik dan memang harus terjadi dalam perjalanan rohani kita, namun permasalahannya, banyak sekali orang yang bingung bagaimana harus menjalani pertumbuhan ini.

Karena kita didorong untuk bertumbuh dan berbuah, maka tepatlah jika kita ini diibaratkan sebagai sebuah benih, karena hanya benihlah yang bisa bertumbuh dan berbuah kelak. Untuk menyikapi pertumbuhan ini dari sudut pandang sebuah benih akan menjadi jauh lebih mudah untuk dijalani. Sebelum kita merencanakan pertumuhan dari sebuah benih, tentu hal paling pertama yang perlu kita sadari bersama adalah, benih apakah yang kita miliki atau ada di dalam kita?

Jika kita tidak bisa menentukan dengan jelas benih apa yang kita miliki, tentu akan sulit untuk dapat merencanakan pertumbuhan dengan baik, bisa saja kita malah salah dalam memberi pupuk, atau malah salah menentukan tempat untuk menanam benih tersebut, bukan?

Kitab Kejadian yang pertama mengatakan demikian: Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi."

Firman tersebut bisa menjadi sebuah clue, tentang siapa (benih apa) kita ini. Kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah sendiri, gambar dan rupa disini menyatakan keserupaan kita akan pribadi Allah, bukan sekedar memiliki rupa yang mirip, tapi merupakan blueprint yang sama supaya kita memiliki semua kualitas yang Allah miliki dalam hidup kita.

Tentu kita diciptakan unik sebagai handmade-Nya seperti dikatakan "Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. (Mazmur 139:13)." Selayaknya tidak ada pohon yang sama persis, Allah sebagai pribadi yang kreatif (creator) menciptakan kita dengan purpose of life yang unik bagi setiap dari kita. Ingat bahwa tidak ada yang diciptakanNya tanpa sebuah tujuan yang jelas, dan selain kita dan Tuhan, tidak ada seorangpun yang bisa menyadari apa purpose of life pribadi kita. Jadi jika sampai saat ini kita belum menemukan purpose of life kita, ada baiknya kita berhenti bertanya pada orang lain namun bertanya kepada Allah yang menciptakan kita secara sempurna.

Lalu setelah mengetahui benih, langkah selanjutnya yang perlu dilakukan adalah memutuskan dimana benih tersebut akan ditanam. Benih yang tidak ditanam tidak akan pernah bertumbuh, sama juga dengan benih yang tidak ditanam di tempat yang seharusnya, juga akan sulit mengalami pertumbuhan yang baik (jikalaupun ia berhasil bertumbuh). Benih anggur tidak akan bisa bertumbuh dengan baik jika ditanam di tepi pantai bukan?

Lalu dimana kita harus tertanam? Mazmur 92:13 berkata: "mereka yang ditanam di bait TUHAN akan bertunas di pelataran Allah kita." Bait Tuhan disini dapat diartikan sebagai gereja lokal dimana kita dapat diberi makan (dipupuk) dan dimuridkan (dipelihara). Memang kita bukan tumbuh-tumbuhan yang secara sains dapat langsung ditentukan tempat yang terbaik untuk tertanam, namun kita dapat mengevaluasi apakah tempat dimana kita tertanam merupakan tempat yang tepat/tidak dengan sebuah prinsip: "Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon;" Mazmur 92:12. Apakah orang lain bisa melihat munculnya tunas (perubahan hidup) dalam diri kita? Apakah kita bertumbuh subur (cepat dewasa)? Jika kedua aspek tersebut tidak kita dapatkan (ketika kita sudah berusaha dengan baik untuk dapat tertanam: komitmen, taat kepada otoritas, mau mengambil inisiatif, mau berubah, etc.), kita perlu bertanya ulang pada diri kita sendiri, apakah tempat ini merupakan tempat yang tepat untuk dapat tertanam?

2 Petrus 3:18 – “Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya.” Ayat ini memberi juga petunjuk mengenai tempat yang menyediakan cara yang tepat untuk mendukung pertumbuhan kita: Kasih karunia dan pengenalan akan Tuhan. Jika gereja lokal tidak menerima kita dengan apa adanya atas dasar kasih karunia, dan mendorong kita untuk semakin mengenal Tuhan, maka dapat dipastikan bahwa tempat tersebut bukanlah tempat yang cocok bagi kita untuk tertanam, layaknya yang Tuhan Yesus katakan: "Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku." (Yohanes 15:4) maka gereja lokal yang tidak berhasil mendekatkan kita dengan Tuhan, menghalangi pertumbuhan kita (tentunya setelah mengevaluasi diri kita sendiri apakah kita mau dan berusaha untuk bertumbuh atau tidak).

Pertumbuhan sendiri tidak selalu merupakan sebuah proses yang nikmat, karena dikatakan juga: "Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah." (Yohanes 15:2) karena kita terus akan mengalami "proses pembersihan" secara terus menerus dalam pertumbuhan kita.

Dan yang paling penting dari semuanya ini adalah tujuan pertumbuhan itu sendiri, karena setiap pohon yang tidak menghasilkan buah (act that resulted in praises, which are presented to God as a thank offering); yang baik (godly-likeness to God), pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. (Matius 7:19) Salah satu buah yang diharapkan Tuhan pada kita adalah buah Roh: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. (Galatia 5:22-23) Kesemuanya itu bukanlah buah yang berbeda, namun satu buah yang memiliki 9 rasa dalam satu gigitan.

Tuhan memberkati.

Comments