Dari awal diciptakan-Nya manusia, Tuhan selalu memberi visi bahwa manusia adalah makhluk sosial, dan satu sama lain diciptakan-Nya untuk saling melengkapi. Ayat Kejadian 2:18a yang berkata "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja.." tidak hanya dapat diaplikasikan bagi para singles yang sedang mencari pasangan namun juga kepada setiap dari kita, khususnya untuk mengingatkan kita pentingnya untuk bisa bekerja sama dengan orang lain dalam setiap hal yang kita lakukan.
#2 Maka berangkatlah mereka ke sebelah timur dan menjumpai tanah datar di tanah Sinear, lalu menetaplah mereka di sana. (Kejadian 11:2) Bekerja sama sulit tercapai jika masing-masing individu tidak berada di "tempat" yang sama. Tempat yang sama berbicara tentang kesehatian, berbicara tentang kedekatan satu sama lain. Bagaimana orang bisa mengerti satu sama lain jika mereka sendiri berjauhan?
#3 Mereka berkata seorang kepada yang lain: "Marilah kita membuat batu bata dan membakarnya baik-baik." Lalu bata itulah dipakai mereka sebagai batu dan ter gala-gala sebagai tanah liat. (Kejadian 11:3) Kala itu manusia mulai membangun rumah sebagai tempat tinggal permanen bagi mereka. Rumah disini bisa diartikan dalam konteks tertanam, atau where we belong. Ini merupakan komitmen mereka untuk mulai bekerja sama, mendedikasikan waktu, tenaga, dan pikiran untuk menciptakan sesuatu secara bersama, dan tinggal di dalamnya bersama pula. Mungkinkah kita membangun "rumah" seorang diri?
#4 Juga kata mereka: "Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi." (Kejadian 11:4) Disini kita melihat sebuah elemen penting yang merekatkan setiap dari manusia menjadi satu entitas yang tunggal, sehingga bisa mencapai sinergi bersama yaitu VISI. Dengan adanya visi, maka setiap individu bisa memiliki tujuan akhir yang sama, keinginan yang sama, dan semuanya itu membuat setiap dari mereka bisa menjadi relevan satu dengan yang lain dalam perbuatan maupun pikiran mereka. Inilah yang membuat teamwork bisa berjalan dengan harmonis dalam jangka panjang.
Sejak awal manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah, spirit teamwork sudah tertanam jelas dalam diri kita. Tidak percaya? Dalam Kejadian 1:26, Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita,.."
Dari semula Allah sudah menunjukkan bahwa Ia merupakan Trinitas yang kompak, selalu bersama, tidak pernah berkontradiksi satu sama lain, dan saling melengkapi dalam peran Bapa, Putera, dan Roh Kudus, dan selalu satu dalam identitas bersama sebagai Allah.
Tentu setiap dari kita aware bahwa teamwork merupakan sebuah behavior yang sangat powerful dalam setiap aspek kehidupan kita, bahkan sudah begitu banyak training dan tips yang beredar di manapun tentang bagaimana membangun teamwork. Lalu apa yang alkitab ajarkan dalam membangun teamwork? Saya mencoba menggambarkan pelajaran teamwork yang saya dapat dari alkitab melalui cerita Menara Babel berikut.
Kejadian 11:1-9 [Menara Babel]
Kejadian 11:1-9 [Menara Babel]
Adapun seluruh bumi, satu bahasanya dan satu logatnya. Maka berangkatlah mereka ke sebelah timur dan menjumpai tanah datar di tanah Sinear, lalu menetaplah mereka di sana. Mereka berkata seorang kepada yang lain: "Marilah kita membuat batu bata dan membakarnya baik-baik." Lalu bata itulah dipakai mereka sebagai batu dan ter gala-gala sebagai tanah liat. Juga kata mereka: "Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi." Lalu turunlah TUHAN untuk melihat kota dan menara yang didirikan oleh anak-anak manusia itu, dan Ia berfirman: "Mereka ini satu bangsa dengan satu bahasa untuk semuanya. Ini barulah permulaan usaha mereka; mulai dari sekarang apapun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana.
Baiklah Kita turun dan mengacaubalaukan di sana bahasa mereka, sehingga mereka tidak mengerti lagi bahasa masing-masing." Demikianlah mereka diserakkan TUHAN dari situ ke seluruh bumi, dan mereka berhenti mendirikan kota itu. Itulah sebabnya sampai sekarang nama kota itu disebut Babel, karena di situlah dikacaubalaukan TUHAN bahasa seluruh bumi dan dari situlah mereka diserakkan TUHAN ke seluruh bumi.
Baiklah Kita turun dan mengacaubalaukan di sana bahasa mereka, sehingga mereka tidak mengerti lagi bahasa masing-masing." Demikianlah mereka diserakkan TUHAN dari situ ke seluruh bumi, dan mereka berhenti mendirikan kota itu. Itulah sebabnya sampai sekarang nama kota itu disebut Babel, karena di situlah dikacaubalaukan TUHAN bahasa seluruh bumi dan dari situlah mereka diserakkan TUHAN ke seluruh bumi.
Poin yang didapat:
#1 Adapun seluruh bumi, satu bahasanya dan satu logatnya. (Kejadian 11:1) Untuk membangun sebuah kerjasama yang baik, yang menjadi fondasi dasar dan terpenting adalah kita perlu untuk dapat berkomunikasi dalam konteks yang saling dimengerti. Komunikasi yang benar membuat segala rencana bisa terlaksana dengan baik, semua goal dapat dicapai dengan tepat sasaran, layaknya Allah berkata dalam Kejadian 11: 6, "dan Ia berfirman: "Mereka ini satu bangsa dengan satu bahasa untuk semuanya. Ini barulah permulaan usaha mereka; mulai dari sekarang apapun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana." Menggunakan "bahasa" yang sama artinya kita juga mengetahui bagaimana cara kita menyampaikan sesuatu dengan cara yang dimengerti oleh rekan kita, di sisi lain kita juga mencari tahu dan mengerti apa yang menjadi kebutuhan dari rekan kita lewat mendengar (listen) mereka. Jika satu sama lain tidak bisa berkomunikasi dalam "bahasa" yang sama, ini akan menjadi benih kekacauan diantara mereka. Kejadian 11:7 membuktikan hal ini, dimana ketika Tuhan mengacaukan bahasa mereka, manusia menjadi terserak (terpecah belah), dan segala yang hendak mereka kerjakan bersama menjadi terhenti.#2 Maka berangkatlah mereka ke sebelah timur dan menjumpai tanah datar di tanah Sinear, lalu menetaplah mereka di sana. (Kejadian 11:2) Bekerja sama sulit tercapai jika masing-masing individu tidak berada di "tempat" yang sama. Tempat yang sama berbicara tentang kesehatian, berbicara tentang kedekatan satu sama lain. Bagaimana orang bisa mengerti satu sama lain jika mereka sendiri berjauhan?
#3 Mereka berkata seorang kepada yang lain: "Marilah kita membuat batu bata dan membakarnya baik-baik." Lalu bata itulah dipakai mereka sebagai batu dan ter gala-gala sebagai tanah liat. (Kejadian 11:3) Kala itu manusia mulai membangun rumah sebagai tempat tinggal permanen bagi mereka. Rumah disini bisa diartikan dalam konteks tertanam, atau where we belong. Ini merupakan komitmen mereka untuk mulai bekerja sama, mendedikasikan waktu, tenaga, dan pikiran untuk menciptakan sesuatu secara bersama, dan tinggal di dalamnya bersama pula. Mungkinkah kita membangun "rumah" seorang diri?
#4 Juga kata mereka: "Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi." (Kejadian 11:4) Disini kita melihat sebuah elemen penting yang merekatkan setiap dari manusia menjadi satu entitas yang tunggal, sehingga bisa mencapai sinergi bersama yaitu VISI. Dengan adanya visi, maka setiap individu bisa memiliki tujuan akhir yang sama, keinginan yang sama, dan semuanya itu membuat setiap dari mereka bisa menjadi relevan satu dengan yang lain dalam perbuatan maupun pikiran mereka. Inilah yang membuat teamwork bisa berjalan dengan harmonis dalam jangka panjang.
#5 Hal terpenting yang perlu kita Ingat, nabi Yesaya berkata dalam Yesaya 55:8-9 "Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu." Jika kita bersepakat melakukan sesuatu diluar rencana-Nya, atau bila Tuhan diluar kita, apapun itu menjadi sia-sia.