Dalam kehidupan kita di dunia ini, ada beberapa milestones penting yang secara sengaja sering kita "rayakan", seperti kelahiran, ulang tahun, kelulusan, pernikahan, dan kematian. Hal-hal tersebut sering kita anggap sebagai titik bersejarah yang penting dalam hidup kita ini sehingga perlu dirayakan atau dikenang bersama dengan orang-orang terdekat kita. Lalu mengapa hal ini perlu dianggap penting? Tentu tidak ada yang salah akan hal ini.
Bagi saya event-event kehidupan tersebut pada akhirnya menceritakan betapa singkatnya kehidupan kita di dunia ini, sehingga hal tersebut menjadi berarti. Pemazmur pun mencatat bahwa hidup kita ini seperti angin yang cepat berlalu. "Manusia sama seperti angin, hari-harinya seperti bayang-bayang yang lewat" Mazmur 144:4. Lalu jika hidup kita dikatakan begitu singkat, apa yang harus kita lakukan dengan hidup kita ini?
Sebelumnya, kita mungkin perlu membayangkan, berapa singkat sebenarnya kehidupan yang kita jalani ini? Musa berkata dalam Mazmur 90:10: "Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap."
Tentu umur setiap orang berbeda-beda dan tidak ada seorangpun yang dapat mengetahuinya. Masih cukup banyak diantara manusia yang bisa hidup dengan baik hingga melebihi 100 tahun, namun fokus kita bukan pada berapa lama potensi maksimal umur kita, namun sampai kapan kita diijinkan untuk ada dalam hidup kita di dunia ini? Sebagai contoh, manusia yang hidup pada jaman Nuh, memiliki masa hidup (umur) yang begitu panjang, bahkan dapat melebihi 900 tahun, ketika Nuh membangun bahtera Tuhan, dia sudah berumur lebih dari 500 tahun. Namun bisa kita lihat bahwa manusia pada zaman itu semuanya dimusnahkan kecuali keluarga Nuh. Musa pun hanya berumur hingga 120 tahun, dan Tuhan Yesus bahkan tidak melebihi 40 Tahun. Pertanyaan ini menjadi dasar yang penting untuk kita menjalani kehidupan sehari-hari kita, karena dikatakan dalam 2 Korintus 5:1 "Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia."
Hidup kita di bumi ini merupakan sebuah kemah, yang tentu saja sifatnya sementara, sebagai tempat perhentian kita dimana kita akan melalui proses ujian sebelum kita dinyatakan layak untuk masuk kedalam kediaman kita yang sesungguhnya kelak. Dan ketika kita berbicara tentang kediaman kita yang sesungguhnya, durasinya adalah kekal, tidak lagi sementara. Hal ini juga ditekankan dalam kitab Ibrani 13:14. "Sebab di bumi tidak ada tempat tinggal yang kekal untuk kita; kita mencari tempat tinggal yang akan datang."
Kembali lagi ke pertanyaan, apa yang harus kita lakukan dengan hidup kita yang sementara ini? Hampir semua dari kita sebenarnya bisa menjawab pertanyaan ini dengan baik. Sebagai analogi, jika kita ditugaskan untuk berpergian ke luar negeri/luar kota dimana kita akan tinggal untuk beberapa saat sambil menjalankan tugas, pasti ada beberapa hal yang kita lakukan:
Pertama, menentukan prioritas akan apa yang hendak kita lakukan disana. Jika kita bertamasya, atau bertugas ke luar negeri/luar kota, tentu kita sangat sadar bahwa waktu yang kita miliki disana begitu terbatas, sehingga akan kita pergunakan dengan sebaik-bainya, bukan? Sebagian dari kita bahkan akan memikirkan dengan detail apa saja yang hendak dikerjakan, tempat-tempat yang hendak dikunjungi, siapa saja yang hendak ditemui bahkan hingga barang-barang yang hendak dibeli di lokasi tertentu. Prinsip yang sama bisa diterapkan dalam hidup kita, apa yang menjadi prioritas kita dalam hidup kita yang singkat ini?
Jika kita mengibaratkan hidup ini adalah sebuah penugasan kerja, maka ketika kita bingung saat diminta untuk pergi bertugas ke luar negeri/luar kota, tentulah kita akan bertanya kepada pimpinan kita, apa yang dia kehendaki untuk kita lakukan dalam penugasan ini. Lalu apa yang Tuhan kehendaki untuk kita kerjakan? Saya percaya hanya ada satu amanat yang Tuhan Yesus berikan kepada kita dalam hidup kita, seperti yang tercatat dalam Matius 28:19-20 "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." Ingat, tugas ini adalah tugas untuk semua pengikut-Nya, bukan hanya tugas pendeta, atau misionaris saja.
Tentu saja saat kita ditugaskan, jika kita bisa mengatur waktu dengan baik, menjalankan segala sesuatunya dengan terukur waktu dan tidak terburu-buru, kita pasti memiliki waktu-waktu luang yang bisa kita gunakan untuk bertamasnya, dan menikmati perjalanan kita. Disanalah waktunya berkat Tuhan (uang saku, akomodasi, fasilitas, etc.) yang dicurahkan atas kita di dunia ini bisa kita nikmati. Tapi prioritas ini tentu tidak dapat dibalikkan. Bisa dibayangkan ketika kita menghabiskan waktu kita untuk bertamasya ditengah-tengah perjalanan tugas kita, apa yang akan dikatakan oleh pimpinan kita ketika kita pulang nanti?
Kedua, kita juga pasti akan mempersiapkan apa yang hendak kita bawa saat berangkat, dan apa yang akan kita bawa kembali setelah selesai dalam perjalanan. Karena kita sadar bahwa perjalanan ini sementara, maka kita hanya akan membawa benda-benda yang penting dalam perjalanan kita. Ketika kita dalam penugasan itu pun, kita pasti tidak akan membeli/mengumpulkan benda-benda yang tidak bisa kita bawa kembali ke rumah kita, walaupun dengan label cinderamata. Bisa membayangkan orang yang pergi bertugas ke luar negeri hanya untuk satu kali perjalanan pulang pergi saja dan membeli sebuah rumah disana? Toh kita tidak bisa tinggal di dua rumah dalam waktu yang bersamaan, dan secara otomatis, kita pasti lebih menginginkan untuk dapat tinggal di rumah yang terbaik dengan lingkungan yang terbaik, untuk apa berkompromi ketika rumah tersebut sudah disediakan bagi kita?
Inilah mengapa Firman Tuhan berkata dalam Matius 6:19-21. “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di surga; di surga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.”
Bukan berarti kita tidak perlu memiliki uang, uang itu diperlukan dengan jumlah yang cukup, tidak ada yang salah dengan memiliki uang, namun berhati-hatilah "Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka." - 1 Timotius 6:10.
Selain itu, saat kita hendak kembali, tentu ada barang-barang yang dilarang untuk kita bawa kembali ke tempat asal kita bukan? Seperti obat-obatan yang terlarang di negara asal kita, atau barang-barang jenis tertentu yang juga dilarang peredarannya di negara asal kita. Surga sebagai tempat dimana seharusnya kita berada kelak, juga memiliki peraturan yang serupa. Jika kita memaksa membawa benda-benda terlarang itu untuk kembali, kita akan ditolak kedatangannya, meskipun kita memiliki tanda bukti legal bahwa kita merupakan penduduk disana. Ini persis seperti yang dikatakan oleh Tuhan Yesus dalam Matius 7:21-23: "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!"
Lalu apakah hal-hal yang terlarang tersebut? Sudah jelas bahwa segala jenis dosa, perbuatan kedagingan, kepahitan, kecemaran, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan semuanya itu tidak diperkenankan untuk ada di Sorga. Satupun tidak diperkenankan untuk masuk, sekecil apapun, sebab "sedikit ragi sudah mengkamirkan seluruh adonan." Galatia 5:9.
Jika kita sudah bersih akan hal-hal terlarang, kita boleh mempersiapkan oleh-oleh yang akan kita bawa untuk pimpinan kita/orang-orang yang berarti buat kita. Oleh-oleh ini tentu saja merupakan hal-hal yang disukai oleh mereka. Dalam Hosea 6:6, Tuhan sendiri berkata "Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran."
Dan diantara semua yang perlu kita bawa, tentulah yang paling penting adalah identitas (tanda pengenal) kita, sebab tanpa itu kita tidak dapat kembali ke negara asal kita. Identitas kita sebagai pengikut Kristus, bukanlah sebuah kata "Kristen" dalam KTP/Paspor kita, namun identitas itu ada dalam hati, perbuatan, dan perkataan kita, Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan. - Roma 10:9-10.
Terakhir, kita harus selalu siap sedia, karena kita tidak pernah tahu kapan kita akan dipanggil pulang ke tempat asal kita (sorga), seperti pesan Yesus kepada kita dalam Markus 13:32-33 "Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa saja. Hati-hatilah dan berjaga-jagalah! Sebab kamu tidak tahu bilamanakah waktunya tiba."
Tuhan memberkati!
Bagi saya event-event kehidupan tersebut pada akhirnya menceritakan betapa singkatnya kehidupan kita di dunia ini, sehingga hal tersebut menjadi berarti. Pemazmur pun mencatat bahwa hidup kita ini seperti angin yang cepat berlalu. "Manusia sama seperti angin, hari-harinya seperti bayang-bayang yang lewat" Mazmur 144:4. Lalu jika hidup kita dikatakan begitu singkat, apa yang harus kita lakukan dengan hidup kita ini?
Sebelumnya, kita mungkin perlu membayangkan, berapa singkat sebenarnya kehidupan yang kita jalani ini? Musa berkata dalam Mazmur 90:10: "Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap."
Tentu umur setiap orang berbeda-beda dan tidak ada seorangpun yang dapat mengetahuinya. Masih cukup banyak diantara manusia yang bisa hidup dengan baik hingga melebihi 100 tahun, namun fokus kita bukan pada berapa lama potensi maksimal umur kita, namun sampai kapan kita diijinkan untuk ada dalam hidup kita di dunia ini? Sebagai contoh, manusia yang hidup pada jaman Nuh, memiliki masa hidup (umur) yang begitu panjang, bahkan dapat melebihi 900 tahun, ketika Nuh membangun bahtera Tuhan, dia sudah berumur lebih dari 500 tahun. Namun bisa kita lihat bahwa manusia pada zaman itu semuanya dimusnahkan kecuali keluarga Nuh. Musa pun hanya berumur hingga 120 tahun, dan Tuhan Yesus bahkan tidak melebihi 40 Tahun. Pertanyaan ini menjadi dasar yang penting untuk kita menjalani kehidupan sehari-hari kita, karena dikatakan dalam 2 Korintus 5:1 "Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia."
Hidup kita di bumi ini merupakan sebuah kemah, yang tentu saja sifatnya sementara, sebagai tempat perhentian kita dimana kita akan melalui proses ujian sebelum kita dinyatakan layak untuk masuk kedalam kediaman kita yang sesungguhnya kelak. Dan ketika kita berbicara tentang kediaman kita yang sesungguhnya, durasinya adalah kekal, tidak lagi sementara. Hal ini juga ditekankan dalam kitab Ibrani 13:14. "Sebab di bumi tidak ada tempat tinggal yang kekal untuk kita; kita mencari tempat tinggal yang akan datang."
Kembali lagi ke pertanyaan, apa yang harus kita lakukan dengan hidup kita yang sementara ini? Hampir semua dari kita sebenarnya bisa menjawab pertanyaan ini dengan baik. Sebagai analogi, jika kita ditugaskan untuk berpergian ke luar negeri/luar kota dimana kita akan tinggal untuk beberapa saat sambil menjalankan tugas, pasti ada beberapa hal yang kita lakukan:
Pertama, menentukan prioritas akan apa yang hendak kita lakukan disana. Jika kita bertamasya, atau bertugas ke luar negeri/luar kota, tentu kita sangat sadar bahwa waktu yang kita miliki disana begitu terbatas, sehingga akan kita pergunakan dengan sebaik-bainya, bukan? Sebagian dari kita bahkan akan memikirkan dengan detail apa saja yang hendak dikerjakan, tempat-tempat yang hendak dikunjungi, siapa saja yang hendak ditemui bahkan hingga barang-barang yang hendak dibeli di lokasi tertentu. Prinsip yang sama bisa diterapkan dalam hidup kita, apa yang menjadi prioritas kita dalam hidup kita yang singkat ini?
Jika kita mengibaratkan hidup ini adalah sebuah penugasan kerja, maka ketika kita bingung saat diminta untuk pergi bertugas ke luar negeri/luar kota, tentulah kita akan bertanya kepada pimpinan kita, apa yang dia kehendaki untuk kita lakukan dalam penugasan ini. Lalu apa yang Tuhan kehendaki untuk kita kerjakan? Saya percaya hanya ada satu amanat yang Tuhan Yesus berikan kepada kita dalam hidup kita, seperti yang tercatat dalam Matius 28:19-20 "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." Ingat, tugas ini adalah tugas untuk semua pengikut-Nya, bukan hanya tugas pendeta, atau misionaris saja.
Tentu saja saat kita ditugaskan, jika kita bisa mengatur waktu dengan baik, menjalankan segala sesuatunya dengan terukur waktu dan tidak terburu-buru, kita pasti memiliki waktu-waktu luang yang bisa kita gunakan untuk bertamasnya, dan menikmati perjalanan kita. Disanalah waktunya berkat Tuhan (uang saku, akomodasi, fasilitas, etc.) yang dicurahkan atas kita di dunia ini bisa kita nikmati. Tapi prioritas ini tentu tidak dapat dibalikkan. Bisa dibayangkan ketika kita menghabiskan waktu kita untuk bertamasya ditengah-tengah perjalanan tugas kita, apa yang akan dikatakan oleh pimpinan kita ketika kita pulang nanti?
Kedua, kita juga pasti akan mempersiapkan apa yang hendak kita bawa saat berangkat, dan apa yang akan kita bawa kembali setelah selesai dalam perjalanan. Karena kita sadar bahwa perjalanan ini sementara, maka kita hanya akan membawa benda-benda yang penting dalam perjalanan kita. Ketika kita dalam penugasan itu pun, kita pasti tidak akan membeli/mengumpulkan benda-benda yang tidak bisa kita bawa kembali ke rumah kita, walaupun dengan label cinderamata. Bisa membayangkan orang yang pergi bertugas ke luar negeri hanya untuk satu kali perjalanan pulang pergi saja dan membeli sebuah rumah disana? Toh kita tidak bisa tinggal di dua rumah dalam waktu yang bersamaan, dan secara otomatis, kita pasti lebih menginginkan untuk dapat tinggal di rumah yang terbaik dengan lingkungan yang terbaik, untuk apa berkompromi ketika rumah tersebut sudah disediakan bagi kita?
Inilah mengapa Firman Tuhan berkata dalam Matius 6:19-21. “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di surga; di surga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.”
Bukan berarti kita tidak perlu memiliki uang, uang itu diperlukan dengan jumlah yang cukup, tidak ada yang salah dengan memiliki uang, namun berhati-hatilah "Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka." - 1 Timotius 6:10.
Selain itu, saat kita hendak kembali, tentu ada barang-barang yang dilarang untuk kita bawa kembali ke tempat asal kita bukan? Seperti obat-obatan yang terlarang di negara asal kita, atau barang-barang jenis tertentu yang juga dilarang peredarannya di negara asal kita. Surga sebagai tempat dimana seharusnya kita berada kelak, juga memiliki peraturan yang serupa. Jika kita memaksa membawa benda-benda terlarang itu untuk kembali, kita akan ditolak kedatangannya, meskipun kita memiliki tanda bukti legal bahwa kita merupakan penduduk disana. Ini persis seperti yang dikatakan oleh Tuhan Yesus dalam Matius 7:21-23: "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!"
Lalu apakah hal-hal yang terlarang tersebut? Sudah jelas bahwa segala jenis dosa, perbuatan kedagingan, kepahitan, kecemaran, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan semuanya itu tidak diperkenankan untuk ada di Sorga. Satupun tidak diperkenankan untuk masuk, sekecil apapun, sebab "sedikit ragi sudah mengkamirkan seluruh adonan." Galatia 5:9.
Jika kita sudah bersih akan hal-hal terlarang, kita boleh mempersiapkan oleh-oleh yang akan kita bawa untuk pimpinan kita/orang-orang yang berarti buat kita. Oleh-oleh ini tentu saja merupakan hal-hal yang disukai oleh mereka. Dalam Hosea 6:6, Tuhan sendiri berkata "Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran."
Dan diantara semua yang perlu kita bawa, tentulah yang paling penting adalah identitas (tanda pengenal) kita, sebab tanpa itu kita tidak dapat kembali ke negara asal kita. Identitas kita sebagai pengikut Kristus, bukanlah sebuah kata "Kristen" dalam KTP/Paspor kita, namun identitas itu ada dalam hati, perbuatan, dan perkataan kita, Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan. - Roma 10:9-10.
Terakhir, kita harus selalu siap sedia, karena kita tidak pernah tahu kapan kita akan dipanggil pulang ke tempat asal kita (sorga), seperti pesan Yesus kepada kita dalam Markus 13:32-33 "Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa saja. Hati-hatilah dan berjaga-jagalah! Sebab kamu tidak tahu bilamanakah waktunya tiba."
Tuhan memberkati!
Comments