Skip to main content

\en·thu·si·asm\ vs. \ex·cite·ment\

Enthusiasm atau antusiasme umumnya diasosiasikan dengan 'semangat', 'sukacita', ataupun 'dengan sepenuh hati'. Konsep mengerjakan sesuatu dengan 'semangat', 'sukacita', maupun 'dengan sepenuh hati' bukanlah sebuah hal yang asing bagi setiap orang, bahkan bagi orang-orang yang belum mengenal Kristus pun, hal ini merupakan sebuah hal yang penting untuk bisa mencapai kesuksesan. 

Lalu bagaimana dengan para pengikut Kristus?

Dari sebuah artikel yang saya baca, saya belajar bahwa bagi pengikut Kristus, kita harus bisa membedakan antara Enthusiasm dan Excitement. 2 kata ini sama-sama menggambarkan sebuah keadaan dimana kita bersemangat dan all-out dalam melakukan sesuatu, namun ada sebuah perbedaan mendasar dari 2 kondisi tersebut. Kata Excitement diawali dengan 'ex' yang artinya 'berasal dari luar' sedangkan 'en' dari Enthusiasm berarti 'berasal dari dalam'.

Jika hal-hal yang membuat kita semangat dan bersungguh-sungguh melakukan sesuatu hanya berasal dari hal-hal yang menarik untuk mata kita, pengalaman-pengalaman menarik di luar sana, upah yang menarik, penghargaan atau pengakuan dari orang lain, ataupun stimulasi-stimulasi lain dari luar diri kita, maka sesungguhnya kita masih jauh dari definisi antusias itu sendiri.

Excitement hanya akan bersifat sementara saja, bilamana stimulus external itu hilang atau berhenti maka kita pun menjadi tidak bersemangat lagi. Layaknya bila seorang karyawan bekerja keras karena berfokus pada bonus yang lebih besar jika mencapai target tertentu, jika bonus tersebut dihilangkan, apakah karyawan tersebut akan tetap bekerja sama tekunnya seperti sebelumnya? Kita perlu ingat bahwa, sulit atau bahkan hampir tidak mungkin bagi kita untuk bisa terus mengontrol penuh hal-hal yang sifatnya external dalam hidup kita.

Enthusiasm berasal dari 3 kata yunani 'en' yang berarti 'dari dalam', 'theós' yang artinya 'tuhan' dan 'ousía' yang bila disederhanakan merujuk pada esensi keberadaan atau identitas dari seseorang atau sesuatu atau bisa diartikan sebagai merujuk kepada diri kita sendiri. Maka Enthusiasm bisa diartikan 'ada Tuhan dalam diri kita'. Hal ini juga disebukan dalam Alkitab oleh Rasul Yohanes dalam 1 Yohanes 3:24 "Barangsiapa menuruti segala perintah-Nya, ia diam di dalam Allah dan Allah di dalam dia. Dan demikianlah kita ketahui, bahwa Allah ada di dalam kita, yaitu Roh yang telah Ia karuniakan kepada kita."

Segala sesuatu yang ada di dalam hati (diri) kita, akan memotivasi kita dengan kuat untuk melakukan segala hal dengan sukacita dan mengejar segala yang terbaik. Sebagai contoh, bila kita sedang jatuh cinta, maka pasangan kita selalu berada di dalam hati kita, maka apapun permintaan pasangan kita akan kita turuti, dan tidak kita kerjakan setengah-setengah namun dengan sungguh-sungguh dan sukacita, berharap kita bisa memberikan lebih dari apa yang diminta. Namun jika kita diminta untuk mengerjakan sesuatu oleh orang yang tidak ada di dalam hati kita, umumnya kita akan bekerja sebisanya kita saja, tidak akan pernah mencapai 120% dari kemampuan atau usaha maksimal kita atau bahkan sambil bersungut-sungut mengerjakannya.

Bagaimana caranya agar Allah ada di dalam kita? Allah kita sebagai Allah yang teratur telah menyusun segala sesuatunya untuk menjawab pertanyaan ini, di dalam Alkitab, selalu dikatakan "ia diam di dalam Allah dan Allah di dalam dia" dan tidak pernah dikatakan "Allah di dalam dia dan ia diam di dalam Allah." Dari hal ini kita tahu bahwa untuk membuat Allah mau berdiam di dalam kita, kita perlu mendekatkan diri dan masuk dalam hadirat-Nya terlebih dahulu. Ingat, bahwa Tuhan telah berjanji kepada kita:

Matius 6:33 Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.

Matius 7:7-8 "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah , maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.

Lalu, bila Tuhan ada di dalam hati (diri) kita, apakah kita hanya akan antusias dalam pekerjaan-pekerjaan yang berbau rohani saja? Pertanyaan ini telah dijawab oleh Rasul Paulus yang dalam Kolose 3:23 telah berkata "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia."

Kata apapun dalam ayat tersebut tidak hanya terbatas pada hal-hal dengan konteks rohani, namun segala aspek dalam kehidupan kita. Ingat bahwa Tuhan menginginkan kita untuk hidup dalam integritas total, yang artinya tidak memiliki standar ganda dalam hidup kita, dimanapun kita berada, melakukan apapun dengan standar yang sama tingginya, sesuai dengan standar yang diperlihatkan oleh Tuhan Yesus, layaknya dikatakan dalam 1 Yohanes 2:6 “Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup”.

Dalam hal ini tepatlah perkataan dari Martin Luther King, Jr: "If a man is called to be a street sweeper, he should sweep streets even as Michelangelo painted, or Beethoven composed music, or Shakespeare wrote poetry. He should sweep streets so well that all the hosts of heaven and earth will pause to say, here lived a great street sweeper who did his job well."

Ada 1 hal yang penting yang perlu diperhatikan, yaitu kata 'called to be', karena teramat sulit bagi kita untuk bisa terus menjaga antusiasme kita dengan konsisten jika yang kita lakukan bukan berasal dari Tuhan (bukan panggilan kita). Karena kita telah diciptakan dengan unik sedemikian rupa oleh Allah sejak dalam buah kandungan Ibu kita (Mazmur 139: 13-16), maka setiap dari kita pun memiliki panggilan-Nya yang khusus bagi setiap dari kita, yaitu tujuan hidup kita, passion kita. Bila saat ini kita belum menemukan apa yang menjadi passion kita, dekatkanlah diri kita kepada-Nya dan terus mencari, ingat Ia berjanji: 'carilah, maka kamu akan mendapat.'