Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."
- Matius 28:19-20
Ayat diatas merupakan apa yang sering disebut sebagai amanat agung Yesus Kristus kepada semua umat-Nya, yang merupakan perintah terakhir dari Yesus sebelum ia naik ke Sorga. Beberapa waktu yang lalu ketika saya mengikuti Pastors & Leaders conference 2018, ada satu hal yang menginspirasi saya ketika saya mengikuti sebuah sesi yang bertemakan "Komunitas yang menjawab kebutuhan", yaitu sebuah kalimat bahwa Tuhan lebih tertarik mencari murid daripada pengikut (jemaat).
Amanat Agung (The Great Commandment) seringkali dibaca menjadi The Great Option atau The Great Suggestion bagi sebagian besar dari umat-Nya saat ini. Kedua belas murid Yesus yang pada akhirnya menjadi Kedua belas Rasul yang menjadikan gereja mula-mula, mengerti sekali apa yang menjadi panggilan gereja. Gereja dipanggil untuk memuridkan. Hal ini tentu bukanlah hal yang mudah atau enak didengar bagi umat-Nya. Banyak alasan dipakai untuk membelokkan hal ini, termasuk saya dulu. Mulai dari alasan bahwa hidup saya sendiri belum cukup "benar" untuk mengurusi orang lain, keterbatasan waktu, tidak ada talenta, tidak cukup rohani, dan lain sebagainya.
Memuridkan sendiri merupakan sebuah proses jangka panjang, yang tidak mengenal batas akhir, toh kita sendiri pun masih dimuridkan oleh Yesus Kristus sampai sekarang ini, bukan? Satu hal lagi yang tidak kalah penting yang saya dapatkan dari sesi tersebut, ketika saya diberi pengertian bahwa pemuridan baru bisa terjadi diatas landasan yang bernama hubungan (relationship). Tanpa ada hubungan, tidak akan terjadi pemuridan, maka dari itu, pemuridan baru bisa terjadi secara maksimal dalam sebuah kelompok/komunitas kecil.
Semua hal ini membuat saya mengevaluasi diri saya kembali, sebagai orang yang diberi tugas dan kepercayaan dari pemimpin saya di gereja lokal untuk menggembalakan sebuah komunitas kecil di dalam gereja, apakah komunitas yang dipercayakan kepada saya ini sudah melakukan hal yang tepat?
Sebagai pemimpin, tentu saya bukan orang yang paling tahu diantara semuanya, bukan juga orang yang paling hebat atau paling rohani. Saya adalah sama seperti semua yang lain, seorang manusia biasa yang oleh karena anugerah dan kasih karunia beroleh pengenalan akan Yesus Kristus dan Allah. Maka, memuridkan yang merupakan sebuah proses dan hubungan, juga merupakan sebuah usaha dan niat dari kedua belah pihak, yang memuridkan dan yang dimuridkan lewat sebuah hubungan yang dekat dan didasari oleh rasa percaya (trust) dan aman (safe) satu sama lain untuk saling membuka hidupnya dan saling belajar. Bukankah prinsip Sorga dimana ketika kita sering memberi maka kita akan semakin diberi lebih? (2 Korintus 9:6-7) Pemuridan bagi saya adalah bagaimana kita memberi hidup kita bagi orang yang kita muridkan, karena lewat pengalaman hidup dan hal-hal yang kita praktekkan-lah baru orang bisa belajar dengan sesungguhnya, bukan mengumpulkan informasi.
Walaupun pemuridan harus dilakukan setiap saat, namun dari apa yang saya alami, pemuridan sendiri baru dapat terjadi dengan efektif ketika sang murid ada dalam badai, yang mana komunitas menjadi keluarga kedua yang harus bisa memberikan perlindungan di dalam badai (Amsal 14:26). Badai yang bisa menjadi kanvas pemuridan yang baik antara lain adalah perubahan dalam kehidupan (baik positif maupun negatif), kegagalan, dan penolakan.
Maka, saya sampai saat ini terus mengiang-iangkan sebuah kalimat dalam hati dan pikiran saya: "Komunitas sudah seharusnya menjadi tempat dimana TRANSFORMASI terjadi, bukan hanya sebagai wadah untuk berbagi informasi." Dan ingat, bahwa lewat setiap proses yang Tuhan ijinkan lewat kita, setiap anggota komunitas yang adalah anak-anak rohani, suatu saat harus tumbuh dewasa dan menjadi bapa-bapa rohani bagi anak-anak rohani yang terkemudian.
Tuhan memberkati.
- Matius 28:19-20
Ayat diatas merupakan apa yang sering disebut sebagai amanat agung Yesus Kristus kepada semua umat-Nya, yang merupakan perintah terakhir dari Yesus sebelum ia naik ke Sorga. Beberapa waktu yang lalu ketika saya mengikuti Pastors & Leaders conference 2018, ada satu hal yang menginspirasi saya ketika saya mengikuti sebuah sesi yang bertemakan "Komunitas yang menjawab kebutuhan", yaitu sebuah kalimat bahwa Tuhan lebih tertarik mencari murid daripada pengikut (jemaat).
Amanat Agung (The Great Commandment) seringkali dibaca menjadi The Great Option atau The Great Suggestion bagi sebagian besar dari umat-Nya saat ini. Kedua belas murid Yesus yang pada akhirnya menjadi Kedua belas Rasul yang menjadikan gereja mula-mula, mengerti sekali apa yang menjadi panggilan gereja. Gereja dipanggil untuk memuridkan. Hal ini tentu bukanlah hal yang mudah atau enak didengar bagi umat-Nya. Banyak alasan dipakai untuk membelokkan hal ini, termasuk saya dulu. Mulai dari alasan bahwa hidup saya sendiri belum cukup "benar" untuk mengurusi orang lain, keterbatasan waktu, tidak ada talenta, tidak cukup rohani, dan lain sebagainya.
Memuridkan sendiri merupakan sebuah proses jangka panjang, yang tidak mengenal batas akhir, toh kita sendiri pun masih dimuridkan oleh Yesus Kristus sampai sekarang ini, bukan? Satu hal lagi yang tidak kalah penting yang saya dapatkan dari sesi tersebut, ketika saya diberi pengertian bahwa pemuridan baru bisa terjadi diatas landasan yang bernama hubungan (relationship). Tanpa ada hubungan, tidak akan terjadi pemuridan, maka dari itu, pemuridan baru bisa terjadi secara maksimal dalam sebuah kelompok/komunitas kecil.
Semua hal ini membuat saya mengevaluasi diri saya kembali, sebagai orang yang diberi tugas dan kepercayaan dari pemimpin saya di gereja lokal untuk menggembalakan sebuah komunitas kecil di dalam gereja, apakah komunitas yang dipercayakan kepada saya ini sudah melakukan hal yang tepat?
Sebagai pemimpin, tentu saya bukan orang yang paling tahu diantara semuanya, bukan juga orang yang paling hebat atau paling rohani. Saya adalah sama seperti semua yang lain, seorang manusia biasa yang oleh karena anugerah dan kasih karunia beroleh pengenalan akan Yesus Kristus dan Allah. Maka, memuridkan yang merupakan sebuah proses dan hubungan, juga merupakan sebuah usaha dan niat dari kedua belah pihak, yang memuridkan dan yang dimuridkan lewat sebuah hubungan yang dekat dan didasari oleh rasa percaya (trust) dan aman (safe) satu sama lain untuk saling membuka hidupnya dan saling belajar. Bukankah prinsip Sorga dimana ketika kita sering memberi maka kita akan semakin diberi lebih? (2 Korintus 9:6-7) Pemuridan bagi saya adalah bagaimana kita memberi hidup kita bagi orang yang kita muridkan, karena lewat pengalaman hidup dan hal-hal yang kita praktekkan-lah baru orang bisa belajar dengan sesungguhnya, bukan mengumpulkan informasi.
Walaupun pemuridan harus dilakukan setiap saat, namun dari apa yang saya alami, pemuridan sendiri baru dapat terjadi dengan efektif ketika sang murid ada dalam badai, yang mana komunitas menjadi keluarga kedua yang harus bisa memberikan perlindungan di dalam badai (Amsal 14:26). Badai yang bisa menjadi kanvas pemuridan yang baik antara lain adalah perubahan dalam kehidupan (baik positif maupun negatif), kegagalan, dan penolakan.
Maka, saya sampai saat ini terus mengiang-iangkan sebuah kalimat dalam hati dan pikiran saya: "Komunitas sudah seharusnya menjadi tempat dimana TRANSFORMASI terjadi, bukan hanya sebagai wadah untuk berbagi informasi." Dan ingat, bahwa lewat setiap proses yang Tuhan ijinkan lewat kita, setiap anggota komunitas yang adalah anak-anak rohani, suatu saat harus tumbuh dewasa dan menjadi bapa-bapa rohani bagi anak-anak rohani yang terkemudian.
Tuhan memberkati.
Comments