"Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya. Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu, ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi, dan aku direkam di bagian-bagian bumi yang paling bawah; mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya." (Mazmur 139:13-16)
Apapun keadaan kita saat ini, dimanapun posisi kita saat ini, ingatlah bahwa apa yang Tuhan rencanakan untuk setiap dari kita itu pasti unik, sebagaimana Ia menciptakan kita masing-masing unik. Tidak perlu takut bahwa apa yang kita kerjakan itu berbeda dengan yang umumnya orang kerjakan. Malah lewat keunikan yang kita miliki (yang seringkali kita anggap sebagai kekurangan terbesar kita) kita bisa melakukan hal-hal besar yang tidak pernah kita pikirkan sebelumnya. Mau contoh? Coba lihatlah kisah hidup dari seseorang yang bernama Nick Vujicic dan apa dampak yang sudah berhasil dia berikan dalam hidupnya.
Tentu menjalani semua rencana Tuhan itu bukan perkara yang mudah, banyak persimpangan-persimpangan dan tantangan yang harus dihadapi sepanjang perjalanan kita untuk mencapai tujuan tersebut. Seringkali keadaan tidak terlihat makin baik, namun makin buruk, seringkali orang-orang terdekat kita tidak mendukung perjalanan kita, seringkali kita merasa kita berjalan sendiri dan Tuhan tidak menopang kita, namun perlu kita ketahui, itu semua adalah proses yang Tuhan siapkan dalam perjalanan kita, supaya ketika kita bisa mencapai tujuan yang sudah ditetapkan-Nya, kita bisa menikmati hasilnya dengan maksimal.
Proses-proses yang tidak mudah tadilah yang mengingatkan kita bahwa untuk setiap hal, kita perlu berkomunikasi dengan Tuhan. Berkomunikasi artinya membangun hubungan, menjadi lebih dekat, dan mengerti apa yang menjadi kehendak-Nya, maka dengan itu kita bisa melewati semua tantangan itu dengan kuat (bukan dengan mudah). Tuhan tidak pernah berjanji bahwa langit selalu biru, dan jalan selalu rata. "Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya." (Matius 7:13-14)
Bagi kita yang belum mengetahui apa yang menjadi rencana Tuhan dalam hidup kita, bukan berarti kita harus berhenti dari apa yang kita kerjakan lalu mencari dengan sembarangan. Memang benar ada tertulis di alkitab: “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.” (Matius 7:7-8) namun ada tertulis: "Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga,.." (Pengkhotbah 9:10a). Tuhan kita bukan Tuhan yang impulsif dan tidak memiliki perencanaan yang baik sebelum mengerjakan segala sesuatunya (Lukas 14:28). Sambil mengerjakan apa yang kita kerjakan dengan sebaik-baiknya, berdoalah kepada Tuhan agar Ia berbicara secara pribadi dengan kita supaya kita mengetahui apa yang menjadi maksud-Nya atas kita.
Namun diatas semuanya itu, ada 1 hal yang harus kita verifikasi atas apa yang kita kerjakan, yaitu apakah yang kita kerjakan sudah sesuai dengan hukum yang tertutama yang Tuhan Yesus ajarkan kepada kita? Hukum ini dituliskan dalam Alkitab sebagai sesuatu yang bersifat tetap, tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun, dan tidak perlu lagi dipertanyakan kepada Tuhan:
Albert Einstein merupakan salah satu ilmuwan terbaik yang pernah dimiliki oleh umat manusia. Lewat teori relativitas yang dia temukan banyak teknologi di dalam kehidupan kita sehari-hari bisa diciptakan, salah satu contohnya adalah sistem GPS yang banyak dipakai manusia saat ini. Sebagai pencipta teori tersebut, tentu Einstein sangat senang jika ciptaannya bisa dipergunakan sesuai dengan tujuan awal penciptaannya. Namun ketika ciptaannya itu digunakan tidak pada tempatnya, bahkan menjadi awal terciptanya sebuah senjata yang merenggut nyawa begitu banyak orang, dia berkata "Woe is me,". Jika Einstein bisa berkata seperti itu, kira-kira apa yang akan dirasakan oleh Tuhan sebagai pencipta kita, jika kita hidup melenceng dari tujuan yang sudah ditetapkan-Nya atas hidup kita?
Seringkali kita hidup dan bertindak menurut rancangan dan kemauan pribadi kita saja, banyak dari kita mengejar visi pribadi kita. Padahal, apa yang kita lihat dan rencanakan seringkali sia-sia (Mazmur 94:11) sekalipun orang berhikmat yang merencanakannya (1 Korintus 3:20). Pernahkah kita mencoba bertanya, apa sesungguhnya tujuan yang disiapkan Allah buat kita pribadi? (Yesaya 55:8-9) Tentu rencana yang kita bahas disini bukan merupakan rencana kecil yang kita sering buat sehari-hari, namun sebuah grand plan yang disiapkan secara khusus untuk setiap dari kita. Sesuatu yang seharusnya menjadi makna keberadaan kita di dunia ini. Buat saya, sukses bukan berbicara tentang seberapa banyak uang yang kita hasilkan, namun seberapa tepat kita memenuhi tujuan penciptaan kita.
Apapun keadaan kita saat ini, dimanapun posisi kita saat ini, ingatlah bahwa apa yang Tuhan rencanakan untuk setiap dari kita itu pasti unik, sebagaimana Ia menciptakan kita masing-masing unik. Tidak perlu takut bahwa apa yang kita kerjakan itu berbeda dengan yang umumnya orang kerjakan. Malah lewat keunikan yang kita miliki (yang seringkali kita anggap sebagai kekurangan terbesar kita) kita bisa melakukan hal-hal besar yang tidak pernah kita pikirkan sebelumnya. Mau contoh? Coba lihatlah kisah hidup dari seseorang yang bernama Nick Vujicic dan apa dampak yang sudah berhasil dia berikan dalam hidupnya.
Tentu menjalani semua rencana Tuhan itu bukan perkara yang mudah, banyak persimpangan-persimpangan dan tantangan yang harus dihadapi sepanjang perjalanan kita untuk mencapai tujuan tersebut. Seringkali keadaan tidak terlihat makin baik, namun makin buruk, seringkali orang-orang terdekat kita tidak mendukung perjalanan kita, seringkali kita merasa kita berjalan sendiri dan Tuhan tidak menopang kita, namun perlu kita ketahui, itu semua adalah proses yang Tuhan siapkan dalam perjalanan kita, supaya ketika kita bisa mencapai tujuan yang sudah ditetapkan-Nya, kita bisa menikmati hasilnya dengan maksimal.
Proses-proses yang tidak mudah tadilah yang mengingatkan kita bahwa untuk setiap hal, kita perlu berkomunikasi dengan Tuhan. Berkomunikasi artinya membangun hubungan, menjadi lebih dekat, dan mengerti apa yang menjadi kehendak-Nya, maka dengan itu kita bisa melewati semua tantangan itu dengan kuat (bukan dengan mudah). Tuhan tidak pernah berjanji bahwa langit selalu biru, dan jalan selalu rata. "Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya." (Matius 7:13-14)
Bagi kita yang belum mengetahui apa yang menjadi rencana Tuhan dalam hidup kita, bukan berarti kita harus berhenti dari apa yang kita kerjakan lalu mencari dengan sembarangan. Memang benar ada tertulis di alkitab: “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.” (Matius 7:7-8) namun ada tertulis: "Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga,.." (Pengkhotbah 9:10a). Tuhan kita bukan Tuhan yang impulsif dan tidak memiliki perencanaan yang baik sebelum mengerjakan segala sesuatunya (Lukas 14:28). Sambil mengerjakan apa yang kita kerjakan dengan sebaik-baiknya, berdoalah kepada Tuhan agar Ia berbicara secara pribadi dengan kita supaya kita mengetahui apa yang menjadi maksud-Nya atas kita.
Namun diatas semuanya itu, ada 1 hal yang harus kita verifikasi atas apa yang kita kerjakan, yaitu apakah yang kita kerjakan sudah sesuai dengan hukum yang tertutama yang Tuhan Yesus ajarkan kepada kita? Hukum ini dituliskan dalam Alkitab sebagai sesuatu yang bersifat tetap, tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun, dan tidak perlu lagi dipertanyakan kepada Tuhan:
Jawab Yesus: "Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini." (Markus 12:29-31)Jika apa yang kita kerjakan saat ini tidak menunjukkan bahwa kita mengasihi Tuhan, tidak mengasihi diri kita sendiri, dan atau tidak mengasihi sesama, maka kita perlu mempertimbangkan ulang apakah cara kita mengerjakan hal yang kita kerjakan bisa kita perbaiki atau apa yang kita kerjakan perlu kita ubah/tinggalkan. Mari kita saling mengevaluasi diri kita pribadi untuk hal ini.