Skip to main content

Apakah kita merupakan seorang yang lumpuh?

Bagi yang familiar dengan semua kisah dari Tuhan Yesus, Ia selama hidupnya berkeliling dan menyembuhkan begitu banyak orang sakit dimanapun Ia singgah. Dan tahukan anda bahwa Alkitab mencatat (dalam versi TB), ada dua sakit yang paling sering disembuhkan oleh Yesus diantara begitu banyak penyakit di masa itu, yaitu buta dan lumpuh. Kita pasti percaya bahwa Yesus mampu menyembuhkan segala macam penyakit, dari yang sederhana hingga yang paling sulit, bahkan yang mati pun dapat dibangkitkanNya. Namun mengapa hanya dua macam penyakit ini yang sering dicatat?

Saya percaya bahwa apa yang tercatat di Alkitab adalah penting adanya, dan tentu dibalik semua catatan itu, ada maksud yang penting untuk dapat kita mengerti. Begitu juga tentang hal ini. Bagi saya pribadi, buta dan lumpuh yang dicatat di Alkitab bukan hanya ditujukan untuk menunjukkan bahwa Yesus mampu menyembuhkan mereka saja, namun ada maksud Allah yang perlu kita mengerti di dalamnya. Kondisi buta dapat diartikan sebagai kondisi dimana seseorang tidak dapat melihat apapun, dan bagi orang yang tidak dapat melihat, tentu sangat mudah bagi mereka untuk menjadi tersesat karena mereka tidak dapat membedakan dan menentukan arah. Yesus sendiri pernah menyatakan bahwa pekerjaan-Nya selama di dunia ini antara lain untuk mencari "domba-domba yang hilang", Yesus juga berkata dalam Lukas 15:4-6 "Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan." Dalam hal ini saya menangkap sebuah makna bahwa setiap kali Yesus menyembuhkan orang buta, Ia mengingatkan kita selalu bahwa hatiNya ada bagi orang-orang yang tersesat dan Ia ingin saya dan kita semua untuk memiliki hati yang sama sepertiNya. Juga, bukankah sesuatu yang disebutkan diulang-ulang menyatakan bahwa hal tersebut adalah sesuatu yang amat penting?

Namun, dalam tulisan saya kali ini, saya akan lebih banyak membahas tentang kondisi lumpuh. Lumpuh sendiri umumnya diterjemahkan sebagai sebuah kondisi yang lemah dan tidak bertenaga atau tidak dapat bergerak lagi (tentang anggota badan, terutama kaki). Bagi saya, kondisi lumpuh merupakan kondisi yang jauh lebih tidak nyaman dibandingkan dengan kebutaan. Orang buta masih bisa melakukan banyak hal, bertanya, meraba, berjalan, dan sebagainya. Namun bagi orang yang lumpuh, sekalipun orang ini tahu jalan yang benar, ia tidak dapat bergerak atau sulit sekali untuk dapat bergerak mendekatinya. Bukankan hal ini begitu menyedihkan?

Saat ini ada orang-orang yang mengalami lumpuh iman, tahu firman, mungkin belajar dan mengerti firman, pernah mengalami mujizat atau pengalaman khusus dari Tuhan secara pribadi, namun ketika sedang menghadapi kesulitan hidup atau tantangan besar merasa lemah dan tidak bertenaga atau tidak dapat bergerak lagi. Mengapa merasa lemah? Biasanya ada dua alasan utama hal ini terjadi, yaitu:
  1. Sudah berbagai cara dicoba, namun seakan tidak ada perubahan 
  2. Sudah berdoa/meminta pertolongan namun tidak mendapat jawaban (yang diinginkan)
Untuk membahas kedua hal ini, mari kita lihat dua kisah yang ada di Alkitab sebagai referensi. Kisah pertama adalah kisah Penyembuhan pada hari Sabat di kolam Betesda (Yohanes 5). Perikop ini menceritakan kisah tentang seorang yang sakit lumpuh (tidak dapat bergerak/berjalan hingga harus terus berbaring) tiga puluh delapan tahun lamanya. Orang ini menanti-nantikan kesembuhan yang diadakan oleh malaikat Tuhan di kolam Betesda sebegitu lamanya, tentu sudah banyak hal yang dicoba selama tiga puluh delapan tahun supaya dia bisa sembuh, bukan? Apakah orang ini orang yang beriman? Tentu saja! fakta bahwa orang ini tetap mau menunggu di dekat kolam Betesda meskipun berkali-kali gagal untuk masuk ke kolam tersebut menyatakan bahwa orang ini percaya bahwa Tuhan mampu menyembuhkan sakitnya jika ia bisa masuk ke kolam tersebut saat malaikat Tuhan menggoncangkan air kolam Betesda. Namun lihat, saat Yesus bertanya kepadanya "Maukah engkau sembuh?" (ayat 6) Jawaban yang diberikan oleh orang yang tidak berdaya ini bukan "Ya, aku mau sembuh!" atau "Tentu saja aku mau!" tetapi ia malah "menggerutu" dengan menjawab "Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku." ini layaknya ketika seseorang ditanya "Maukah engkau sukses?" lalu menjawab "Bicara saja sih mudah, saya sudah melakukan segala cara tapi ya masih masih begini-begini saja, tidak ada perubahan signifikan" atau mungkin ada yang akan menjawab "Bukan tidak mau, tapi tidak bisa!"

Kembali ke kisah orang lumpuh, dan jika saya berada di posisi orang itu, ketika Tuhan Yesus berkata "Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah." mungkin saya berpikir dahulu, kalau saya mampu melakukannya, sudah dari kemarin saya lakukan, justru karena saya tidak mampu bangun dan berjalan saya berbaring disini menunggu mujizat terjadi, ya bukan? Saya mulai mengerti bahwa mentalitas inilah yang kadang membuat manusia sulit mengalami mujizat dan mengalami lumpuh iman. Percaya atau tahu bahwa Tuhan sanggup mengadakan perubahan namun tidak lagi menanti-nantikan perubahan itu dengan semangat yang positif, malah terkadang tersirat kekecewaan terhadap Tuhan atau keadaan yang dianggap tidak memberikan jalan untuk berubah.

Mari kita masuk ke kisah nomor dua, yaitu kisah Petrus menyembuhkan orang lumpuh (Kisah Para Rasul 3). Kisah ini menceritakan tentang seseorang yang lumpuh sejak lahirnya sehingga ia harus diusung, dimana orang ini setiap hari diletakkan di dekat pintu gerbang Bait Allah untuk meminta sedekah kepada orang yang masuk ke dalam Bait Allah. Ketika orang ini melihat bahwa Petrus dan Yohanes hendak masuk ke Bait Allah, ia meminta sedekah (ayat 3). Namun apa yang terjadi? Petrus bukan memberi sedekah kepada orang ini namun malah berkata "Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!"

Kembali saya mencoba membayangkan kalau saya ada di posisi orang lumpuh ini, dengan keadaan lumpuh sejak lahir, dari kecil tentu saya sudah berusaha mencoba untuk berjalan namun tidak mampu, dan tentu saya akhirnya menerima keadaan diri saya yang lumpuh dan berusaha menjalaninya dengan apa adanya, maka dari itu saya berusaha setiap hari meminta sedekah di gerbang Bait Allah untuk dapat menjalani hari-hari, bukan? Kalau mendadak ada orang yang tidak saya kenal berkata seperti Petrus, kemungkinan besar saya akan berkata "Tidak usah repot-repot, berikan saja saya sedekah, dan saya sudah sangat berterima kasih, kalau saya bisa berjalan, sudah dari dulu saya berjalan." Atau dengan kata lain, Just give me what I want.

Lalu apa makna kedua kisah ini? Bagi saya, ada beberapa poin yang saya dapatkan ketika saya merenungkan hal ini, mendengarkan rekaman khotbah, dan membaca dari beberapa renungan:

Pertama. Tuhan mau dan mampu melakukan sesuatu dalam hidup kita, sesulit apapun tantangan yang kita alami saat ini, Dia punya solusinya. Bukankah pada akhirnya kedua orang lumpuh tersebut sembuh dan berjalan?

Kedua. Tidak ada yang terlambat bagi pekerjaan Tuhan, segalanya akan selesai tepat pada waktunya jika kita setia. Meskipun orang sakit di dekat kolam Betesda mungkin sudah mulai putus asa setelah tiga puluh delapan tahun, hal ini bukan karena Tuhan tidak peduli atau lupa, namun "Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir." (Pengkotbah 3:11). Mudah bagi Allah untuk menyembuhkan orang itu kapanpun Allah mau, namun lewat kisah dan penantian orang itu, saya belajar sesuatu dari Firman Tuhan saat ini, bukan? Kisah satu orang, dapat mengubah hidup banyak orang. Meskipun terkadang bagi penilaian kita waktu kita saat ini tidak tepat atau tidak baik, bagi Tuhan tidak ada waktu yang tidak tepat. Meskipun orang sakit di dekat kolam Betesda tahu bahwa tidak mungkin ada orang yang mau menyembuhkan di hari Sabat, bukankan Tuhan Yesus tetap menyembuhkannya? Yesus berkata kepada mereka: "Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga." (Yohanes 5:17)

Ketiga. Tuhan selalu memberikan sesuatu yang lebih baik, lebih besar dari apa yang kita minta, karena Tuhan melihat lebih jauh dari apa yang kita lihat. Akan lebih baik bagi Petrus untuk membuat orang lumpuh di gerbang Bait Allah berjalan dibandingkan memberikan sedekah kepadanya sesuai dengan apa yang orang lumpuh itu inginkan. Betul kita perlu meminta, tapi beri kesempatan bagi Tuhan untuk menjawab dengan memberikan yang lebih baik dengan caraNya sendiri. Mana lebih mudah, membuat orang sakit di dekat kolam Betesda berjalan atau menunggu malaikat Tuhan datang dan menggoncangkan air kolam itu lalu Yesus menggendong orang sakit itu masuk ke air kolam?

Keempat. Mujizat yang Tuhan berikan sebagai jawaban atas kebutuhan kita juga menuntut perubahan dalam hidup kita. Itulah mengapa Tuhan Yesus menyuruh orang lumpuh dekat kolam tadi untuk mengangkat tilamnya? Supaya orang ini berpindah dari kehidupannya yang lama di dekat kolam, ke kehidupan yang baru diluar kolam. Hal yang sama juga terjadi pada orang lumpuh yang disembuhkan oleh Petrus, setelah orang ini disembuhkan, ia melonjak berdiri lalu berjalan kian ke mari dan mengikuti mereka ke dalam Bait Allah, berjalan dan melompat-lompat serta memuji Allah, dia tidak dapat lagi kembali berdiam di dekat gerbang Bait Allah dan meminta sedekah, bukan? Hal ini kedengaran mudah namun pada kenyataannya tidak. Orang yang sembuh lalu mengangkat tilamnya, mendapatkan resiko untuk dirajam dengan batu karena mengangkat tilamnya di hari sabat, hal ini merupakan pelanggaran atas hari sabat bagi orang Yahudi pada masa itu (Ref: Yeremia 17:21) Tuhan tentu tidak mau membuat kita berdiri namun masih memiliki mental orang yang terkapar di atas tilam. Dan bagi orang yang meminta sedekah, mungkin meminta sedekah merupakan pekerjaan yang jauh lebih mudah & nyaman bagi dia dibandingkan harus bersusah payah bekerja layaknya orang lain yang sehat, bukan? Siapkah kita meninggalkan pola hidup/pola pikir yang lama dan mulai menjalani pola hidup yang baru? Jika Tuhan memberi mujizat dalam kesehatan kita, apakah kita mau mengubah pola makan kita menjadi lebih sehat? Jika Tuhan memberikan mujizat atas keuangan kita, maukah kita mengubah pola spending kita? Jika Tuhan memberikan mujizat pada hubungan/keluarga kita, maukah kita mengubah cara kita memperlakukan pasangan kita? Mujizat dari Tuhan, perubahan adalah bagian kita. Bagi Tuhan sekejap saja bagi Dia memberkati kita, tapi mungkin butuh bertahun-tahun bagi kita untuk mempersiapkan pola pikir, pola hidup, atau hati kita untuk dapat siap menerima berkat mujizat itu. Jika berkat mujizat itu turun disaat kita tidak siap, maka rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya (Matius 7). Dan Yesus sendiri pun berkata "Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk." (Yohanes 5:14)

Kelima. Ada kalanya Tuhan mengirimkan orang yang akan menarik kita, membantu kita dalam proses "penyembuhan" kita layaknya yang Petrus lakukan (Kisah Para Rasul 3:7) ataupun layaknya orang lumpuh di Kapernaum yang diturunkan melalui atap oleh keempat orang temannya (Markus 2:1-12) namun ada kalanya Tuhan mau kita sendiri yang bergerak (Yohanes 5:9) Mungkin kita perlu mencoba sekali lagi, sesuatu yang sudah berkali-kali kita coba namun gagal kita lakukan dan melibatkan Tuhan Yesus dalam prosesnya. Sampai kapan? Sampai kepada waktuNya Tuhan, "Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu." (Yesaya 55:8-9). Dan "Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN!" (Mazmur 27:14), sebab "...semua orang yang menantikan Engkau takkan mendapat malu;" (Mazmur 25:3).

Keenam. Kita perlu naik level, dari sekedar mengharapkan perhatian, belas kasih atau sedekah orang lain, namun membuat orang-orang di sekitar kita takjub dengan pekerjaan yang Tuhan lakukan dalam hidup kita (Kisah Para Rasul 3:10). ".. Dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." (Kisah Para Rasul 1:8)


Tuhan memberkati.

Comments