Sebagai pengikut Kristus, tentu kita semua tahu dengan kebesaran dan kekuatan Tuhan Allah kita. Dalam setiap cerita alkitab, baik perjanjian lama maupun perjanjian baru, Tuhan Allah yang kita sembah selalu mampu melakukan segala sesuatu bagi umat-Nya, tiada yang mustahil dan terkecuali dari kemampuan-Nya yang luar biasa. Selain itu sering dikatakan bahwa, Tuhan kita adalah Tuhan yang akan tetap sama, dahulu, sekarang, maupun di masa yang akan datang tidak pernah berubah, maka tentu Tuhan yang dulu bisa membantu bangsa israel untuk keluar dari mesir, Tuhan yang dulu bisa menampakkan dirinya kepada Saulus, Tuhan yang memulihkan dan mengangkat Ayub sedemikian tingginya, Tuhan yang memberi keturunan kepada Abraham, tentu adalah Tuhan yang sama yang kepada-Nya kita beribadah saat ini.
Pertanyaanya, mengapa Tuhan yang kita sembah ini tidak selalu dapat menolong kita dalam keadaan tersulit kita, dan seakan-akan kita harus berusaha dan berjalan sendiri untuk dapat keluar dari masalah yang kita hadapi? Atau jawaban atas doa-doa kita tidak kunjung tiba, walaupun doa-doa yang kita panjatkan bukanlah untuk memuaskan keinginan pribadi kita? (Yakobus 4:3) Tentu kita juga cukup sadar bahwa doa yang kita panjatkan bukan atas dasar niatan jahat (Mazmur 66:18), namun kenapa belum ada jawaban atas semuanya itu?
Tentu banyak orang berkata bahwa jawaban Tuhan untuk doa dan keinginan kita ada 3 macam: Ya (Dikabulkan), Tidak (Tidak Dikabulkan), atau Nanti (Ditunda). Namun dalam pandangan saya, bagi para pengikut Kristus yang telah menjalankan setiap ketetapan-Nya dan mengikuti setiap arahan-Nya, alasan kenapa jawaban Tuhan atas doa dan keinginan kita belum terlihat adalah karena kita belum siap untuk menerima jawaban tersebut. Bukankah Tuhan Allah kita adalah Bapa yang baik, yang tidak akan memberi ular ganti ikan bagi anak-Nya yang meminta. (Lukas 11:11-13) Jawaban Tidak atas doa, menurut saya lebih banyak berlaku kepada orang yang tidak mengenal Tuhan Allah dengan baik, sehingga tidak mengerti apa yang menjadi keinginan-Nya, sedangkan bagi pengikut-Nya yang sudah jauh lebih dewasa, umumnya apa yang diminta/didoakan sudah melewati beberapa pertimbangan terlebih dahulu. Tidak percaya?
Ingatkah kita tentang perumpaan dua macam dasar? (Matius 7:24-27 & Lukas 6:47-4) Dalam perumpaan itu, baik orang yang membangun rumah diatas pasir, maupun orang yang membangun rumah diatas batu, keduanya mendapatkan berkat dan masalah yang sama, seperti yang dikatakan: "Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu.." Dalam pemahaman saya, hujan melambangkan berkat, banjir adalah berkat yang terlalu besar sehingga tidak mampu dikelola sehingga menimbulkan masalah, sedangkan angin adalah runtutan masalah yang bertubi-tubi dalam hidup kita.
Jika kita tidak siap menerima (dan mengelola) jawaban dari doa dan keinginan kita, jawaban itulah yang malah akan merusakkan kehidupan kita.
Tidak siap dalam hal ini bisa dilihat dalam beberapa aspek:
#1. Potensi diri kita. Potensi diri kita bisa diibaratkan sebagai sebuah kontainer/kapasitas kita untuk menampung berkat itu. Jika kita minta untuk diberikan air 2 liter namun hanya memiliki kontainer 1 liter, tentu sisa 1 liternya akan tumpah dan membuat basah sekitar kita (Mubazir dan merugikan orang lain). Untuk dapat mengelola berkat yang kita minta dengan baik, tentu kita harus memperluas kapasitas kita atau mengeluarkan potensi yang selama ini tidak kita pergunakan dengan baik. Justru lewat potensi kita itulah, Tuhan mau mengangkat kita, mempermuliakan nama-Nya sekaligus memberkati kita dengan berlimpah-limpah.
#2. Sikap hati kita dalam proses Tuhan. Dunia tahu bahwa segala sesuatu yang bersifat instant tentu tidak sebanding dengan hal-hal yang muncul dari proses alami, nilai yang diberikan oleh sesuatu yang dikerjakan dengan proses yang tepat tentu berharga lebih besar dibanding yang instant. Tuhan mau kita menerima segala sesuatu yang terbaik, tentu melewati proses yang tepat juga untuk memastikan bahwa kita menerima yang terbaik. Dalam proses ini ada 2 hal mendasar yang bisa kita evaluasi:
Pertanyaanya, mengapa Tuhan yang kita sembah ini tidak selalu dapat menolong kita dalam keadaan tersulit kita, dan seakan-akan kita harus berusaha dan berjalan sendiri untuk dapat keluar dari masalah yang kita hadapi? Atau jawaban atas doa-doa kita tidak kunjung tiba, walaupun doa-doa yang kita panjatkan bukanlah untuk memuaskan keinginan pribadi kita? (Yakobus 4:3) Tentu kita juga cukup sadar bahwa doa yang kita panjatkan bukan atas dasar niatan jahat (Mazmur 66:18), namun kenapa belum ada jawaban atas semuanya itu?
Tentu banyak orang berkata bahwa jawaban Tuhan untuk doa dan keinginan kita ada 3 macam: Ya (Dikabulkan), Tidak (Tidak Dikabulkan), atau Nanti (Ditunda). Namun dalam pandangan saya, bagi para pengikut Kristus yang telah menjalankan setiap ketetapan-Nya dan mengikuti setiap arahan-Nya, alasan kenapa jawaban Tuhan atas doa dan keinginan kita belum terlihat adalah karena kita belum siap untuk menerima jawaban tersebut. Bukankah Tuhan Allah kita adalah Bapa yang baik, yang tidak akan memberi ular ganti ikan bagi anak-Nya yang meminta. (Lukas 11:11-13) Jawaban Tidak atas doa, menurut saya lebih banyak berlaku kepada orang yang tidak mengenal Tuhan Allah dengan baik, sehingga tidak mengerti apa yang menjadi keinginan-Nya, sedangkan bagi pengikut-Nya yang sudah jauh lebih dewasa, umumnya apa yang diminta/didoakan sudah melewati beberapa pertimbangan terlebih dahulu. Tidak percaya?
Ingatkah kita tentang perumpaan dua macam dasar? (Matius 7:24-27 & Lukas 6:47-4) Dalam perumpaan itu, baik orang yang membangun rumah diatas pasir, maupun orang yang membangun rumah diatas batu, keduanya mendapatkan berkat dan masalah yang sama, seperti yang dikatakan: "Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu.." Dalam pemahaman saya, hujan melambangkan berkat, banjir adalah berkat yang terlalu besar sehingga tidak mampu dikelola sehingga menimbulkan masalah, sedangkan angin adalah runtutan masalah yang bertubi-tubi dalam hidup kita.
Jika kita tidak siap menerima (dan mengelola) jawaban dari doa dan keinginan kita, jawaban itulah yang malah akan merusakkan kehidupan kita.
Tidak siap dalam hal ini bisa dilihat dalam beberapa aspek:
#1. Potensi diri kita. Potensi diri kita bisa diibaratkan sebagai sebuah kontainer/kapasitas kita untuk menampung berkat itu. Jika kita minta untuk diberikan air 2 liter namun hanya memiliki kontainer 1 liter, tentu sisa 1 liternya akan tumpah dan membuat basah sekitar kita (Mubazir dan merugikan orang lain). Untuk dapat mengelola berkat yang kita minta dengan baik, tentu kita harus memperluas kapasitas kita atau mengeluarkan potensi yang selama ini tidak kita pergunakan dengan baik. Justru lewat potensi kita itulah, Tuhan mau mengangkat kita, mempermuliakan nama-Nya sekaligus memberkati kita dengan berlimpah-limpah.
#2. Sikap hati kita dalam proses Tuhan. Dunia tahu bahwa segala sesuatu yang bersifat instant tentu tidak sebanding dengan hal-hal yang muncul dari proses alami, nilai yang diberikan oleh sesuatu yang dikerjakan dengan proses yang tepat tentu berharga lebih besar dibanding yang instant. Tuhan mau kita menerima segala sesuatu yang terbaik, tentu melewati proses yang tepat juga untuk memastikan bahwa kita menerima yang terbaik. Dalam proses ini ada 2 hal mendasar yang bisa kita evaluasi:
- Iman kita. Apakah kita bisa tetap percaya dalam proses jangka panjang? Semua orang mau mendapatkan yang terbaik, tapi tidak semua orang cukup sabar untuk mendapatkan yang terbaik. Dalam proses jangka panjang itulah Tuhan akan menunjukkan kemuliaan-Nya dan kemampuan-Nya, bahkan dalam keadaan yang paling tidak mungkin sekalipun, Tuhan mampu mewujudkan doa-doa kita, tepat pada waktunya.
- Rasa bersyukur. Tuhan mau kita mensyukuri segala sesuatu yang kita miliki, dan dalam proses yang sesungguhnya kita akan dibuat mengerti bahwa setiap hal-hal kecil yang seringkali terlihat tidak signifikan bagi kita, sebenarnya membawa arti penting dalam kehidupan kita sehari-hari. Hal-hal besar yang kita minta tidak akan bisa terjadi tanpa ada dukungan hal-hal sederhana yang ada di sekitarnya. Hal-hal kecil itu pula yang sesungguhnya menunjukkan betapa besar kasih-Nya pada kita, sehingga untuk hal-hal terkecil dalam hidup kita pun Tuhan ikut serta mencukupi dan memperhatikan kita.
Terkadang dalam penundaan Tuhan ada maksud dan rencana-Nya untuk menjadikan kita sebagai pribadi yang jauh lebih baik dan memiliki rasa cukup, bahkan menjadikan hidup kita lebih berarti untuk sebuah maksud dan tujuan yang lebih besar. Sebagai Tuhan yang secara pribadi menenun dan merancangkan kehidupan kita (Mazmur 139) tentu punya gambaran rencana yang jauh lebih besar dari apa yang kita bisa lihat saat ini. (Yesaya 55:8-9) Bukankah ini persis seperti apa yang Tuhan Yesus doakan di bukit Zaitun sebelum Ia ditangkap untuk disalibkan? (Matius 26:37-39).