Skip to main content

Mengetahui Waktu dan Tempat Dalam Menabur

Setiap dari kita tentu ingin diberkati oleh Tuhan, dan berkat yang kita harapkan pasti bukan berkat yang sekedarnya saja, namun berkat yang melimpah. Hal ini merupakan sesuatu yang wajar, dimana manusia selalu mendambakan kemakmuran. Bahkan dalam Alkitab sendiri kemakmuran begitu sering dibahas, sebagai contoh, kata "prosper" dalam Alkitab terjemahan King James Version (KJV) tercatat 88 kali disebutkan dalam bagian Perjanjian Lama. Apa yang tercatat di Alkitab bukan merupakan hal-hal yang dengan sembarangan ditulis, apalagi sesuatu yang berulang kali disebutkan tentu memiliki signifikansi yang penting.

Berkat itu seringkali erat kaitannya dengan promosi. Dan kita seringkali berkerja begitu kerasnya untuk dapat mengalami promosi tersebut, namun ingatlah, dalam Mazmur 75 dikatakan "Sebab bukan dari timur atau dari barat dan bukan dari padang gurun datangnya peninggian itu, tetapi Allah adalah Hakim: direndahkan-Nya yang satu dan ditinggikan-Nya yang lain."


Lalu apakah dengan mengetahui bahwa promosi itu datang dari Tuhan maka kita tidak perlu melakukan apapun? Tentu tidak. Tuhan tidak mau memberkati kita lewat proses yang tidak bertanggung jawab. Prinsip Kekristenan adalah "Apa yang kamu tabur, itulah yang akan kamu tuai." (Galatia 6:7). Proses menabur merupakan proses yang penting sebelum kita bisa diberkati, bahkan Ishak anak Abraham pun baru menikmati berkat dari Tuhan setelah ia menabur (Kejadian 26:12), dari sanalah Ishak menjadi kaya, bahkan kian lama kian kaya, sehingga ia menjadi sangat kaya (Kejadian 26:13).


Sebelum membahas hal ini lebih lanjut, perlu juga kita ingat, berbicara tentang menabur dan berkat, tidak selalu berbicara tentang uang atau harta. Waktu, tenaga, pemikiran, pengetahuan, firman, hati, kasih dan pengampunan merupakan hal-hal yang bisa ditabur dalam hidup kita.


Dalam kehidupan pengikut Kristus, kata dan konsep menabur merupakan hal yang begitu sering dikumandangkan dalam pertemuan-pertemuan ibadah. Begitu seringnya, hingga ada hal-hal kecil yang sering dilupakan dalam proses menabur. Tentu Tuhan seringkali memerintahkan umat-Nya untuk menabur, namun proses menabur itu ada takarannya, waktunya dan ada tempatnya.


Dalam hal waktu, sebagai contoh, Tuhan sendiri berfirman kepada Musa di gunung sinai dalam Imamat 25, bahwa ada waktu-waktunya bagi umat Israel untuk berhenti menabur di tanah perjanjian-Nya. Nabi Yesaya pun berkata: "Setiap harikah orang membajak, mencangkul dan menyisir tanahnya untuk menabur?" (Yesaya 28:24), Pengkhotbah pun mengajarkan kepada kita untuk menabur benih pada pagi-pagi hari (Pengkhotban 11:6).


Berkaitan dengan tempat, menabur juga perlu dilakukan di tempat yang tepat, janganlah kita menabur di tempat duri tumbuh. (Yeremia 4:3) Tentu Tuhan bisa memberikan benih yang tidak terbatas pada kita untuk ditabur, tapi kita perlu tahu prioritas dimana kita menabur, karena benih yang ditabur baru bisa bertumbuh dengan baik di tanah yang subur (Lukas 8:5-8). Atau dalam Galatia 6:8, kita diajarkan untuk memilih, apakah kita mau menabur dalam Roh (pekerjaan Tuhan) atau dalam daging (nafsu dunia yang tidak terkendali).


Sedangkan mengenai takaran, Lukas mengajarkan "Berilah dan akan diberikan kepadamu: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang diguncangkan dan berlimpah, dan yang akan dituangkan ke pangkuanmu. Karena dengan ukuran yang sama yang kamu gunakan untuk mengukur, hal itu akan diukurkan kembali kepadamu." (Lukas 6:38) Janganlah khawatir untuk menabur dengan jumlah yang tepat, karena dikatakan "Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan." (Amsal 11:24) dan "Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita." (2 Korintus 9:6).


Ingatlah bahwa Tuhan Allah kita, Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu; (2 Korintus 9:10)


Lalu bagaimana dengan yang menabur namun tidak menuai seperti yang terkatakan dalam Imamat 26:16, atau seperti apa yang terjadi pada bangsa Israel pada Hakim-Hakim 6:3? Alkitab dengan jelas menjelaskan bahwa hal tersebut hanya akan terjadi kepada orang-orang yang tidak mendengarkan Tuhan, dan tidak melakukan segala perintah-Nya (Imamat 26:14 & Hakim-Hakim 6:1). Maka waspadalah akan apa yang kita kerjakan sehari-hari, apakah kita mengerjakan segalanya mengacu kepada ketetapan-Nya dan kemauan-Nya ataukah kita berjalan sendiri sesuka hati kita?


Jangan lupa untuk mengucap syukur kepada Allah karena karunia-Nya yang tak terkatakan itu!