Saya percaya bahwa menabur merupakan sebuah terminologi yang sering sekali kita dengar dalam kehidupan kekristenan. Apalagi konsep kekristenan sering diidentikkan dengan konsep tabur-tuai, dan menabur adalah kata yang begitu sering muncul dalam alkitab, bahkan Tuhan Yesus pun pernah memberi perumpamaan tentang seorang penabur (Matius 13).
Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam. -- Kejadian 8:22
Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam. -- Kejadian 8:22
Lalu apa arti menabur? Setelah saya renungkan, dan mencoba untuk membaca dari berbagai artikel & sumber, kata menabur ternyata memiliki banyak perspektif yang menarik, dua yang paling menarik buat saya antara lain:
- Dalam bahasa yunani, menabur - "to sow" adalah speiró (σπείρω) yang secara etimologi diduga memiliki akar kata spaō (σπάω) yang bisa diterjemahkan "to draw (one's sword)." Analogi menarik/menghunus pedang merupakan sebuah tanda bahwa kita siap bertarung/berperang. Jadi langkah menabur bisa dikatakan bahwa kita siap berperang dalam area dimana kita menabur, misalnya, ketika kita menabur waktu kita dalam hidup seseorang, artinya kita berperang untuk memenangkan orang itu bagi Tuhan; ketika kita menabur secara keuangan dalam bisnis kita, kita berperang untuk mendapatkan harta; ketika kita menabur benih bagi pekerjaan Tuhan, kita ikut berperang bersama Tuhan dalam peperangan-Nya lewat gereja lokal dimana kita tertanam.
- Saya pribadi melihat bahwa menabur merupakan sebuah langkah iman yang dahsyat, yang bahkan secara dunia pun diakui. Ketika petani menabur benih di sawah, apakah si petani bisa dengan yakin 100% mengatakan bahwa ia akan menuai apa yang dia tabur? Tentu tidak. Namun ketika petani itu menabur, bisa dipastikan bahwa ia yakin bahwa ia akan menuai dari taburannya itu setelah melewati seluruh proses bercocok tanam yang ia lakukan. Hal ini sejalan dengan prinsip iman Kristus, dimana dikatakan dalam Ibrani 11 "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Sebab oleh imanlah telah diberikan kesaksian kepada nenek moyang kita. Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat."
Menabur sendiri tidak melulu identik dengan hal-hal rohani, prinsip tabur tuai yang Tuhan ajarkan sangat mungkin diterapkan dalam seluruh bidang kehidupan kita, seperti bisnis, kesehatan, pendidikan, hubungan antar manusia dan keluarga, juga termasuk rohani kita. Apa yang kita tabur dalam aspek-aspek kehidupan tersebut-lah yang akan membawa kita menuai dari taburan kita. Jika kita menabur yang baik, tentulah kita menuai yang baik pula.
“Dan baiklah dia, yang menerima pengajaran dalam Firman, membagi segala sesuatu yang ada padanya dengan orang yang memberikan pengajaran itu. Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu. Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah” -- Galatia 6:6-9
Proses menabur tidak dengan mudah bisa dijalani oleh semua orang, walaupun semua pengikut Kristus harus mahir menabur. Bagi saya pribadi, menabur sendiri merupakan sebuah panggilan atau arahan pribadi dari Tuhan, mengapa?
“Dan baiklah dia, yang menerima pengajaran dalam Firman, membagi segala sesuatu yang ada padanya dengan orang yang memberikan pengajaran itu. Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu. Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah” -- Galatia 6:6-9
Proses menabur tidak dengan mudah bisa dijalani oleh semua orang, walaupun semua pengikut Kristus harus mahir menabur. Bagi saya pribadi, menabur sendiri merupakan sebuah panggilan atau arahan pribadi dari Tuhan, mengapa?
- Tuhan yang tahu tempat prioritas dimana kita harus menabur, kita hanya saluran/alat/rekan kerja bagi Tuhan untuk menabur di tempat dimana Ia ingin kita menabur. Karena seperti perumpamaan sang penabur di dalam Matius 13, ada banyak tempat untuk menabur, namun tidak semua tempat bisa menghasilkan buah yang Tuhan inginkan. "Berbahagialah kamu yang boleh menabur di segala tempat di mana terdapat air, yang dapat membiarkan sapi dan keledainya pergi ke mana-mana!" - Yesaya 32:20
- Tuhan yang menyediakan benih untuk ditabur, yaitu dengan jenis, jumlah dan kadar yang tepat seperti yang tertulis pada 2 Korintus 9:10 "Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu;". Maka patut dikatakan bahwa menabur ada ukurannya, dalam 2 Korintus 9:6 dikatakan "Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga." Namun seperti apa yang dijelaskan sebelumnya, jangan sampai roti untuk dimakan kita pakai untuk menabur, dan benih untuk ditabur jangan sampai kita makan ganti roti.
- Menabur ada musimnya (Kejadian 8:22). Jangan sampai ketika musim menuai kita menabur, saat musim menabur kita bermalas-malasan. Apa yang terjadi ketika kita menabur pada musim kemarau / musim dingin? Tentu benih sulit untuk dapat tumbuh (tidak efektif/tidak berdampak). Apa yang terjadi ketika kita membeli saat orang harusnya menjual, atau menjual saat orang membeli? (Membeli bisa diartikan menabur harta kita). Maka dari itu, Pemazmur berkata "Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana." (Mazmur 90:12) dan Rasul Petrus pun berkata "... supaya waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah." (1 Petrus 4:2). Jangan sampai kita yang sudah menabur dengan tepat, tidak memperhatikan kapan kita harus menuai dengan benar sehingga kita melewatkan yang terbaik yang Tuhan sediakan bagi kita (Yohanes 4:35)
- Jika kita menabur semau hati kita, dimanapun kita mau, kapanpun kita mau, apapun yang kita mau, bisa jadi apa yang kita tabur tidak membawa hasil yang diharapkan, atau malah membuat kesusahan bagi diri kita sendiri. Bersiap-siaplah, nantikan penggilan Tuhan untuk menabur.
Satu hal terakhir yang tidak kalah pentingnya, sebagai penabur tentu kita mengharapkan apa yang baik sebagai hasil tuaian kita, namun perlulah kita ingat selalu, rencana-Nya melebihi apa yang bisa kita mengerti, dan bagaimana benih itu tumbuh pun diluar kuasa kita, seperti yang diajarkan Tuhan Yesus pada Markus 4:26-29:
Lalu kata Yesus: "Beginilah hal Kerajaan Allah itu: seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu. Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu. Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai sudah tiba."
Lalu kata Yesus: "Beginilah hal Kerajaan Allah itu: seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu. Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu. Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai sudah tiba."
Tuhan memberkati.