Kali ini saya mencoba untuk membagikan pemahaman yang saya dapatkan dari perikop Yesus berjalan di atas air. Perikop ini dibahas dalam 3 bagian Alkitab, yaitu Matius, Markus, dan Yohanes.
Pembahasan ini merupakan apa yang bisa saya pahami, baik berdasarkan pemikiran saya pribadi maupun hal-hal yang saya dapatkan dari pemikiran dan tulisan orang lain. Semoga bermanfaat, Tuhan memberkati.
Matius 14:22-32
Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ. Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal. Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air. Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: "Itu hantu!", lalu berteriak-teriak karena takut. Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!" Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air." Kata Yesus: "Datanglah!" Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus. Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: "Tuhan, tolonglah aku!" Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?" Lalu mereka naik ke perahu dan anginpun redalah. Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: "Sesungguhnya Engkau Anak Allah."
Markus 6:45-52
Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan berangkat lebih dulu ke seberang, ke Betsaida, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. Setelah Ia berpisah dari mereka, Ia pergi ke bukit untuk berdoa. Ketika hari sudah malam perahu itu sudah di tengah danau, sedang Yesus tinggal sendirian di darat. Ketika Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas air dan Ia hendak melewati mereka. Ketika mereka melihat Dia berjalan di atas air, mereka mengira bahwa Ia adalah hantu, lalu mereka berteriak-teriak, sebab mereka semua melihat Dia dan merekapun sangat terkejut. Tetapi segera Ia berkata kepada mereka: "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!" Lalu Ia naik ke perahu mendapatkan mereka, dan anginpun redalah. Mereka sangat tercengang dan bingung, sebab sesudah peristiwa roti itu mereka belum juga mengerti, dan hati mereka tetap degil.
Yohanes 6:16-21
Dan ketika hari sudah mulai malam, murid-murid Yesus pergi ke danau, lalu naik ke perahu dan menyeberang ke Kapernaum. Ketika hari sudah gelap Yesus belum juga datang mendapatkan mereka, sedang laut bergelora karena angin kencang. Sesudah mereka mendayung kira-kira dua tiga mil jauhnya, mereka melihat Yesus berjalan di atas air mendekati perahu itu. Maka ketakutanlah mereka. Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Aku ini, jangan takut!" Mereka mau menaikkan Dia ke dalam perahu, dan seketika juga perahu itu sampai ke pantai yang mereka tujui.
#1 Pada bagian awal dikatakan bahwa Tuhan Yesus memerintahkan murid-muridNya untuk naik perahu dan pergi mendahuluiNya. Saya mencoba memahami bahwa tulisan ini dibuat dari sudut pandang para murid-murid, yang mana dapat diimplikasikan:
#2 Tuhan menghampiri para murid-murid di atas perahu dengan cara berjalan di atas air. Hal ini membuat para murid-murid begitu ketakutan (Matius 14:26; Yohanes 6:19; Markus 6:49-50). Mereka bahkan mengira pribadi yang menghampiri mereka adalah hantu dan mulai berteriak-teriak.
Pembahasan ini merupakan apa yang bisa saya pahami, baik berdasarkan pemikiran saya pribadi maupun hal-hal yang saya dapatkan dari pemikiran dan tulisan orang lain. Semoga bermanfaat, Tuhan memberkati.
Tanda-tanda orang yang kurang percaya
Matius 14:22-32
Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ. Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal. Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air. Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: "Itu hantu!", lalu berteriak-teriak karena takut. Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!" Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air." Kata Yesus: "Datanglah!" Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus. Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: "Tuhan, tolonglah aku!" Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?" Lalu mereka naik ke perahu dan anginpun redalah. Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: "Sesungguhnya Engkau Anak Allah."
Markus 6:45-52
Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan berangkat lebih dulu ke seberang, ke Betsaida, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. Setelah Ia berpisah dari mereka, Ia pergi ke bukit untuk berdoa. Ketika hari sudah malam perahu itu sudah di tengah danau, sedang Yesus tinggal sendirian di darat. Ketika Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas air dan Ia hendak melewati mereka. Ketika mereka melihat Dia berjalan di atas air, mereka mengira bahwa Ia adalah hantu, lalu mereka berteriak-teriak, sebab mereka semua melihat Dia dan merekapun sangat terkejut. Tetapi segera Ia berkata kepada mereka: "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!" Lalu Ia naik ke perahu mendapatkan mereka, dan anginpun redalah. Mereka sangat tercengang dan bingung, sebab sesudah peristiwa roti itu mereka belum juga mengerti, dan hati mereka tetap degil.
Yohanes 6:16-21
Dan ketika hari sudah mulai malam, murid-murid Yesus pergi ke danau, lalu naik ke perahu dan menyeberang ke Kapernaum. Ketika hari sudah gelap Yesus belum juga datang mendapatkan mereka, sedang laut bergelora karena angin kencang. Sesudah mereka mendayung kira-kira dua tiga mil jauhnya, mereka melihat Yesus berjalan di atas air mendekati perahu itu. Maka ketakutanlah mereka. Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Aku ini, jangan takut!" Mereka mau menaikkan Dia ke dalam perahu, dan seketika juga perahu itu sampai ke pantai yang mereka tujui.
Poin yang didapat:
#1 Pada bagian awal dikatakan bahwa Tuhan Yesus memerintahkan murid-muridNya untuk naik perahu dan pergi mendahuluiNya. Saya mencoba memahami bahwa tulisan ini dibuat dari sudut pandang para murid-murid, yang mana dapat diimplikasikan:
- Murid-murid diminta melakukan sesuatu oleh Tuhan, tetapi mereka merasa tidak mendapat penyertaanNya, dimana Tuhan lebih memilih untuk ber-acara dalam hidup orang lain (mengurusi orang banyak), mereka pergi dengan DIPERINTAHKAN, dimana umumnya kata ini digunakan untuk mengekspresikan ketidak inginan (unwillingness).
- Selain itu murid-murid diperintahkan untuk pergi dengan naik perahu, saya melihat bahwa ini merupakan hal yang sangat tidak nyaman secara daging, dimana mereka baru saja mendarat sebelumnya (Matius 14:14; Markus 6:34), lalu belum ada sehari (24 Jam) mereka merasakan daratan (kestabilan), mereka sudah diperintahkan untuk masuk ke perairan lagi (terombang-ambing).
- Kemudian Yesus pun tidak semerta-merta langsung menyusul murid-murid, Yesus terlebih dahulu naik ke bukit untuk berdoa seorang diri. Waktu yang dihabiskan Yesus untuk berdoa sendiri cukup lama, hingga dikatakan dalam Yohanes 6:17 bahwa Ketika hari sudah gelap Yesus belum juga datang mendapatkan mereka. Disini terlihat bahwa murid-murid begitu khawatir, bukan khawatir terhadap Yesus yang terpisah dari mereka, namun khawatir akan diri mereka sendiri karena mereka sedang terombang-ambing dengan hebat karena angin kencang menerpa mereka dalam perjalanan itu.
- Murid-murid diombang-ambingkan oleh angin sakal atau disebut juga angin haluan, yaitu angin yang bertiup dari depan arah kapal. Angin ini menghambat perjalanan perahu, membuat murid-murid sulit untuk maju dalam pelayaran mereka, hingga membuat mereka begitu susah payah mendayung untuk dapat maju (Markus 6:48). Hingga sekitar jam 3 malam murid-murid baru berhasil maju hingga 2-3 mil (up to 4.8 KM) saja (Yohanes 6:19; Markus 6:48).
#2 Tuhan menghampiri para murid-murid di atas perahu dengan cara berjalan di atas air. Hal ini membuat para murid-murid begitu ketakutan (Matius 14:26; Yohanes 6:19; Markus 6:49-50). Mereka bahkan mengira pribadi yang menghampiri mereka adalah hantu dan mulai berteriak-teriak.
- Terkadang ditengah kekhawatiran dan ketakutan kita akan masalah yang sedang kita hadapi, kita menjadi begitu tertutup dengan cara Tuhan menolong kita. Kita malah menjadi mudah takut dan anti terhadap hal-hal yang tidak masuk akal menurut kita. Padahal ada dikatakan dalam 1 Korintus 2:9 "Tetapi seperti ada tertulis: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia." Ayat ini berdasarkan Referensi Yesaya 64:4, ayat ini dalam terjemahan The Message dikatakan "Since before time began no one has ever imagined, No ear heard, no eye seen, a God like you who works for those who wait for him." Nantikanlah Tuhan dan bersiaplah dengan hati dan pikiran yang terbuka bahwa Dia sanggup melawat kita dengan cara apapun juga.
- Ketika menghadapi masalah dan ketakutan, manusia menjadi mudah berteriak-teriak. Secara biologis, ketika kita berteriak karena takut, suara yang kita keluarkan adalah salah satu jenis tindakan spontan untuk melindungi diri kita. Saat kita berteriak, tubuh kita bergerak, otot menegang, dan tubuh dengan sendirinya membangun proteksi. Dengan teriakan yang kita buat, sejenak kita bisa melupakan rasa takut. Hal ini menggambarkan bahwa manusia cenderung mengandalkan kekuatan diri sendiri untuk menghadapi masalah & ketakutan kita, bukan mengandalkan Tuhan. Orang yang mengandalkan Tuhan dalam segala sesuatu cenderung akan bersikap tenang dan bertekun dalam Doa, seruan yang dikeluarkan pun memiliki arah yang jelas, yaitu seruan yang teratur kepada Tuhan, bukan teriakan yang tidak jelas / tidak teratur (berteriak-teriak).
- Kita dalam kesulitan hidup sering menjadi orang yang kurang percaya (Matius 14:31) dan memiliki terlalu banyak asumsi dan mengandalkan kekuatan kita sendiri lalu mencobai Tuhan menggunakan pemahaman pribadi seperti yang dilakukan oleh Petrus. Bisa jadi murid-murid, termasuk Petrus mengira bahwa seharusnya Tuhan menghampiri mereka menggunakan perahu lainnya, yang mungkin lebih besar dan lebih mampu menghadapi badai yang sedang terjadi. Bagi mereka, tidak masuk akal jika Tuhan Yesus menghampiri mereka di tengah laut dengan cara berjalan di atas air.
- Petrus tahu bahwa Tuhan Yesus adalah Tuhan yang sanggup melakukan apapun, namun Petrus tidak yakin bila pribadi yang datang menghampiri mereka adalah Yesus itu sendiri, bahkan ketika Yesus sudah berkata "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!". Hal ini sering sekali terjadi dalam kehidupan rohani kita, dimana kita bimbang dan tidak bisa mengenali suara Tuhan yang disampaikan kepada kita, bahkan yang disampaikan secara pribadi oleh Tuhan.
- Untuk dapat mengenali suara Tuhan, kita perlu mengenali siapa Tuhan dengan lebih intim lagi. Hanya dengan bersekutu dengan Tuhan-lah kita punya pemahaman yang lebih baik akan siapa Tuhan dan apa yang menjadi keinginan dan tujuanNya dalam hidup kita. Jika kita mengetahui keinginanNya dalam hidup kita, tentu lebih mudah membedakan suaraNya, karena apa yang disampaikan olehNya tidak akan pernah membuat kita keluar dari tujuanNya.
- Ketika kita meminta tanda dari Tuhan untuk menguji hal yang membuat kita bimbang, kita pun seringkali kehilangan fokus, lalu mulai merasa-rasakan "tiupan angin" yang ada di sekeliling kita. Ketika kita memindahkan fokus kita dari Tuhan kepada masalah kita, saat itu pula benih ketakutan dalam diri kita tumbuh dan mengambil alih damai sejahtera yang Tuhan berikan. Itulah mengapa Petrus mulai tenggelam lagi.
- Mujizat berjalan di atas air yang dialami Petrus menjadi batal seketika imannya digoyahkan oleh "tiupan angin" yang mengalihkan fokus Petrus. Ibrani 11:1 berkata "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat." maka iman yang goyah menjauhkan kita dari jawaban / solusi yang sudah Tuhan berikan.
- Dalam hidup kita, sudah banyak sekali mujizat yang Tuhan kerjakan, banyak pertolongan yang Tuhan berikan, baik besar maupun kecil, namun bagi orang yang kurang percaya setiap kali masalah datang, ketakutan akan terus muncul, dan sekalipun mereka mengakui dan menyembah bahwa Yesus adalah Anak Allah (Matius 14:33) mereka tetap tidak mengerti dan tidak benar-benar mengenal siapa Yesus dan apa yang sanggup Ia kerjakan dalam hidup mereka. (Markus 6:52)
Comments