Menjadi pengikut Kristus bukanlah sebuah perkara yang mudah bagi manusia. Banyak sekali hal-hal yang tidak masuk akal yang harus kita lalui terlebih dahulu untuk dapat mengerti apa yang menjadi maksud Tuhan dalam hidup kita. Salah satu yang menjadi tantangan terbesar bagi orang-orang yang melabeli dirinya sebagai orang Kristen adalah tentang kasih dan memberi.
Manusia secara naluri adalah makhluk yang mementingkan dirinya sendiri, secara umum hampir semua manusia beroperasi setiap harinya dengan prinsip laba rugi, mencari sesuatu untuk memenuhi dirinya atau orang-orang yang penting bagi dirinya sendiri, apapun yang dilakukan harus mendapatkan return yang lebih baik. Hal ini juga seringkali masih terbawa ketika kita mulai mengikuti Tuhan. Banyak orang diluar sana berpikir bahwa menjadi anak Tuhan bisa diberkati, berpikir bahwa membawa persepuluhan ke Tuhan supaya bisa kaya/diberkati, berpikir, bahwa datang ke komsel supaya usaha semakin di berkati, keluarga bisa pulih, mendapatkan calon pasangan yang baik, berpikir kumpul dengan anak-anak Tuhan supaya saya bisa menjadi lebih baik, ternyata semakin banyak kehilangan teman yang dahulu dekat.
Hal ini yang kemudian banyak membuat orang Kristen menjadi tawar hati terhadap Tuhan, menjadi kecewa karena doa-doanya tidak dijawab, menjadi iri akan orang-orang yang diberkati oleh Tuhan dan mulai bertanya-tanya, mengapa Tuhan berlaku tidak adil kepada mereka.
Yang menjadi perenungan saya adalah, apakah yang sebenarnya dikehendaki oleh Tuhan dari semuanya ini? Mengapa Bapa kita di Surga yang baik, seakan-akan terlihat tidak baik? Bukankah dikatakan dalam Alkitab (Lukas 11:11-13) "Bapa manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan dari padanya, akan memberikan ular kepada anaknya itu ganti ikan? Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya kalajengking? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya." Bukankah Yesus sendiri juga berkata "Oleh karena itu Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan."(Lukas 11: 9-10) Selain itu, masih banyak sekali ayat-ayat Alkitab lainnya yang menyuarakan hal yang sama, tentang bagaimana Tuhan akan menjawab setiap permintaan dari anak-anakNya.
Apakah Tuhan kontradiktif terhadap apa yang sudah Ia katakan? Sekali-kali tidak! Bagi saya pribadi, Tuhan Yesus turun ke dunia selain untuk menyelamatkan saya orang berdosa, Ia juga datang untuk menjadi guru dan memberi teladan atas apa yang harus kita lakukan di dunia. Seringkali saya lupa bahwa prinsip kehadiran Yesus di dunia adalah untuk memberi. Ia datang supaya kita mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. (Yohanes 10:10) Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk mengasihi dan taat kepada Bapa. Ketika Tuhan Yesus berdoa meminta kepada Bapa agar penyalibannya bisa dilalukan daripadaNya, Ia pun tetap berkata "tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki." (Matius 26:39). Apakah yang kita minta sudah sesuai dengan kehendakNya?
Frasa terbaik dalam menggambarkan hal ini adalah jangan kejar apa yang bisa datang sendiri dalam hidupmu. Ya betul, Tuhan mau dan mampu memberkati anak-anakNya, tapi jauh sebelum kita berbicara tentang berkat, pertanyaan pertama yang harus kita jawab adalah, apakah kita sesungguhnya merupakan anakNya yang benar? Ingat bahwa kasih Tuhan tidak bersyarat, namun berkat Tuhan bersyarat.
Ulangan 28:13-14 berkata "TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia, dan apabila engkau tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dari segala perintah yang kuberikan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain dan beribadah kepadanya."
Selain itu perlu kita ingat, seperti yang dikatakan sebelumnya bahwa Tuhan tidak akan memberi ular ganti ikan bagi anak-anakNya, Ia tidak akan sekali-kali memberikan sesuatu yang akan berdampak buruk bagi kita pada akhirnya. Ketika kita meminta berkat, kita perlu memastikan bahwa berkat yang kita minta tidak akan merusakkan kehidupan kita. Karena ketika berkat dicurahkan bagi orang-orang yang tidak sungguh-sungguh melekat pada Tuhan dan meletakkan hidupnya pada dasar yang tidak tepat, rubuhlah hidupnya itu dan hebatlah kerusakannya. (Matius 7:24-27)
Ketika kita meminta banyak hal kepada Tuhan, bagaimana caranya agar Tuhan tahu bahwa kita sudah siap menerima apa yang kita minta? Ada dikatakan bahwa setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut (Lukas 12:48). Kata dituntut disini melambangkan pemberian, karena ketika seseorang dituntut akan sesuatu artinya dia diminta untuk memberikan sesuatu, bukan? Maka cara terbaik untuk menunjukkan kepada Tuhan kesiapan kita untuk menerima adalah untuk memberi!
Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu (Lukas 6:38).
Dikatakan suatu takaran yang baik, bukan sekedarnya, karena Tuhan menghargai pemberian yang terbaik dari kita. Ingat bagaimana Tuhan mengindahkan Habel yang mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya; namun tidak mengindahkan Kain yang mempersembahkan sebagian dari hasil tanah itu kepada TUHAN sebagai korban persembahan (Kejadian 4:3-5). Ada perbedaan kualitatif yang besar dari kedua persembahan itu. Sama juga dengan ketika Tuhan Yesus melihat perbedaan besar antara 2 peser yang dipersembahkan oleh janda miskin dalam kitab Markus 12:41-42 dibandingkan dengan jumlah besar yang dipersembahkan oleh orang-orang kaya. Bukan kuantitas yang dilihat oleh Bapa, namun kualitas.
Pemberian dengan takaran yang baik juga dapat diartikan sebagia pemberian yang murah hati. Lukas 6:36 menuliskan: Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati. Apa ukuran murah hati dari Tuhan? Murah hati menurut Tuhan adalah pemberian yang penuh kasih, sebagaimana teladan yang diberikan Tuhan pada kita. "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." Yohanes 3:16. Karunia atau anugerah disini juga berarti bahwa, disaat manusia tidak layak untuk menerima pemberian Allah tersebut, Ia dengan murah hati tetap memberikannya kepada kita. Maka ketika kita memberi dengan murah hati, ketika Tuhan menggerakan hati kita untuk memberi, kita tidak perlu lagi mengevaluasi apakah orang yang hendak kita beri layak atau tidak menerima pemberian tersebut, namun memberikan suatu hal yang terbaik yang bisa kita berikan sesuai dengan apa yang menjadi kebutuhannya. Ingatlah, barang siapa mengatakan bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup (1 Yohanes 2:1). Kita bisa memberi tanpa mengasihi, tapi tidak mungkin mengasihi tanpa memberi.
Pemberian yang sesuai dengan kehendak Tuhan adalah cara terbaik kita untuk membiarkan Tuhan bekerja dalam kehidupan kita. Karena lewat kita sebagai saluran berkat Tuhan, kita mengijinkan Tuhan untuk terus pegang kendali dalam hidup kita. Karena dengan peka terhadap suaraNya dalam memberi, membuat kita terus terhubung dengan Tuhan, dan menyerahkan secara penuh semua yang kita miliki kepadaNya. Bukankah dimana hartamu berada, disitu hatimu berada? (Lukas 12:34)
Pemberian yang murah hati juga perlu disertai dengan hikmat, karena Tuhan sendiri sudah berkata bahwa Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu (2 Korintus 9:10). Maka sesuai dengan peringatan dari FirmanNya, jangan sampai roti untuk makanan kita juga kita tabur sebagai pemberian. Hal ini tidak hanya terbatas pada pemberian materi saja namun termasuk segala hal yang dapat kita beri, mengorbankan waktu yang berkualitas untuk keluarga atas nama pelayanan juga bukan cara yang Tuhan mau untuk kita lakukan, membantu orang lain mengerjakan pekerjaannya disaat pekerjaan kita sendiri belum selesai juga merupakan murah hati yang tidak tepat.
Terus selidiki ketulusan hati dan motivasi kita, sebab dikatakan: Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. 2 Korintus 9:7
Tuhan memberkati.
Manusia secara naluri adalah makhluk yang mementingkan dirinya sendiri, secara umum hampir semua manusia beroperasi setiap harinya dengan prinsip laba rugi, mencari sesuatu untuk memenuhi dirinya atau orang-orang yang penting bagi dirinya sendiri, apapun yang dilakukan harus mendapatkan return yang lebih baik. Hal ini juga seringkali masih terbawa ketika kita mulai mengikuti Tuhan. Banyak orang diluar sana berpikir bahwa menjadi anak Tuhan bisa diberkati, berpikir bahwa membawa persepuluhan ke Tuhan supaya bisa kaya/diberkati, berpikir, bahwa datang ke komsel supaya usaha semakin di berkati, keluarga bisa pulih, mendapatkan calon pasangan yang baik, berpikir kumpul dengan anak-anak Tuhan supaya saya bisa menjadi lebih baik, ternyata semakin banyak kehilangan teman yang dahulu dekat.
Hal ini yang kemudian banyak membuat orang Kristen menjadi tawar hati terhadap Tuhan, menjadi kecewa karena doa-doanya tidak dijawab, menjadi iri akan orang-orang yang diberkati oleh Tuhan dan mulai bertanya-tanya, mengapa Tuhan berlaku tidak adil kepada mereka.
Yang menjadi perenungan saya adalah, apakah yang sebenarnya dikehendaki oleh Tuhan dari semuanya ini? Mengapa Bapa kita di Surga yang baik, seakan-akan terlihat tidak baik? Bukankah dikatakan dalam Alkitab (Lukas 11:11-13) "Bapa manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan dari padanya, akan memberikan ular kepada anaknya itu ganti ikan? Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya kalajengking? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya." Bukankah Yesus sendiri juga berkata "Oleh karena itu Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan."(Lukas 11: 9-10) Selain itu, masih banyak sekali ayat-ayat Alkitab lainnya yang menyuarakan hal yang sama, tentang bagaimana Tuhan akan menjawab setiap permintaan dari anak-anakNya.
Apakah Tuhan kontradiktif terhadap apa yang sudah Ia katakan? Sekali-kali tidak! Bagi saya pribadi, Tuhan Yesus turun ke dunia selain untuk menyelamatkan saya orang berdosa, Ia juga datang untuk menjadi guru dan memberi teladan atas apa yang harus kita lakukan di dunia. Seringkali saya lupa bahwa prinsip kehadiran Yesus di dunia adalah untuk memberi. Ia datang supaya kita mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. (Yohanes 10:10) Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk mengasihi dan taat kepada Bapa. Ketika Tuhan Yesus berdoa meminta kepada Bapa agar penyalibannya bisa dilalukan daripadaNya, Ia pun tetap berkata "tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki." (Matius 26:39). Apakah yang kita minta sudah sesuai dengan kehendakNya?
Frasa terbaik dalam menggambarkan hal ini adalah jangan kejar apa yang bisa datang sendiri dalam hidupmu. Ya betul, Tuhan mau dan mampu memberkati anak-anakNya, tapi jauh sebelum kita berbicara tentang berkat, pertanyaan pertama yang harus kita jawab adalah, apakah kita sesungguhnya merupakan anakNya yang benar? Ingat bahwa kasih Tuhan tidak bersyarat, namun berkat Tuhan bersyarat.
Ulangan 28:13-14 berkata "TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia, dan apabila engkau tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dari segala perintah yang kuberikan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain dan beribadah kepadanya."
Selain itu perlu kita ingat, seperti yang dikatakan sebelumnya bahwa Tuhan tidak akan memberi ular ganti ikan bagi anak-anakNya, Ia tidak akan sekali-kali memberikan sesuatu yang akan berdampak buruk bagi kita pada akhirnya. Ketika kita meminta berkat, kita perlu memastikan bahwa berkat yang kita minta tidak akan merusakkan kehidupan kita. Karena ketika berkat dicurahkan bagi orang-orang yang tidak sungguh-sungguh melekat pada Tuhan dan meletakkan hidupnya pada dasar yang tidak tepat, rubuhlah hidupnya itu dan hebatlah kerusakannya. (Matius 7:24-27)
Ketika kita meminta banyak hal kepada Tuhan, bagaimana caranya agar Tuhan tahu bahwa kita sudah siap menerima apa yang kita minta? Ada dikatakan bahwa setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut (Lukas 12:48). Kata dituntut disini melambangkan pemberian, karena ketika seseorang dituntut akan sesuatu artinya dia diminta untuk memberikan sesuatu, bukan? Maka cara terbaik untuk menunjukkan kepada Tuhan kesiapan kita untuk menerima adalah untuk memberi!
Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu (Lukas 6:38).
Dikatakan suatu takaran yang baik, bukan sekedarnya, karena Tuhan menghargai pemberian yang terbaik dari kita. Ingat bagaimana Tuhan mengindahkan Habel yang mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya; namun tidak mengindahkan Kain yang mempersembahkan sebagian dari hasil tanah itu kepada TUHAN sebagai korban persembahan (Kejadian 4:3-5). Ada perbedaan kualitatif yang besar dari kedua persembahan itu. Sama juga dengan ketika Tuhan Yesus melihat perbedaan besar antara 2 peser yang dipersembahkan oleh janda miskin dalam kitab Markus 12:41-42 dibandingkan dengan jumlah besar yang dipersembahkan oleh orang-orang kaya. Bukan kuantitas yang dilihat oleh Bapa, namun kualitas.
Pemberian dengan takaran yang baik juga dapat diartikan sebagia pemberian yang murah hati. Lukas 6:36 menuliskan: Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati. Apa ukuran murah hati dari Tuhan? Murah hati menurut Tuhan adalah pemberian yang penuh kasih, sebagaimana teladan yang diberikan Tuhan pada kita. "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." Yohanes 3:16. Karunia atau anugerah disini juga berarti bahwa, disaat manusia tidak layak untuk menerima pemberian Allah tersebut, Ia dengan murah hati tetap memberikannya kepada kita. Maka ketika kita memberi dengan murah hati, ketika Tuhan menggerakan hati kita untuk memberi, kita tidak perlu lagi mengevaluasi apakah orang yang hendak kita beri layak atau tidak menerima pemberian tersebut, namun memberikan suatu hal yang terbaik yang bisa kita berikan sesuai dengan apa yang menjadi kebutuhannya. Ingatlah, barang siapa mengatakan bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup (1 Yohanes 2:1). Kita bisa memberi tanpa mengasihi, tapi tidak mungkin mengasihi tanpa memberi.
Pemberian yang sesuai dengan kehendak Tuhan adalah cara terbaik kita untuk membiarkan Tuhan bekerja dalam kehidupan kita. Karena lewat kita sebagai saluran berkat Tuhan, kita mengijinkan Tuhan untuk terus pegang kendali dalam hidup kita. Karena dengan peka terhadap suaraNya dalam memberi, membuat kita terus terhubung dengan Tuhan, dan menyerahkan secara penuh semua yang kita miliki kepadaNya. Bukankah dimana hartamu berada, disitu hatimu berada? (Lukas 12:34)
Pemberian yang murah hati juga perlu disertai dengan hikmat, karena Tuhan sendiri sudah berkata bahwa Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu (2 Korintus 9:10). Maka sesuai dengan peringatan dari FirmanNya, jangan sampai roti untuk makanan kita juga kita tabur sebagai pemberian. Hal ini tidak hanya terbatas pada pemberian materi saja namun termasuk segala hal yang dapat kita beri, mengorbankan waktu yang berkualitas untuk keluarga atas nama pelayanan juga bukan cara yang Tuhan mau untuk kita lakukan, membantu orang lain mengerjakan pekerjaannya disaat pekerjaan kita sendiri belum selesai juga merupakan murah hati yang tidak tepat.
Terus selidiki ketulusan hati dan motivasi kita, sebab dikatakan: Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. 2 Korintus 9:7
Tuhan memberkati.
Comments