Dewasa ini, banyak orang yang memiliki label "Kristen" menjadi batu sandungan bagi sesamanya. Hal ini bahkan terjadi di dalam Gereja Allah, baik gereja dalam arti spiritual (komunitas) maupun Gereja dalam artian fisik (tempat). Di dunia ini, orang yang memiliki label "Kristen" secara umum diberikan standar ekspektasi yang lebih tinggi dari yang lainnya.
Layaknya pohon berbuah, manusia juga berbuah lewat perbuatannya masing-masing. Dapat dikatakan bahwa buah tersebut merupakan respon kita terhadap apa yang kita terima, dan respon kita ini mencerminkan kualitas diri kita sendiri, bahkan Tuhan Yesus sendiri berkata "Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka." (Matius 7:16a)
Respon yang kita miliki merupakan cerminan akan sikap dan karakter kita. Orang yang memiliki sikap hormat tentu akan merespon masukan dari orang tua dengan baik, orang yang memiliki sikap hati yang terbuka tentu tidak akan masuk ke dalam perdebatan yang tidak bermanfaat dengan orang lain hanya karena berbeda pandangan.
Merespon sesuatu yang positif dengan sikap positif tentu merupakan sesuatu yang cukup mudah, namun bagaimana kita merespon sesuatu yang negatif dengan sikap positif? Secara alami, manusia memiliki defense mechanism ketika dihadapkan dengan hal-hal yang tidak enak, tidak nyaman atau bertentangan dengan kemauan pribadi kita, sehingga kita cenderung menolak, mendebat atau melawan hal-hal tersebut, sekalipun hal tersebut memiliki tujuan yang positif bagi kita.
Mengubah respon kita bukan merupakan hal yang mudah, dan memerlukan komitmen kuat dari diri kita sendiri untuk mau berubah. Tanpa komitmen, apa yang kita tahu hanya akan menjadi sebatas pengetahuan, namun tidak akan pernah bisa dipraktekkan dengan benar. Komitmen berasal dari hati, yaitu hati yang dekat dengan Tuhan dan mau menyenangkan-Nya dengan menuruti segala perintah-Nya.
Alkitab sendiri telah memberikan hikmat, apa yang menjadi dasar kenapa respon kita harus berbeda dengan orang dunia:
#1 Apa yang benar bagi kita, belum tentu benar bagi orang lain, namun apa yang benar bagi Kristus, tentu benar bagi semua orang, dan apa yang paling ditekankan dalam kebenaran Kristus? KASIH. (Matius 22) "Dan Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan;.." (1 Korintus 13-4-8a).
Layaknya pohon berbuah, manusia juga berbuah lewat perbuatannya masing-masing. Dapat dikatakan bahwa buah tersebut merupakan respon kita terhadap apa yang kita terima, dan respon kita ini mencerminkan kualitas diri kita sendiri, bahkan Tuhan Yesus sendiri berkata "Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka." (Matius 7:16a)
Respon yang kita miliki merupakan cerminan akan sikap dan karakter kita. Orang yang memiliki sikap hormat tentu akan merespon masukan dari orang tua dengan baik, orang yang memiliki sikap hati yang terbuka tentu tidak akan masuk ke dalam perdebatan yang tidak bermanfaat dengan orang lain hanya karena berbeda pandangan.
Merespon sesuatu yang positif dengan sikap positif tentu merupakan sesuatu yang cukup mudah, namun bagaimana kita merespon sesuatu yang negatif dengan sikap positif? Secara alami, manusia memiliki defense mechanism ketika dihadapkan dengan hal-hal yang tidak enak, tidak nyaman atau bertentangan dengan kemauan pribadi kita, sehingga kita cenderung menolak, mendebat atau melawan hal-hal tersebut, sekalipun hal tersebut memiliki tujuan yang positif bagi kita.
Mengubah respon kita bukan merupakan hal yang mudah, dan memerlukan komitmen kuat dari diri kita sendiri untuk mau berubah. Tanpa komitmen, apa yang kita tahu hanya akan menjadi sebatas pengetahuan, namun tidak akan pernah bisa dipraktekkan dengan benar. Komitmen berasal dari hati, yaitu hati yang dekat dengan Tuhan dan mau menyenangkan-Nya dengan menuruti segala perintah-Nya.
Alkitab sendiri telah memberikan hikmat, apa yang menjadi dasar kenapa respon kita harus berbeda dengan orang dunia:
#1 Apa yang benar bagi kita, belum tentu benar bagi orang lain, namun apa yang benar bagi Kristus, tentu benar bagi semua orang, dan apa yang paling ditekankan dalam kebenaran Kristus? KASIH. (Matius 22) "Dan Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan;.." (1 Korintus 13-4-8a).
- Respon yang didasari oleh kasih tidak akan egois, tidak akan menimbulkan pertentangan, dan tidak akan menjadi batu sandungan bagi orang lain karena kasih tidak mencari keuntungan diri sendiri. Kasih berkebalikan dengan defense mechanism yang selama ini kita praktekkan.
- Dikatakan bahwa kasih menutupi segala sesuatu, artinya kasih menjembatani jarak/jurang antara kita dan orang lain, menjadi penghubung antara tujuan yang berbeda dari setiap individu, sehingga kita tidak lagi melihat perbedaan antara pendapat kita dengan orang lain menjadi sesuatu yang mengganggu atau menyerang diri kita.
- Kasih percaya segala sesuatu. Oleh karena kasih kita percaya bahwa setiap hal yang diijinkan terjadi oleh Tuhan merupakan hal yang baik adanya, dan kita terbuka akan apapun yang hendak Ia kerjakan dalam hidup kita, bahkan saat kita bertemu dengan orang-orang yang tidak mengenakkan atau berhadapan dengan situasi yang sulit sekalipun.
- Penguasaan diri berbicara tentang keseluruhan aspek diri kita: pikiran, perasaan, perkataan, dan perbuatan kita. Layaknya yang diingatkan oleh Rasul Paulus dalam 1 Korintus 9:25 "Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal."
- Saat menguasai diri kita, rasanya mungkin tidak nyaman seakan-akan menahan ledakan di dalam hati, namun ingat bahwa kita ditugaskan untuk memberitakan injil lewat perbuatan kita, supaya jangan sampai karena respon kita, Kristus ditolak (1 Korintus 9:27) Jika hal ini sampai terjadi, maka kita menjadi batu sandungan bukan hanya untuk sesama manusia, namun bagi kabar baik-Nya.
- Penguasaan diri yang paling sulit adalah perkataan kita, dimana seringkali mulut berbicara sebelum kepala kita sempat memikirkannya bukan? Kita terus harus mengingatkan diri kita, seperti apa yang tertulis dalam Efesus 4:29 "Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia."